Sukses

Apa yang Harus Bunda Ketahui Tes Laboratorium untuk Alergi Susu Sapi?

Tahukah Anda bahwa diagnosis alergi susu sapi dapat ditegakkan dengan beberapa pemeriksaan penunjang?

Apa yang harus Bunda Ketahui Tes Laboratorium untuk Alergi Susu Sapi? KlikDokter.com - Seorang ibu mengeluhkan anaknya yang selalu kembung dan mencret setiap kali minum susu sapi. Memang, ia baru saja menyapih Si Kecil dan memperkenalkan susu formula untuk pertama kalinya. Ia bingung, apakah benar anaknya menderita alergi susu sapi? Bagaimana cara memastikannya?

Menurut konsensus Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), diagnosis alergi susu sapi dapat ditegakkan dengan beberapa pemeriksaan penunjang, yaitu:

1. Uji Tusuk Kulit (Skin Prick Test)

Sebelum melakukan pemeriksaan ini, anak harus menghentikan konsumsi obat antialergi selama tiga hari sampai satu minggu, tergantung dari jenis obatnya. Pemeriksaan ini boleh dilakukan kepada anak di atas usia empat bulan. Area pemeriksaan adalah pada sisi dalam lengan bawah atau di punggung, di atas kulit yang sehat. Bila uji ini memberikan hasil negatif, alergi susu sapi sudah dapat disingkirkan. Namun jika positif, anak belum bisa didiagnosis pasti alergi susu sapi.

Lalu hal apa lagi yang dapat dilakukan untuk mencari tahu alergen anak? Halaman berikutnya penjelasan selengkapnya.

1 dari 2 halaman

Apa yang Harus Bunda Ketahui Tes Laboratorium untuk Alergi Susu Sapi?

Morinaga Alergi

2. Uji Ig E RAST (Radio Allergo Sorbent Test)

Ini adalah alternatif pemeriksaan jika uji tusuk kulit tidak memungkinkan untuk dilakukan. Misalnya, jika terdapat kelainan kulit yang luas pada area pemeriksaan uji tusuk kulit atau jika anak tidak dapat lepas dari obat antialergi  karena keparahan penyakitnya. Selain memiliki korelasi yang baik dengan uji tusuk kulit, pemeriksaan ini juga memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang sebanding dengan uji tersebut.

3. Uji Eliminasi dan Provokasi

Ini adalah pemeriksaan utama untuk mengonfirmasi alergi susu sapi yang diketahui dari riwayat alergi dan hasil uji tusuk kulit dan Ig E yang positif, maka makanan yang mengandung susu sapi dan produk turunannya dihilangkan dari semua menu makanannya selama dua hingga empat minggu. Setelah gejala alergi susu sapi menghilang selama masa eliminasi tersebut, maka dilakukan uji provokasi dengan memberikan formula yang berbahan dasar susu sapi.

Karena dikhawatirkan dapat menimbulkan gejala alergi mulai dari ringan hingga berat, maka uji provokasi ini harus berada di bawah pengawasan dokter dan dilakukan di rumah sakit yang memiliki fasilitas lengkap. Uji provokasi dinyatakan positif jika gejala alergi susu sapi timbul kembali. Dengan demikian, diagnosis pasti alergi susu sapi dapat ditegakkan. Sebaliknya, uji ini dinyatakan negatif jika tidak timbul gejala alergi sampai satu minggu setelah uji dilakukan. Reaksi tipe lambat dapat terjadi sampai beberapa hari setelah terpapar oleh susu sapi. Oleh karena itu, orangtua tetap harus mengawasi Si Kecil terhadap gejala alergi susu sapi.  

0 Komentar

Belum ada komentar