Sukses

Mitos Tentang Otak Kanan dan Otak Kiri

Selama ini orang dinilai lebih sering menggunakan salah satu sisi otaknya, yakni antara otak kanan atau otak kiri. Tapi sebenarnya, para ilmuwan kurang menyetujui teori dominasi otak ini.

“Anak yang dominan otak kiri cocok menjadi ilmuwan, sedangkan anak dengan dominasi otak kanan cocok menjadi seniman.” Anda mungkin pernah membaca atau mendengar pernyataan seperti itu. Pendapat bahwa anak yang dominan otak kanan cenderung lebih kreatif, spontan, dan artistik, sedangkan otak kiri lebih analitis, detail, dan logis memang telah lama ada.

Namun kenyataannya, ilmu pengetahuan tidak pernah benar-benar mendukung teori dominasi otak. Para ilmuwan dari University of Utah telah mematahkan mitos tersebut dengan menganalisis lebih dari seribu otak. Mereka menemukan tidak adanya bukti bahwa orang memiliki dominasi otak kanan atau otak kiri.

Preferensi untuk menggunakan salah satu bagian otak lebih dari bagian lainnya dalam beberapa fungsi, yang disebut ilmuwan sebagai lateralisasi, memang benar adanya. Sebagai contoh, kemampuan bahasa pada sebagian besar orang yang menggunakan tangan kanan berasal dari otak kiri. Namun, hal tersebut tidak serta-merta membuat seorang pembicara hebat menggunakan otak kirinya lebih banyak daripada otak kanan.

Otak kanan dan otak kiri bekerja secara simultan. Bahkan, hubungan antara seluruh bagian otak memungkinkan manusia untuk dapat menggunakan proses berpikir kreatif sekaligus analitik. Memang benar jika otak kanan mengontrol bagian kiri tubuh dan sebaliknya. Oleh sebab itu, bila seseorang mengalami cedera otak bagian kiri, maka dapat menyebabkan gangguan pada sisi tubuh sebelah kanan.

Kesalahan orangtua dan pengajar terbesar ialah mengotakkan gaya belajar anak. Sistem pendidikan di Indonesia sering menitikberatkan pada kemampuan otak kiri (pintar berhitung, membaca, menulis), padahal kemampuan seni pun tak kalah pentingnya. Alih-alih memikirkan dominasi otak pada anak, sebaiknya orangtua lebih berfokus pada pengoptimalan fungsi otak anak. Caranya, teruslah memberikan stimulasi yang tepat dan sesuai usia agar tumbuh kembang anak maksimal. 

Baca Juga:

0 Komentar

Belum ada komentar