Sukses

Bolehkah Susu Menggantikan Porsi Makan Si Kecil?

Susu kerap digunakan untuk menggantikan bahan makanan utama anak. Susu memang mengandung zat gizi khususnya kalsium, tapi apakah dapat memenuhi kebutuhan nutrisi lainnya dengan sempurna? Baca penjelasan lengkapnya di sini.

Berdasarkan panduan Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) dalam “Guiding Principles for Complementary Feeding of The Breastfed Child”, setelah usia 6 bulan atau 180 hari ASI tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan nutrisi anak dengan sempurna.

Oleh karena itu, setelah ASI eksklusif 6 bulan selesai, dibutuhkan tambahan makanan sebagai usaha pemenuhan kebutuhan nutrisi anak. Bahan makanan tambahan ini haruslah bervariasi agar masing-masing kebutuhan vitamin, mineral, serta zat gizi lainnya dapat terpenuhi dengan sempurna.

Masa transisi dari ASI eksklusif ke makanan padat menjadi waktu yang sangat krusial, khususnya pada usia 6 hingga 24 bulan. Bila kebutuhan nutrisi pada rentang waktu tersebut tidak terpenuhi sempurna, anak bisa menjadi malnutrisi dan akan berdampak besar pada tumbuh kembangnya. Data dari WHO menunjukkan bahwa 2 dari 5 anak di negara berkembang memiliki perawakan pendek akibat tidak terpenuhinya kebutuhan nutrisi. Tentu hal ini tidak kita inginkan terjadi pada anak kita.

Bagaimana caranya agar kebutuhan nutrisi anak terpenuhi dengan sempurna?

Satu-satunya cara agar seluruh kebutuhan nutrisi, vitamin dan mineral anak terpenuhi dengan sempurna adalah dengan memberikan makanan dengan porsi cukup yang bervariasi jenisnya. Antara satu bahan makanan dengan bahan makanan yang lain memiliki kandungan yang berbeda-beda. Penyajian makanan dengan sumber yang bervariasi akan saling mengisi kekurangan nutrisi yang dikandung masing-masing bahan makanan.

Variasi bahan makanan ini harus selaras dengan frekuensi pemberian makan yang tepat. WHO merekomendasikan 2-3 kali pemberian porsi makanan utama di awal anak mulai MPASI. Frekuensi ini perlahan ditingkatkan hingga usia 12 bulan – di mana pada usia tersebut ia diharapkan mampu makan makanan padat sebanyak 3 kali sehari dan 2 kali camilan di antara makanan utamanya.

Bagaimana dengan pemberian susu anak?

Di awal mulai makanan padat, ASI masih menjadi sumber utama nutrisinya. Akan tetapi, seiring dengan bertambahnya usia anak, kebutuhan variasi nutrisinya sudah lebih besar sehingga sumber utama makanannya bukan lagi dari ASI atau susu pengganti ASI.

Pada anak yang berusia 12-23 bulan, susu hanya dapat memenuhi 35-40% kebutuhan energinya, sisanya harus terpenuhi dari makanan. Saat usia tersebut, susu umumnya hanya dikonsumsi 2-4 botol/hari @120-240 cc. Yang terpenting dalam makanan sehari-hari anak terdapat asupan karbohidrat, protein, lemak, sayur dan buah. 

Saat anak sulit makan, bolehkah menambahkan porsi susu sebagai pengganti makanannya?

Susu tidak bisa digunakan untuk menggantikan bahan makanan utamanya. Susu memang mengandung zat gizi khususnya kalsium, tapi tidak secara sempurna memenuhi kebutuhan nutrisi lainnya. Apabila saat anak sulit makan, dan kemudian porsi makanannya digantikan oleh susu, pada kemudian hari akan terbentuk pola makan yang buruk. Susu akan membuatnya kenyang, tapi tidak memenuhi kebutuhan nutrisinya dengan sempurna.

Walau demikian, sangatlah tidak bijak bila kemudian memaksa anak untuk makan. Bila anak tidak mau makan, sisihkan untuk sementara makanannya. Dalam Nationwide Children’s “Mealtime Success”, bila anak tidak mau makan, disarankan untuk tidak memberikan makanan apa pun sebelum waktu makan berikutnya. Diharapkan, saat waktu makan berikutnya tiba anak merasa lapar dan ia akan makan makanan  utamanya.

Beberapa sumber lain menyarankan untuk menawarkan anak makanannya kembali beberapa saat setelah ia menolak makanannya. Banyak cara yang dapat dilakukan sebagai solusi saat anak sulit makan, seperti menyajikan makanan dengan menarik atau membuat variasi pada jenis makanan, tapi susu sebagai pengganti makanan bukanlah pemecahannya.

0 Komentar

Belum ada komentar