Sukses

Kenapa Tidak Boleh Memaksa Anak untuk Makan Banyak?

Ada anggapan bahwa memaksa anak untuk makan banyak akan membuatnya terbiasa dengan porsi makan tersebut. Apakah benar demikian? Simak penjelasan lengkapnya di sini.

Banyak ibu merasa khawatir apakah nutrisi yang diterima anak sudah cukup apa belum, sehingga cenderung memberikan porsi makan yang cukup banyak. Selain itu, umumnya ibu akan merasa senang apabila anaknya makan banyak dan lahap. Alasan di balik ini tidak lain adalah adanya kekhawatiran tidak tercukupinya kebutuhan nutrisi anak.

Masalah anak susah makan yang banyak terjadi pada anak lain juga menjadi latar belakang hal ini. Ada anggapan bahwa memaksa anak untuk makan banyak akan membuatnya terbiasa dengan porsi makan tersebut. Apakah benar demikian?

Makan sebenarnya merupakan proses yang sejak dini sudah menempatkan tanggung jawab kepada anak. Yaitu tanggung jawab anak untuk menentukan seberapa banyak dan apa yang ingin dia makan, menentukan kapan makan yaitu ketika merasa lapar, dan menentukan berhenti ketika merasa kenyang.

Di sisi lain, tanggung jawab untuk menyediakan makanan yang akan dimakan anak merupakan tanggung jawab orangtua atau pengasuh, termasuk di dalamnya penentuan porsi makan anak. Penentuan porsi yang diberikan merupakan hal yang penting, mengingat adanya kemungkinan terjadi obesitas atau berat badan berlebih di masa yang akan datang—obesitas tentu membawa banyak risiko penyakit lain seperti jantung koroner, stroke, diabetes, dan lain-lain.

Pola Makan Anak Tumbuh dari Rumah

Menurut penelitian Johnson dkk, porsi makan yang diberikan kepada anak akan menentukan pola makannya pada masa yang akan datang.

Pola pikir anak terhadap porsi yang biasa diberikan ini dapat menetap dan bisa bertambah seiring dengan berjalannya waktu. Padahal dengan memberikan porsi makan yang banyak, secara tidak langsung menciptakan ‘lingkungan’ ke arah berat badan berlebih pada kemudian hari.

Hal ini dibuktikan juga melalui sebuah penelitian yang mengatakan bahwa 40% orang dewasa terbiasa menentukan porsi yang mereka makan karena faktor kebiasaan, bukan lagi karena faktor masih merasa lapar atau sudah merasa kenyang. Bahaya sekali apabila porsi yang sudah dibiasakan sedari dini ini ternyata bukan merupakan porsi yang seharusnya, tetapi porsi yang berlebihan.

Jadi, orangtua dan pengasuh merupakan mereka yang ikut berperan menentukan pola kebiasaan ini sedari dini. Oleh sebab itu, karena sebenarnya anak sudah mampu menentukan dirinya lapar atau kenyang sedari dini, maka sebaiknya orangtua atau pengasuh mengikuti sinyal-sinyal yang diberikan anak. Yakni dengan dengan menghentikan pemberian makan ketika anak sudah memberikan sinyal bahwa dirinya merasa kenyang, dan sebaliknya memberikan makan ketika anak merasa lapar.

0 Komentar

Belum ada komentar