Sukses

5 Teknik Mengatasi Fobia pada Si Kecil

Rasa takut pada anak adalah hal yang wajar. Namun jika sifatnya sudah berlebihan, hal tersebut perlu diwaspadai.

KlikDokter.com - Rasa takut adalah hal alami yang berfungsi sebagai mekanisme pertahanan diri. Beberapa anak bisa mengatasinya dengan baik, namun ada sebagian pula yang tidak.

Sembilan puluh persen anak usia 2 hingga 14 tahun mempunyai setidaknya satu ketakutan terhadap hal tertentu. Bayi hingga balita usia 2 tahun umumnya memiliki ketakutan terhadap suara keras, orang asing, dan terpisah dari orangtua. Anak usia prasekolah (3 hingga 6 tahun) terutama takut kepada monster, hantu, kegelapan, dan halilintar. Sementara itu, anak usia sekolah (7 hingga 16 tahun) memiliki ketakutan terhadap hal yang lebih realistis, seperti kecelakaan, penyakit, performa di sekolah, kematian, dan bencana alam.

Rasa takut dapat disebabkan oleh berbagai hal, bahkan yang sepele sekalipun. Beberapa hal yang dapat membangkitkan rasa takut pada anak di antaranya pengalaman traumatik seperti dikejar anjing atau tenggelam di kolam renang.

Sebagian anak bisa merasa takut hanya dengan melihat ekspresi orang lain yang sedang ketakutan terhadap hal tertentu. Imajinasi anak yang berkembang “liar” pun dapat berkontribusi terhadap rasa takut ini.  Namun demikian, ada pula anak yang merasa takut tanpa penyebab yang jelas sekalipun.

Biasanya rasa takut pada anak akan hilang dengan sendirinya pada usia tertentu. Namun jika rasa takut tersebut terus menetap, bahkan mengganggu aktivitas sehari-hari dan tidur anak, hal tersebut sudah berubah menjadi fobia.

Fobia merupakan rasa takut yang berlebihan akibat suatu trauma atau peristiwa yang sangat membekas pada benak anak. Fobia dapat muncul karena ketidaktahuan dan imajinasi berlebihan, terlalu banyak menyerap informasi yang tidak mampu dicerna dengan baik, ataupun melihat reaksi orang lain terhadap suatu hal.

Pada umumnya fobia dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:

  1. Fobia spesifik, yang merupakan ketakutan berlebihan terhadap objek tertentu, seperti binatang, tempat tertutup, ketinggian, dan lain-lain.
  2. Fobia sosial, yang muncul bila anak berada di tempat ramai, atau takut menjadi pusat perhatian.
  3. Fobia kompleks, yang merupakan gabungan dari fobia spesifik dan sosial secara bersamaan.

Fobia harus secepatnya ditangani, karena jika dibiarkan berlarut-larut dikhawatirkan dapat mengganggu perkembangan mental Si Kecil. Bunda dan Ayah dapat membawanya ke psikolog atau psikiater anak untuk penanganan lebih lanjut.

Berikut adalah 5 kiat untuk membantu Si Kecil mengatasi rasa takutnya:

1. Kenalkan pada fobianya.

Rasa takut bisa terjadi karena Si Kecil belum mengenal objek yang ia takuti. Oleh karena itu, kenalkanlah ia pada fobianya. Misalnya, jika ia fobia kucing, berikan informasi yang lengkap dan menarik seputar hewan tersebut, disertai dengan gambar-gambar lucu dari televisi atau buku cerita.

2. Hadapkan pada ketakutannya.

Si Kecil tidak akan bisa mengatasi ketakutannya apabila ia tidak mencoba untuk menghadapinya. Pastikan ia tidak menghindari sumber ketakutannya. Misalnya, jika ia takut menjadi pusat perhatian orang banyak, maka Anda harus melatihnya untuk lebih sering bersosialisasi (memasukkannya ke kursus, mengikutkannya ke dalam lomba, mengajaknya bermain dengan teman-teman, dan lain-lain). Walaupun pada mulanya menghindari ketakutan adalah jalan keluar yang mudah, cara ini tidak akan membantu Si Kecil mengatasi ketakutannya dengan efektif.

3. Ajarkan untuk santai.

Saat melihat Si Kecil terpaku karena ketakutannya, dorong ia untuk melemaskan tangan, otot, serta ekspresi wajahnya. Ajak juga ia untuk menarik napas dalam-dalam. Hal tersebut akan membantu Si Kecil mengatasi ketakutannya, karena dengan begini ia dapat merasa tenang.

4. Berikan rasa nyaman dan aman.

Katakan pada Si Kecil bahwa tidak ada yang harus ia takuti, ia dalam keadaan aman, dan semuanya akan baik-baik saja. Lakukan ini sesering mungkin hingga percaya dirinya meningkat. Rasa nyaman yang Bunda dan Ayah berikan akan meningkatkan ketahanan mentalnya, yang lama-kelamaan akan memberinya jalan keluar untuk mengalahkan ketakutannya.

5. Jangan menertawakan.

Mungkin Bunda dan Ayah menganggap ketakutan Si Kecil sebagai hal yang lucu. Akan tetapi, rasa takutnya adalah hal yang serius baginya. Lebih baik, tunjukkan padanya bahwa Bunda dan Ayah bersimpati padanya sekaligus siap membantunya. Ia perlu tahu bahwa Bunda dan Ayah selalu berada di sisinya untuk memberikan dukungan yang ia butuhkan.

0 Komentar

Belum ada komentar