Sukses

Kissing (Berciuman)

Sejatinya, berciuman adalah proses pembersihan rongga mulut secara alami. Aktivitas berciuman meningkatkan aliran air liur (saliva), yang akan membilas partikel-partikel sisa makanan yang tersisa

Oleh : drg. Martha Mozartha

Sejatinya, berciuman adalah proses pembersihan rongga mulut secara alami. Aktivitas berciuman meningkatkan aliran air liur (saliva), yang akan membilas partikel-partikel sisa makanan yang tersisa di dalam mulut. Ion-ion mineral yang ada dalam saliva juga ikut membantu proses demineralisasi (peletakan kembali mineral-mineral gigi yang hilang) pada gigi yang mengalami karies dini. Meski demikian bukan berarti kegiatan berciuman dapat menggantikan sikat gigi ataupun flossing.

Tidak sekedar itu saja, ternyata berciuman yang dilakukan secara intens dapat melatih otot muka, karena pada saat berciuman cukup banyak otot wajah yang terlibat sehingga dampaknya seseorang dapat tampak bahagia dan muda. Selain itu, berciuman juga dapat membawa kepada ketenangan dan kondisi yang rileks, bila dilakukan dengan penuh perasaan kepada pasangan. Hal ini disebabkan karena keluarnya hormon-hormon tertentu saat berciuman termasuk oksitosin yang memberi efek nyaman dan menenangkan.

Tapi hati-hati, jangan asal berciuman.

Di balik efek positif tersebut, berciuman juga dapat menyebarkan penyakit yang bersumber dari bakteri dan virus bila dilakukan asal-asalan dan dengan sembarang orang. Pada saat berciuman, ada beberapa organ di sekitar wajah yang ikut terlibat, yaitu terutama mulut dan hidung.  Virus dan bakteri yang ada pada saliva (liur) atau darah seseorang dapat disebarkan ke orang lain melalui ciuman, dan beberapa penyakit lebih mudah ditularkan melalui cara ini daripada penyakit lain.

Penyakit yang paling umum adalah flu atau infeksi saluran pernafasan bagian atas (ISPA). Flu dapat disebarkan dari udara atau kontak langsung dengan sekresi orang yang sedang flu, termasuk dari cairan mulut, hidung dan tenggorokannya.

Selain itu ada juga yang dikenal sebagai “kissing disease” yang disebabkan oleh Epstein-Barr virus. Penyakit ini juga disebut “mononukleosis” yang disebarkan melalui liur dan infeksi dapat terjadi melalui kontak langsung dengan penderita saat berciuman. Gejalanya cukup serius, karena virus ini juga dapat menyebabkan radang otak. Selain Epstein-Barr, virus lain yang termasuk dalam famili herpes yaitu HSV (Herpes Simplex Virus) dan Varicella-zoster yang menyebabkan penyakit cacar juga dapat ditularkan melalui kontak langsung selama berciuman.

Tak hanya itu, HPV (Human Papilloma Virus) juga dapat ditularkan melalui berciuman, terutama cara berciuman dengan mulut terbuka yang sering disebut dengan “French kissing” dan seks oral. Virus ini dikaitkan dengan gonorrheal pharyngitis yang merupakan penyakit yang ditransmisikan secara seksual berupa infeksi di tonsil dan bagian belakang tenggorokan. Tidak semua kasus menimbulkan gejala yang nyata, namun infeksi ini dapat mengarah kepada kanker mulut yang baru akan timbul 10-20 tahun ke depan.

Salah satu contoh penyakit yang disebabkan bakteri dan dapat disebarkan melalui aktivitas berciuman adalah penyakit meningococcal yang merupakan kondisi berbahaya dan dapat mengancam nyawa, termasuk peradangan yang terjadi pada selaput otak (meningitis). Bakteri ini dapat tersebar melalui kontak langsung atau dari udara. Namun dari salah satu penelitian dikatakan bahwa hanya kegiatan berciuman yang dalam dan intens yang dapat menjadi faktor resiko dari penyakit ini.

Kesimpulannya, tidak ada salahnya berciuman apalagi bila dilakukan dengan setia hanya pada pasangan. Yang penting, selalu jaga kebersihan gigi dan mulut, dan sebisa mungkin hindari berciuman saat pasangan sedang menderita penyakit yang disebabkan virus dan bakteri, yang dapat disebarkan melalui cairan mulut, hidung dan tenggorokan seperti yang dicontohkan di atas.[](MM)
 

0 Komentar

Belum ada komentar