Sukses

Ini Bahaya Virus Zika bagi Janin dan Ibu Hamil

Virus Zika kini tengah menghantui ibu hamil, karena dianggap dapat mengancam kondisi janin maupun ibu hamil. Apa saja bahaya virus Zika yang perlu diwaspadai ini?

Virus Zika masih menyisakan banyak pertanyaan yang belum terjawab. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyatakan bahwa pihak mereka masih melakukan penelitian lebih lanjut mengenai virus ini, termasuk hubungan antara virus Zika dengan kondisi mikrosefali pada bayi. 

Virus Zika & Mikrosefali pada Bayi

Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO), virus Zika pertama kali ditemukan pada monyet di Uganda pada tahun 1947. Virus ini dapat ditularkan melalui nyamuk Aedes. Selain lewat gigitan nyamuk, virus Zika juga bisa menjangkit dari ibu ke janin.

Virus Zika mulai menghebohkan dunia saat Brasil melaporkan bahwa ada peningkatan kasus mikrosefali (4.000 kasus) dari bulan Oktober 2015 hingga Januari 2016 bila dibandingkan dengan tahun 2014 (147 kasus).

Mikrosefali merupakan kelainan kongenital di mana ukuran kepala bayi lebih kecil dari yang seharusnya. Bayi dengan mikrosefali dapat tumbuh normal, namun pada sebagian besar kasus dapat muncul gangguan pertumbuhan seperti gangguan motorik, gangguan bicara, kejang, hingga gangguan intelektual. Selain mikrosefali, virus Zika juga dikaitkan dengan abnormalitas otak lainnya.

Pada umumnya, mikrosefali atau kelainan otak lainnya baru dapat dideteksi pada usia kehamilan lanjut, namun pada usia kehamilan 18-20 minggu juga sudah bisa dilihat. Untuk mendeteksinya diperlukan pemeriksaan seperti USG hingga amniocentesis.   

HIngga saat ini, CDC tidak dapat memastikan secara pasti hubungan antara virus Zika dengan mikrosefali. Namun, pada beberapa bayi baru lahir dengan mikrosefali di Brasil, memang ditemukan adanya virus Zika.

Virus Zika & Ibu Hamil

Gejala infeksi virus Zika pada ibu hamil sangatlah minim dan menyerupai gejala infeksi virus lainnya, yaitu demam mendadak tinggi, nyeri kepala, nyeri sendi, mata merah (konjungtivitis) hingga gatal pada tubuh.

Apabila pada awal kehamilan dicurigai terinfeksi virus Zika, maka bisa dilakukan pemeriksaan untuk melihat virus ini. Pemeriksaan tersebut berupa RT-PCR (reverse time polymerase chain reaction) hingga pemeriksaan serologi untuk mendeteksi antibodi terhadap virus Zika. Hal yang menjadi kesulitan adalah bahwa virus Zika biasanya akan menghilang dari tubuh satu minggu setelah seseorang terinfeksi.

Untuk mencegah penyebaran virus Zika lebih jauh, CDC mengeluarkan beberapa aturan bagi ibu hamil pada trimester apa pun, di antaranya:

  • Melarang ibu hamil untuk bepergian ke daerah dengan tingkat infeksi virus Zika yang tinggi.  
  • Menganjurkan wanita yang sedang merencanakan kehamilan dan bepergian ke daerah endemis, untuk melakukan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter.
  • Ibu hamil yang baru bepergian ke negara-negara yang sudah terjangkiti virus Zika dan menunjukkan gejala infeksi virus, sebaiknya melakukan pemeriksaan ke dokter agar bisa mendapatkan pemeriksaan lanjutan.  

0 Komentar

Belum ada komentar