Sukses

Gizi Anak Buruk Karena Pola Asuh Orangtua?

Sebuah penelitian mengungkapkan terdapat hubungan antara pola asuh orangtua dengan kondisi asupan gizi pada anak.

KlikDokter.com - Gizi buruk dapat dialami oleh semua anak, baik dari golongan ekonomi rendah hingga golongan ekonomi berkecukupan. Namun ternyata, bukan faktor finansial yang menjadi penentu utama status gizi seorang anak, melainkan pola asuh orangtua terhadap anak. Faktor lain yang juga mempengaruhi kecukupan gizi anak antara lain jenis makanan yang dikonsumsi, hingga adanya penyakit yang diderita.

Berikut adalah beberapa kebiasaan yang mempengaruhi pola makan anak dan penting untuk dicermati:

1. Menambah porsi makan

Orangtua pasti senang apabila anak makan dengan lahap. Namun bila anak sudah merasa kenyang, jangan dorong ia untuk menambah porsi kedua. Hal ini dapat memicu masalah badan berlebih di kemudian hari. Rasa kenyang merupakan peringatan dari tubuh bahwa asupan makanan yang diperlukan tubuhnya sudah cukup.

2. Membatasi jenis makanan tertentu

Anak yang terlalu dibatasi ketika makan akan cenderung semakin menginginkan hal yang dilarang tersebut. Ia akan terpicu untuk makan secara berlebihan dan memilih jenis makanan yang tidak sehat. Untuk itu, buatlah situasi makan yang menyenangkan di rumah, sediakan makanan yang bergizi seimbang dan variatif, serta libatkan anak dalam menyiapkan makanan mereka.

3. Tidak boleh kotor

Orangtua tentunya menginginkan situasi rumah yang bersih. Namun ketika tiba waktu makan, “menjadi kotor” merupakan proses belajar yang baik, terutama bagi anak yang baru belajar makan, sehingga ia dapat belajar mengenali jenis, tekstur, rasa, bau, dan cara makan yang benar.

Berikut adalah beberapa kebiasaan lainnya yang mempengaruhi pola makan anak dan penting untuk dicermati, pada halaman selanjutnya selengkapnya:  

1 dari 2 halaman

Gizi Anak Buruk Karena Pola Asuh Orangtua?

Bayi Sehat Milna

4. Boleh makan apa saja

Jika anak tergolong kurus, atau sangat aktif, orangtua cenderung membiarkannya makan apa saja karena menganggap mereka membutuhkan kalori lebih dari makanan tersebut. Namun berhati-hatilah, karena semasa pertumbuhan, anak juga belajar mengembangkan kebiasaan makan, pemilihan makanan, dan rasa makanan. Oleh karenanya, tetap ajarkan anak mencoba berbagai jenis dan variasi makanan agar nantinya ia tidak terpaku pada suatu jenis makanan tertentu, serta agar nutrisi yang diperolehnya senantiasa seimbang.

5. Mengenalkan makanan secara tidak bertahap

Kebanyakan anak siap untuk makanan padat pada usia 6 bulan, tetapi beberapa akan merasa kesulitan pada awalnya. Ketika mereka kesulitan, biasanya mereka akan mengalami sedak. Solusinya: coba berikan makanan dengan konsistensi makanan secara bertahap dari mulai makanan cair, makanan yang saring, baru bertahap ke makanan padat.

Seperti pepatah mengatakan, buah jatuh tak jauh dari pohonnya, perilaku orangtua yang menerapkan pola makan dan hidup sehat akan menjadi panutan bagi anak dalam mengembangkan kebiasaan hidup sehat untuk dirinya sendiri di kemudian hari.

0 Komentar

Belum ada komentar