Sukses

Anak Kurang Empati, Harus Bagaimana?

Anak Anda terlihat kurang memiliki kepedulian atau empati? Jangan khawatir! Empati dapat diasah dengan berbagai cara.

Mengajarkan empati pada anak bukanlah perkara mudah. Seperti kertas putih, apa yang diajarkan dan didapat anak dari lingkungannya akan sangat berpengaruh dalam membentuk kepribadiannya termasuk rasa empati.

Apa itu empati?

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), empati didefinisikan sebagai keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain. Dengan kata lain, ia mengerti bagaimana perasaan seseorang ketika menghadapi situasi tertentu baik itu sedih, marah, kecewa, maupun bahagia.

Empati ini bukan kemampuan yang serta-merta dimiliki seseorang, melainkan ilmu yang harus diasah dan dibentuk sejak kecil. Jangankan anak-anak, tak semua orang dewasa dapat menerapkan ilmu empati ini dalam kesehariannya.

Namun demikian, bukan berarti tidak mungkin membangun rasa empati pada pribadi seorang anak yang terlihat kurang memiliki rasa tersebut.

Bagaimana cara yang tepat untuk mengajarkan empati pada anak?

Empati sebagai fondasi dari rasa saling menghargai dan menghormati perlu diajarkan sejak dini.

Berikut adalah hal-hal yang bisa Anda terapkan:

  • Penuhi kebutuhan emosi anak di rumah

Penelitian yang dilakukan oleh Barnett pada tahun 1987 menunjukkan bahwa anak yang kebutuhan emosinya terpenuhi oleh orang terdekatnya memiliki rasa empati yang lebih besar. Berikan pelukan hangat saat anak terlihat murung atau sedih. Secara tidak langsung, sikap ini merupakan bentuk pengajaran empati juga pada anak.

  • Perhatikan keluhan anak

Terkadang orangtua tidak menganggap serius apa yang dilontarkan anak, termasuk saat anak bercerita tentang permasalahannya. Duduklah sejajar dengan anak. Dengarkan apa yang disampaikannya dengan sikap dewasa. Ada pepatah yang mengatakan bahwa orang bijak akan menaruh fokus pada apa yang disampaikan, bukan siapa yang menyampaikannya. Prinsip ini sangat baik bila diaplikasikan dalam berkomunikasi dengan anak.

Anak akan belajar bahwa ada perasaan nyaman bila keluhannya benar-benar didengarkan dan diperhatikan dengan saksama. Dengan demikian, ia juga akan berlaku yang sama dengan teman atau orang sekitarnya.

  • Memberikan respon dengan ekspresi

Berdasarkan teori empati oleh Hoffman’s (1979), sebenarnya anak berusia dua tahun pun sudah dapat memahami emosi yang dimiliki orang lain. Pemahaman inilah yang kemudian akan berkembang menjadi rasa empati. Hanya saja, refleksi dari rasa empati itu yang belum sesuai. Misalnya, ketika temannya menangis, ia akan menawarkan boneka kesayangannya atau botol minumannya –dua hal yang sebenarnya mungkin menenangkan dirinya tapi belum tentu menenangkan orang lain.

Salah satu cara untuk mengubah bentuk respon tersebut adalah dengan mengajarkan berbagai ekspresi. Tertawa, sedih, dan kecewa adalah berbagai ekspresi yang dapat ditunjukkan orang dewasa sebagai respon sikap anak. Sebagai contoh,  bila anak terlihat murung, Anda dapat menghampiri dengan ekspresi sedih. Ini menunjukkan bahwa Anda memahami apa yang sedang dirasakan anak. Dengan demikian, ia akan belajar juga bagaimana cara menanggapi berbagai situasi yang dihadapi orang sekitarnya. Sikap inilah yang akan menjadi cikal bakal respon empati yang bentuknya telah sesuai.

0 Komentar

Belum ada komentar