Sukses

Sakit Kepala Disertai Pilek: Migrain atau Sinusitis?

Sakit kepala yang disertai dengan pilek merupakan sebuah keadaan yang membingungkan. Sebenarnya, sakit kepala yang disertai pilek merupakan gejala migrain atau sinusitis? Berikut ulasannya.

Saat Anda sakit kepala disertai pilek, hidung tersumbat, mata berair, mungkin sebagian besar dari Anda berpikir Anda sedang terkena sinusitis.

Tahukan Anda, ternyata 4 dari 5 orang yang berpikir dirinya terkena sinusitis karena sakit kepala di area dahi yang disertai pilek, dan mata berair sebenarnya menderita migrain?

Mispersepsi antara sinusitis dan migrain ini memang banyak terjadi di masyarakat. Sayangnya, terapi untuk migrain dan sinusitis ini sangat berbeda. Jadi, apabila tidak ditangani secara tepat, risiko kambuhnya penyakit tersebut tinggi.

Jadi, bagaimana cara membedakan sakit kepala yang disertai pilek karena sinusitis dan migrain? Berikut caranya:

Gejala dari migrain dapat menyerupai sinusitis, yaitu:

  1. Mata gatal dan berair
  2. Nyeri di sekitar dahi yang memberat dengan pergerakan

Namun, pada migrain biasanya disertai dengan:

  1. Mual atau muntah
  2. Sensitif terhadap suara dan cahaya
  3. Nyeri kepala satu sisi

Orang yang mengeluh sering sakit kepala dengan intensitas hebat biasanya mengalami migrain. 95% orang yang datang ke dokter dengan keluhan nyeri kepala hebat dan berulang umumnya karena migrain. Orang dengan sinusitis biasanya datang ke dokter bukan karena nyeri kepala, melainkan karena flu yang dialaminya. Setelah flu, baru sakit kepala datang.

Sinusitis terjadi akibat infeksi dan peradangan di rongga hidung yang kemudian mengakibatkan sumbatan, nyeri dan rasa penuh di dahi atau pipi. Sinusitis dapat diredakan dengan dekongestan, pereda nyeri dan irigasi hidung untuk mengurangi sumbatan sinus.

Antibiotik atau nasal steroid digunakan bila terjadi infeksi sekunder akibat bakteri atau infeksi kronik yang tidak kunjung membaik.

Mengatasi migrain tidak hanya bertujuan untuk meredakan gejala saat migrain tersebut menyerang, namun juga bertujuan untuk mengurangi kekambuhan dan keparahannya.

Triptan adalah salah satu jenis obat yang dapat digunakan saat migraine menyerang untuk mengurangi rasa nyeri. Obat lain yang dasarnya digunakan untuk mengobati epilepsy, depresi dan hipertensi dapat pula digunakan untuk mencegah kekambuhan migrain. Terapi hormon untuk mengatasi migrain biasanya digunakan pada migrain yang berhubungan dengan siklus menstruasi.

Selain itu, gaya hidup ternyata juga berpengaruh pada terjadinya migrain. Terapi yang dapat mengurangi stress, seperti olahraga, terapi relaksasi dapat pula digunakan untuk mencegah kekambuhan dan mengurangi beratnya serangan migrain. Yang juga tidak kalah pentingnya dalam mencegah kekambuhan migrain adalah dengan menghindari sesuatu yang dapat mencetuskan migrain tersebut.

Bila Anda mengalami serangan migrain, namun Anda mengiranya sebagai sinusitis dan mengonsumsi obat untuk nyeri sinus, mungkin gejala yang Anda alami akan menghilang sementara. Namun, setelah itu bukan tidak mungkin nyeri yang Anda rasakan lebih hebat dari sebelumnya. Inilah yang dinamakan “rebound effect”

Sebagian besar kasus sinusitis adalah infeksi virus yang akan sembuh dengan sendirinya karena imunitas pada orang tersebut. Namun, apabila sinusitis ini disertai oleh bakteri yang kita kira sebagai migraine, maka sinusitis ini akan sulit sembuh dengan sempurna. Terlebih, saat sinusitis bakterial ini menyerang sinus-sinus yang dekat dengan tengkorak maka infeksi dapat menyebar ke dalam otak.

Oleh karena itu, Anda sebaiknya mencari bantuan ke dokter bila sakit kepala yang Anda alami tidak kunjung membaik setelah Anda mengonsumsi obat antinyeri, seperti parasetamol, asam mefenamat, ataupun metampiron. Selain itu, bila sakit kepala kemudian mengakibatkan pandangan kabur, lemas pada otot, kaku dan nyeri pada leher, Anda juga sebaiknya memeriksakan diri langsung ke dokter.

0 Komentar

Belum ada komentar