Sukses

Penyakit yang Dapat Menular Melalui ASI

Penyakit yang sedang dialami oleh sang ibu sering kali membuat proses menyusui menjadi terhambat karena takut penyakit tersebut menular ke anak. Ketahui lebih dalam mengenai penyakit yang dapat menular melalui ASI bersama dr. Dyah Novita Anggraini di sini

Setiap orangtua pastinya ingin memberikan segala sesuatu yang terbaik bagi sang buah hati. Untuk tujuan itulah, memberikan ASI sejak lahir bagi buah hati merupakan pilihan yang sangat tepat.

Namun, banyak ibu yang khawatir untuk menyusui bayinya ketika sang ibu sedang sakit. Pasalnya, sang ibu mungkin berprasangka bahwa sang bayi dapat tertular penyakit tertentu melalui ASI yang diberikan ketika sang ibu sedang sakit.

Perlu Anda ketahui bahwa tidak semua penyakit yang di derita oleh ibu akan tertular kepada bayi melalui ASI. Penularan virus atau mikroorganisme (bakteri) melalui ASI sangat jarang terjadi dibandingkan dengan penularan saat persalinan atau melalui kontak langsung dengan lingkungan setelah melahirkan.

ASI atau Air Susu Ibu bukan merupakan suatu media penularan bagi sebagian besar infeksi virus yang dialami oleh ibu kepada sang buah hati. Oleh karena itu, meneruskan untuk tetap menyusui, walaupun sedang sakit, merupakan sebuah tindakan yang sangat baik bagi ibu dan bayi.

Pada sebagian kasus ibu menyusui dengan kemungkinan terkena infeksi, menghentikan tindakan menyusui hanya akan mengurangi asupan nutrisi dan manfaat kekebalan dari ASI kepada sang buah hati.

Berikut penjelasan beberapa penyakit infeksi yang membuat ibu khawatir untuk menyusui anaknya jika menderita penyakit terkait:

1.      Infeksi HIV

Jika ibu menderita penyakit ini, ibu tidak diperbolehkan untuk menyusui anaknya secara mutlak karena virus dapat masuk ke dalam ASI. Ibu dengan HIV positif yang menyusui bayinya dapat meningkatkan risiko penularan sebesar 4%-22%.

2.      Infeksi Citomegalovirus (CMV)

Infeksi cytomegalovirus (CMV) pada bayi dapat terjadi melalui kontak langsung atau melalui cairan tubuh saat melahirkan. Infeksi saat setelah lahir dapat terjadi melalui ASI atau kontak dengan cairan tubuh dari individu yang terinfeksi. Infeksi melalui ASI jarang menyebabkan penyakit pada bayi yang cukup bulan. Oleh karena itu, jika Ibu ingin menyusui anaknya disarankan untuk melakukan konsultasi lebih lanjut dengan dokter anak.

3.      Infeksi Tuberculosis (TBC)

Jika ibu menderita penyakit tuberkulosis, bayi yang minum ASI ataupun yang minum susu formula memiliki risiko yang sama untuk tertular melalui saluran napas. Apabila ibu sudah mendapat pengobatan yang cukup selama dua minggu dan sudah dinyatakan tidak menular, maka ibu dapat melakukan kontak langsung dengan bayinya secara aman.

4.      Infeksi Hepatitis A (HAV)

Jika ibu menderita penyakit hepatitis A, ibu aman untuk menyusui bayi karena penyakit ini tidak menular melalui ASI. Namun, bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi HAV, disarankan untuk segera mendapatkan imunoglobulin dan imunisasi HAV. 

5.      Hepatitis B

Jika ibu menderita penyakit hepatitis B, ibu aman untuk menyusui bayi. Namun, bayi Anda dalam waktu 24 jam harus diberikan HBIG (hepatitis B immune globulin) dan diteruskan dengan pemberian vaksin hepatitis B setelah bayi lahir. Hal ini terbukti dapat mencegah  penularan  pada  lebih dari 95% kasus ibu penderita hepatitis B.

6.      Hepatitis C

Menyusui bukan merupakan kontraindikasi bagi ibu dengan infeksi HCV, walaupun diduga bahwa puting lecet atau berdarah pada ibu penderita hepatitis C dapat meningkatkan risiko penularan. Namun, manfaat pemberian ASI pada anak lebih tinggi daripada kemungkinan risiko terjadinya penularan. Jadi, Ibu yang menderita hepatitis C disarankan untuk dapat tetap menyusui bayinya. Pasalnya, dengan tetap menyusui maka penyebaran hepatitis C dari ibu ke bayi dapat dicegah, karena ASI yang diberikan mengandung antibodi untuk meningkatkan pertahanan tubuh anak terhadap infeksi hepatitis C di masa yang akan datang.

7.      Infeksi virus varicella-zoster (VZV)

Infeksi ini dapat menyebabkan varicella (cacar air) pada infeksi primer (infeksi pertama kali) dan Herpes Zoster pada infeksi reaktivasi (infeksi cacar berulang). Oleh karena itu, bayi harus dipisahkan dan dirawat oleh orang lain selama ibu masih dalam periode menular, dan bayi diberikan ASI perah. ASI perah dapat diberikan kepada bayi jika tidak ada luka cacar kulit pada payudara atau setelah imunoglobulin varicella-zoster telah diberikan kepada bayinya.

8.      Infeksi Herpes Simpleks Virus (HSV)

Jika ibu menderita herpes simpleks maka ibu aman jika ingin menyusui bayi, dengan syarat luka tidak terdapat di daerah payudara. ASI perah, tanpa ada kontaminasi luka pada payudara ibu dan tanda lain infeksi HSV, dapat diberikan dengan menggunakan perlindungan yang aman, seperti menutupi daerah lesi/luka menggunakan baju khusus dan rajin mencuci tangan.

9.      Kanker

Ibu yang mengalami kanker tidak dilarang untuk menyusui anaknya. Namun, jika ibu sedang mengalami pengobatan kanker memang disarankan untuk tidak menyusui anaknya sementara waktu. Pasalnya, obat yang diberikan pada pasien kanker dapat masuk melalui ASI dan dapat menimbulkan dampak berbahaya bagi bayi karena dosisnya obat kanker tersebut sangat tinggi.

0 Komentar

Belum ada komentar