Sukses

Ancaman Kuman yang Semakin Pintar Berevolusi

Kuman kini semakin pintar berevolusi menyesuaikan keadaan. Akibatnya, kuman menjadi lebih agresif terhadap tubuh manusia.

KlikDokter.com - Munculnya penyakit-penyakit baru serta kejadian resistensi antibiotik membuka mata kita bahwa kuman tidak diam dan tidak mempertahankan komponen diri yang selalu sama seiring berjalannya waktu. Perubahan lingkungan sekitar dihadapi kuman dengan melakukan modifikasi bahkan hingga ke tingkat terkecil (genetik), demi tetap bertahan hidup sekalipun banyak hambatan (contohnya, antibiotik). Bisa dibilang, beberapa kuman ini cukup ‘pintar’.

Apa yang dilakukan kuman sehingga bisa beradaptasi dengan perubahan-perubahan di sekitarnya? Mengapa kuman terus menyebabkan penyakit infeksi, meskipun telah banyak kemajuan teknologi kedokteran saat ini?

Dari penelitian oleh Bloomfield dan tim, dua faktor utama diketahui berperan dalam perkembangan kejadian ini:

  • Pertama, hal ini diakibatkan kemampuan kuman-kuman yang menyerang manusia untuk terus berevolusi secara konstan.
  • Kedua, akibat perubahan demografi yang terjadi di komunitas. Banyak strategi yang dikembangkan oleh bakteri untuk memperkuat dirinya dalam menghadapi sistem imun manusia yang diserangnya, maupun untuk mempertahankan dirinya dari serangan obat-obatan. Terkait dengan obat-obatan, praktik penggunaan antibiotik secara tidak tepat –hanya mengonsumsi 1-2 tablet — juga turut berperan dalam ‘membantu’ kuman mempelajari cara untuk bisa menghadapi antibiotik tersebut. Semakin banyak kuman yang resisten terhadap antibiotik, maka akan semakin sulit kita mengobati penyakit yang disebabkan kuman yang resisten tersebut.

Halaman berikut adalah contoh-contoh ‘kepintaran’ yang dikembangkan oleh kuman:

1 dari 2 halaman

Ancaman Kuman yang Semakin Pintar Berevolusi

Lifebuoy Clini Shield

Ancaman Kuman yang Semakin ‘Pintar’ Berevolusi Halaman berikut adalah contoh-contoh ‘kepintaran’ yang dikembangkan oleh kuman:

  • Bakteri Mikoplasma mengembangkan berbagai sistem genetik yang dapat mengganti-ganti protein di permukaan tubuhnya. Dengan kemampuan tersebut, bakteri dapat menghindari serangan sistem imun manusia.
  • Bakteri Streptokokus memproduksi ‘protein M’ yang menghambat fagositosis (proses pembunuhan bakteri oleh sistem imun dengan ‘menelannya’)
  • Sekelompok bakteri dapat membentuk lapisan pelindung yang disebut biofilm, yang mampu melindungi diri mereka. Sejenis dengan fungsi biofilm tersebut, bakteri Streptokokus mampu membentuk kapsul sebagai tameng perlindungan
  • Bakteri Salmonella yang menyebabkan penyakit tifoid, diketahui mampu menginduksi kematian sel pertahanan tubuh yang disebut makrofag lewat jalur yang belum terlalu dipahami
  • Kapsul pelindung berbahan lipopolisakarida (campuran lemak dan karbohidrat) yang diproduksi oleh bakteri Stafilokokus aureus dan Klebsiella pneumoniae dapat menghalangi pembunuhan kuman oleh sistem imun

Seakan-akan menjadi pelengkap dari kemampuannya untuk ‘meningkatkan kepintaran’, beberapa kuman yang sering menyebabkan penyakit di sekitar kita juga dapat memperbanyak diri dengan cepat. Contohnya, terdapat jenis kuman Salmonella (penyebab penyakit demam tifoid) yang membutuhkan waktu 25 menit untuk berkembang biak. Kuman Escherichia coli yang menjadi penyebab tersering penyakit diare cukup membutuhkan waktu 20 menit untuk memperbanyak diri menjadi 2x lipat. Bakteri Streptokokus pneumonia, penyebab infeksi tenggorokan hingga infeksi paru-paru berat, dapat menggandakan diri dengan lebih cepat, yaitu hanya dalam 16 menit.

Masih banyak contoh modifikasi lain yang dijalani kuman dalam usaha untuk terus mampu mempertahankan dirinya. Dengan kemampuannya tersebut, tidak heran bahwa penyakit infeksi masih terus marak bahkan diprediksi akan mengalami peningkatan. Terkait dengan hal ini, kita tidak boleh kalah dan lengah dalam menjaga kesehatan tubuh.

Jagalah daya tahan tubuh agar tidak mudah terserang penyakit dengan mengonsumsi makanan yang bergizi lengkap dan seimbang, menghindari kekurangan cairan, istirahat yang cukup, dan berolahraga secara rutin.

Untuk meminimalkan kemungkinan masuknya kuman penyakit dari lingkungan sekitar ke dalam tubuh, rutinlah mencuci tangan dengan menggunakan sabun di bawah air mengalir.

Terakhir, hindari pemakaian antibiotik yang tidak tepat. Ikuti saran pemakaian obat dari dokter dan jangan membeli antibiotik tanpa resep dokter.

0 Komentar

Belum ada komentar