Sukses

Gizi Buruk Bisa Turunkan IQ Anak

Malnutrisi tidak hanya dapat mempengaruhi komposisi tubuh anak, tetapi juga perkembangan otaknya.

KlikDokter.com - Malnutrisi atau kekurangan gizi akan sangat mengganggu proses tumbuh kembang anak, karena pada usia dini zat gizi yang optimal diperlukan untuk membangun tubuh yang sehat dan mental yang kuat. Lebih dari itu, malnutrisi juga dapat berdampak pada munculnya berbagai penyakit ketika anak tumbuh remaja atau dewasa.

Apa sajakah dampak dari kekurangan gizi pada anak?

Efek jangka pendek pada seribu hari pertama kehidupan anak adalah gangguan tumbuh kembang otak, otot, komposisi tubuh, metabolisme glukosa, lemak, dan protein.

Sementara itu, efek jangka panjangnya berupa rendahnya kemampuan belajar dan konsentrasi, rendahnya kekebalan tubuh sehingga rentan terhadap penyakit, produktivitas kerja yang rendah, serta meningkatnya risiko penyakit kronis seperti diabetes, obesitas, penyakit jantung dan pembuluh darah, stroke, kanker, dan penuaan dini.

Bhoomika R. Kar dkk. dalam artikelnya yang berjudul “Cognitive development in children with chronic protein energy malnutrition” (Behavioral Brain Function, 2008) mengatakan bahwa malnutrisi mengakibatkan perubahan struktural dan  fungsional pada otak.  

Pada riset yang ia lakukan, 20 anak yang diidentifikasi sebagai kurang gizi dan 20 anak yang mendapatkan gizi adekuat diteliti secara bersamaan. Studi tersebut mengobservasi anak ke dalam tes berupa kecepatan motorik, kemampuan visuospatial (kemampuan untuk menempatkan sebuah benda, objek atau gambar dalam sebuah tempat atau ruangan), pemahaman dan pembelajaran, serta memori.

Hasilnya menunjukkan bahwa anak yang kurang gizi memiliki kemampuan visuospatial, kemampuan belajar serta memori yang rendah ketimbang anak yang mendapatkan gizi memadai.

Oleh sebab itu, penuhilah selalu kecukupan vitamin dan mineral dalam MPASI anak Anda. Kejadian defisiensi (kekurangan) mineral seperti zat besi, seng, yodium, dan vitamin A cukup sering ditemukan, terutama di negara berkembang seperti Indonesia.

Pada usia 12 bulan pertama, anak membutuhkan zat besi yang cukup. ASI mengandung zat besi, namun penyimpanannya dalam tubuh bayi tidaklah lama karena langsung digunakan dalam proses metabolisme tubuh. Karena itu, dibutuhkan asupan pelengkap yang mengandung cukup zat besi.

Kekurangan zat besi dapat mengganggu perkembangan fisik, mental, dan perilaku anak, serta dapat menyebabkan anemia.

Kekurangan vitamin A juga merupakan salah satu kasus kurang gizi anak yang banyak terjadi di Asia Tenggara dan Afrika. Jika tidak ditangani dengan baik, keadaan ini dapat mempermudah terjadinya infeksi seperti diare dan campak, kebutaan, hingga kematian.(ADV)

0 Komentar

Belum ada komentar