Sukses

Mengayun Bayi Terlalu Keras Bisa Sebabkan Sindrom Ini

Pernahkah Anda mendengar istilah shaken baby syndrome? Jika Anda sering mengayun bayi terlalu keras, waspadalah terhadap sindrom tersebut.

Bermain bersama bayi adalah hal yang menyenangkan. Anda mungkin sering mengungkapkan kegemasan dengan menimang, mengayun, atau melemparkan ke udara. Hati-hati, perlakuan tersebut –terutama mengayun dan melempar terlalu keras– dapat berbahaya bagi bayi, bahkan berujung pada kematian. Penyebabnya adalah shaken baby syndrome.

Apa itu shaken baby syndrome?

Shaken baby syndrome merupakan tindak kekerasan pada anak, baik disengaja maupun tidak, yang diakibatkan oleh ayunan/guncangan hebat. Sindrom ini merupakan salah satu penyebab utama kematian dan gangguan saraf pada anak. Sebesar 95% cedera otak dan 64% cedera kepala pada anak berusia kurang dari 1 tahun disebabkan oleh tindak kekerasan ini.

Kebiasaan mengayun bayi terlalu keras dan melempar bayi ke udara bisa menyebabkan shaken baby syndrome. Karena saat dilemparkan ke udara, kepala bayi mengalami sentakan dan perubahan yang mendadak. Perubahan posisi mendadak ini dapat menyebabkan robekan pembuluh darah dan mengakibatkan perdarahan otak yang sangat berbahaya.

Selain mengayun dan melempar bayi ke udara, tindakan yang juga dapat menyebabkan shaken baby syndrome adalah mengguncang-guncang tubuh bayi. Misalnya, saat kesal pada waktu bayi terus-menerus menangis atau sedang rewel.

Bagaimana gejala-gejala shaken baby syndrome?

Gejala yang disebabkan shaken baby syndrome ini sangat bervariasi dari ringan hingga sangat berat. Gejala ringan biasanya tidak disadari dan akan membaik seiring dengan waktu. Akan tetapi, pada gejala yang berat dapat menyebabkan anak menjadi terganggu kesadarannya, kejang, hingga kematian.

Bagaimana mendeteksi terjadinya shaken baby syndrome?

Setelah mengalami guncangan hebat, anak umumnya menjadi rewel. Bahkan cenderung banyak tidur, muntah-muntah, dan tidak mau makan. Gejala ini dapat menetap selama beberapa hari atau beberapa minggu. Perdarahan otak dapat menyebabkan penurunan kesadaran, kejang, muntah, malas menyusui, dan kontak yang berkurang. Kerusakan otak berat dapat menyebabkan gangguan pernapasan sampai berhentinya napas.

Gejala yang tidak spesifik dan kerusakan otak yang tidak terdeteksi dapat berlangsung lama tanpa diketahui, namun menyebabkan gangguan belajar atau gangguan perilaku saat anak lebih besar.

[RS/RH]

Baca Juga:

0 Komentar

Belum ada komentar