Sukses

Lima Penyakit yang Memengaruhi Kecerdasan Anak

Kenali penyakit-penyakit tertentu yang dapat memengaruhi kecerdasan anak Anda.
Terdapat beberapa penyakit yang dapat memengaruhi tumbuh kembang anak – dan secara langsung maupun tak langsung bisa berakibat negatif kepada kecerdasan otak mereka.

Penyakit-penyakit tersebut di antaranya penyakit bawaan seperti sindrom Down, cerebral palsy, dan mikrosefali. Infeksi otak seperti meningitis dan ensefalitis juga dapat menimbulkan kerusakan otak.

Selain itu, penyakit yang sepertinya “kurang berbahaya” dan tidak berhubungan langsung seperti alergi pun dapat memengaruhi kecerdasan anak.

Sindrom Down

Sindrom Down merupakan suatu kelainan bawaan yang disebabkan oleh kelainan kromosom. Anak yang terlahir dengan sindrom Down memiliki beberapa keterbatasan, di antaranya inteligensi yang lebih rendah, tonus otot yang lebih lemah, dan berbagai masalah kesehatan lainnya seperti kelainan jantung.

Rata-rata anak dengan sindrom Down memiliki IQ (Intelligence Quotient) berkisar antara 50-80 (IQ pada populasi anak normal adalah 70-130). Selain kecerdasan yang rendah, anak penyandang sindrom Down juga memiliki kesulitan dalam mengikuti pelajaran di sekolah biasa, sehingga sering kali perlu bersekolah di lembaga pendidikan khusus.

Mereka lebih lama dalam menangkap pelajaran, memiliki keterampilan dan perkembangan motorik yang terhambat, kesulitan dalam berbahasa dan berhitung, serta memiliki memori yang lemah.

Sejauh ini belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan penyakit bawaan ini, selain dengan mencegahnya. Batas usia ibu hamil yang disarankan adalah 35 tahun, karena berbagai penelitian menemukan bahwa insiden kelahiran anak sindrom Down meningkat pada ibu yang melahirkan di atas usia tersebut.

Cerebral Palsy

Cerebral palsy adalah suatu kelainan saraf yang terjadi pada bayi atau anak kecil, di saat saraf yang mengatur pergerakan tubuh, koordinasi otot, dan keseimbangan terganggu.

Gejala-gejala cerebral palsy seperti pergerakan abnormal, kekakuan otot, kejang, penurunan pendengaran dan penglihatan, serta ketidakmampuan mengontrol buang air ini timbul sebelum tiga tahun pertama kehidupan.

Cerebral palsy dapat disebabkan oleh faktor-faktor yang timbul saat ibu mengandung, seperti infeksi otak dan kecelakaan yang menyerang otak.

Sejauh ini belum ada pengobatan untuk menyembuhkan penyakit ini. Walaupun stem cell telah dikembangkan sebagai terapi cerebral palsy, masih diperlukan penelitian dan pengembangan lebih lanjut untuk hasil yang memuaskan.

Mikrosefali

Mikrosefali adalah suatu kelainan bawaan ketika ukuran kepala bayi lebih kecil daripada bayi-bayi pada umumnya. Ukuran kepala yang kecil menandakan ukuran otak yang kecil pula, dengan demikian dapat memengaruhi tumbuh kembang dan kecerdasan anak.

Mikrosefali timbul akibat adanya gangguan pertumbuhan otak janin sejak dalam kandungan, sehingga ukurannya tidak mencapai yang seharusnya. Mikrosefali dapat berdiri sendiri ataupun hadir dalam kombinasi bersama dengan kelainan bawaan lainnya.

Bayi dengan mikrosefali dapat mengalami kejang, keterlambatan tumbuh kembang, penurunan kecerdasan, gangguan pergerakan dan keseimbangan, kesulitan menelan, serta penurunan pendengaran dan penglihatan.

Sejauh ini belum ada pengobatan untuk menyembuhkan keadaan yang akan dialami seumur hidup oleh sang bayi ini, selain dengan mencegah berbagai faktor risiko yang dapat menyebabkan mikrosefali. Hal-hal yang bisa menyebabkan mikrosefali antara lain infeksi rubella, toxoplasma, cytomegalovirus, virus Zika, gizi buruk, serta paparan alkohol dan obat-obatan selama kehamilan.

Meningitis dan Ensefalitis

Meningitis adalah infeksi selaput otak, sementara ensefalitis adalah infeksi otak.

Meningitis dapat disebabkan oleh virus, seperti enterovirus, virus herpes simpleks, dan arbovirus. Selain itu, meningitis juga dapat disebabkan oleh bakteri, yaitu Neisseria meningitidis, Streptococcus pneumoniae, dan Mycobacterium tuberculosis. Sementara itu, ensefalitis umumnya disebabkan oleh virus.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak yang sembuh dari meningitis dan ensefalitis mengalami gejala sisa gangguan otak, berupa gangguan pergerakan motorik, retardasi mental, epilepsi, dan gangguan belajar serta pemusatan perhatian.

Alergi

Berdasarkan berbagai penelitian, anak yang memiliki alergi dapat mengalami gangguan tumbuh kembang dan perilaku. Anak dengan alergi makanan – terutama beberapa makanan sekaligus – rentan mengalami kurang gizi, sehingga memengaruhi kecerdasannya.

Gejala asma dan rinitis alergi seperti batuk, bersin, sesak, dan hidung tersumbat dapat mengganggu tidur, sehingga anak akan terbangun keesokan harinya dalam keadaan yang kurang segar. Hal ini dapat memengaruhi konsentrasi dan performanya di sekolah. Kurang tidur dapat menyebabkan gangguan perilaku dan kecerdasan anak. Anak dapat menjadi agresif, mudah marah, dan hiperaktif.

Oleh karena itu, penanganan dan pengobatan alergi yang tepat sangatlah penting bagi tumbuh kembang anak. Mengenali dan menghindari pencetus alergi sejak dini adalah hal yang penting untuk dilakukan, selain mengonsumsi obat-obatan dari dokter.

0 Komentar

Belum ada komentar