Sukses

Mana Lebih Berkhasiat, Obat Rematik Herbal atau Non Herbal?

Penggunaan obat rematik herbal kian populer. Bagaimana khasiatnya dan mampukah ia menggantikan obat rematik non herbal?

Klikdokter.com, Jakarta Ketakutan akan efek samping obat-obatan kimia membuat penggunaan obat rematik herbal kian populer. Namun, efektifkan penggunaannya dalam mengatasi rematik?

Rematik sebenarnya merupakan istilah yang umum digunakan untuk segala jenis kondisi terkait kelainan sendi. Pada kasus kronis seperti osteoartritis dan artirtis reumatoid, penderitanya harus mengonsumsi obat dalam jangka waktu panjang.

Konsumsi obat-obatan kimia terus-menerus akhirnya menimbulkan kekhawatiran tersendiri akan efek samping yang mungkin ditimbulkan. Hal ini membuat obat herbal, yang dipercaya oleh banyak orang jauh lebih aman.

Obat herbal memanfaatkan tanaman utuh dan ekstraknya untuk mengobati suatu penyakit. Sedangkan obat non herbal hanya mengambil zat aktif dari suatu tanaman, yang kemudian dibuat secara sintetis untuk kepentingan produksi massal.

Beberapa tanaman yang digunakan untuk mengobati rematik dan telah banyak diteliti ialah Devil’s claw (tanaman yang tumbuh di Namibia), esktrak Boswellia (kemenyan), dan Rosehip (buah dari biji bunga mawar).

Berbagai studi menemukan bahwa tanaman-tanaman tersebut dapat meredakan nyeri dan radang sendi. Ini karena adanya kandungan komponen yang mirip dengan obat-obatan non herbal golongan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) seperti ibuprofen, metampiron, piroksikam, dan ketoprofen.

Tanaman lain yaitu Tripterygium wilfordii (anggur dewa guntur/ Chinese thunder god vine), sering digunakan dalam pengobatan tradisional Cina untuk mengatasi artritis reumatoid (AR), penyakit autoimun yang menyerang sendi-sendi jari tangan dan kaki.

Selain nyeri dan meradang, sendi juga mengalami kerusakan dan perubahan bentuk bila tidak diobati.
Pengobatan AR biasanya membutuhkan kombinasi dari obat antinyeri dan DMARD (disease-modifying antirheumatic drug), yaitu obat untuk memperlambat laju penyakit dan kerusakan sendi. Tahun 2014, sebuah penelitian di Cina membandingkan efek metotreksat (MTX) salah satu jenis DMARD dengan Triptergium wilfordii Hook F (TwHF) pada 207 pasien dengan artritis reumatoid.

Pasien dibagi ke dalam tiga kelompok pengobatan yang diikuti selama 24 minggu atau 6 bulan. Kelompok pertama mendapat 12,5 mg MTX sekali seminggu, kelompok kedua mendapat 20 mg TwHF 3 kali sehari, dan kelompok ketiga mendapat kombinasi keduanya. Sebanyak 98% peserta penelitian belum pernah mendapatkan pengobatan untuk kondisi yang dialami.

Evaluasi pengobatan didasarkan pada perbaikan kondisi sebesar 50% dari waktu awal penelitian. Perbaikan ini dilihat dari jumlah sendi yang terlibat, intensitas nyeri, kecacatan, dan keparahan penyakit.

Para peneliti menemukan bahwa perbaikan kondisi sebesar 50% tercapai pada 46,5% kelompok yang diberikan MTX, sebanyak 55% pada kelompok yang diberikan TwHF, dan 77% pada kelompok yang diberikan terapi kombinasi.

Efek samping yang muncul tidak jauh berbeda pada tiap kelompok pengobatan, walaupun wanita yang mendapatkan TwHF mengalami haid yang tidak teratur.

Obat herbal relatif aman dan efektif untuk mengatasi penyakit rematik. Penggunaan obat herbal dalam jangka panjang juga berpotensi gangguan lambung, pembekuan darah, kesulitan tidur, melemahkan sistem kekebalan tubuh dan menyebabkan osteoporosis.

(DA/ RH)

0 Komentar

Belum ada komentar