Sukses

Anak Susah Tidur Karena Alergi? Ini Solusinya

Tidak tega rasanya ketika melihat anak sulit tidur akibat batuk-pilek. Akibatnya, keesokan harinya ia masih mengantuk dan sulit berkonsentrasi di sekolah. Lalu, bagaimana cara mengatasi keadaan ini?
Waktu tidur yang cukup dan berkualitas sangat penting untuk menjaga kesehatan fisik dan mental, baik anak maupun dewasa. Pada anak, tidur sangat penting untuk membantu proses belajar dan perkembangan otak. Untuk diketahui, tidur yang kurang dan tidak berkualitas diketahui dapat menurunkan daya tahan tubuh, memperlambat penyembuhan, mengganggu proses belajar, serta memperburuk mood.

Gangguan Tidur Karena Alergi

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Asthma and Allergy Foundation of America, 59% orang yang memiliki alergi mengalami gangguan tidur akibat gejala alergi tersebut.

Bersin, batuk, hidung tersumbat, serta mata yang berair dan gatal merupakan beberapa gejala alergi yang dapat mengganggu tidur anak. Alergi yang paling sering menyebabkan gangguan tidur adalah rinitis alergi dan asma.

Rinitis Alergi dan Asma

Rinitis alergi merupakan kelainan pada hidung yang dilatar belakangi oleh alergi. Gejalanya meliputi bersin-bersin di pagi hari, hidung meler atau tersumbat, serta mata yang gatal dan berair. Reaksi alergi dapat terjadi apabila pasien menghirup alergen tertentu, seperti debu, tungau, serbuk sari bunga, jamur, dan bulu hewan.

Anak yang terlahir dengan bakat alergi dapat memiliki rinitis alergi dan asma sekaligus. Gejala asma juga dapat muncul akibat alergen yang sama dengan yang mencetuskan rinitis alergi. Apabila terpapar, akan muncul gejala batuk dan sesak napas yang disertai mengi.

Jangan Sepelekan Gangguan Tidur

Walaupun anak yang alergi merasa tidurnya cukup (atau Anda sebagai orangtua pun berpikir demikian), ternyata mereka tetap berisiko mengalami lelah sepanjang hari.

Banyak studi menunjukkan betapa terganggunya tidur akibat gejala alergi. Karena tidur yang terganggu, anak akan bangun dengan kurang segar, lelah, dan mengantuk.

Akibatnya, anak cenderung sulit berkonsentrasi dan sulit membentuk memori baru ketika menerima pelajaran di sekolah. Anak juga akan merasa lemas dan kurang bertenaga. Bahkan, dalam jangka panjang dapat menyebabkan penurunan IQ, depresi, dan penurunan kualitas hidup secara keseluruhan.

Atasi Secepatnya

Pertama dan terpenting, Anda harus mengenali pencetus alergi anak. Apakah debu, tungau, bulu hewan, jamur, udara dingin? Setelah mengetahui pencetusnya, anak harus menghindari alergen tersebut agar gejala alergi tidak timbul kembali.

Jika alergi anak disebabkan oleh debu dan tungau, Anda harus rajin membersihkan rumah terutama kamar tidurnya. Mengganti seprai dan selimut, mencuci gorden, menyapu dan mengepel lantai, dan sebagainya. Sebaiknya Anda juga tidak menaruh karpet dan boneka berbulu yang dapat menyimpan debu di kamar anak.

Apabila biang keladinya adalah bulu hewan, Anda disarankan untuk tidak memelihara hewan di rumah. Jika sudah telanjur, hewan kesayangan tersebut tidak boleh diizinkan masuk ke kamar anak.

Apabila anak sensitif dengan udara dingin, pastikan agar suhu penyejuk ruangan tidak melebihi batas yang dapat ditoleransi olehnya. Anda juga harus membersihkan penyaring penyejuk udara secara berkala untuk menghindari tumbuhnya jamur.

Terapi Dokter

Apabila penanganan di rumah belum berhasil, dan gejala yang dialami pun berat, jangan ragu untuk segera berkonsultasi kepada dokter.

Gejala alergi dapat diringankan dengan obat-obatan yang diresepkan oleh dokter. Mulai dari semprot hidung yang berisi cairan garam fisiologis, tetes pelega hidung tersumbat, obat minum antihistamin, hingga semprotan hidung yang berisi steroid.

Jika Anda belum yakin dengan pencetus alergi anak, dokter juga dapat merekomendasikan pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui penyebab alergi.

0 Komentar

Belum ada komentar