Sukses

Benarkah Mengunyah Es Batu Tanda Menderita Penyakit Serius?

Sebuah penelitian mengemukakan ada kemungkinan suka mengunyah es batu adalah gejala awal dari anemia. Benarkah? Berikut penjelasannya.

KlikDokter.com - Apakah Anda pernah secara tiba-tiba merasa ingin mengunyah es batu? Atau pernahkah Anda melihat ada orang yang suka memakan es batu, kertas, tanah, atau benda-benda lainnya? Apakah hal tersebut normal, merupakan masalah psikologis, atau tanda dari penyakit tertentu?

Keinginan dan kebiasaan mengonsumsi benda selain makanan seperti es batu, kertas, tanah, lem, rambut, dan sebagainya selama minimal 1 bulan disebut sebagai pica.

Pica pada umumnya ditemukan pada anaka-anak, namun bisa juga terjadi pada orang dewasa. Pica bisa menjadi gejala adanya stres emosional, gangguan obsesif-kompulsif, gangguan perkembangan (pada anak-anak), defisiensi (kekurangan) kalsium, atau anemia defisiensi besi.

Keinginan untuk mengunyah es batu secara spesifik disebut pagophagia. Pagophagia masih merupakan bagian dari pica. Penyebabnya masih belum jelas, namun ada studi yang mengindikasikan pica sebagai tanda dari anemia defisiensi besi. Hal ini diduga es dapat mengurangi keluhan nyeri akibat glossitis (radang pada lidah) yang terjadi pada penderita anemia defisiensi besi.

Namun, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, penyebabnya bukan hanya karena anemia. Namuin bagaimana solusinya? Penjelasan selengkapnya pada halaman selanjutnya.

1 dari 2 halaman

Benarkah Mengunyah Es Batu Tanda Menderita Penyakit Serius?

Sakatonik Liver

Jadi, jika Anda mengalami keluhan serupa, jangan langsung mengonsumsi zat besi. Konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter untuk mencari tahu penyebabnya dan dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk menilai kadar hemoglobin dalam darah. Terlalu banyak mengkonsumsi zat besi juga tidak baik untuk kesehatan karena zat besi yang terakumulasi dalam tubuh dapat menjadi radikal bebas.  Radikal bebas meningkatkan risiko kanker dan penyakit jantung.

Untuk mencegah anemia, Anda dapat mengonsumsi makanan yang kaya akan zat besi seperti daging merah, kacang-kacangan, sayuran, labu. Jika ternyata tidak ditemukan adanya anemia defisiensi besi, mungkin diperlukan konsultasi dengan dokter spesialis psikiatri untuk terapi selanjutnya.

0 Komentar

Belum ada komentar