Sukses

All About Suntik Botox

Botox mengandung Toxin Botulinum merupakan protein neurotoksik yang digunakan untuk pengobatan. Toxin ini dihasilkan oleh Bakteri Clostridium Botulinum. Sering digunakan pada ketegangan otot.

Oleh : dr. Indiradewi Hestiningsih 

KLIKDOKTER.com – Botox mengandung Toxin Botulinum yang merupakan protein neurotoksik yang digunakan untuk pengobatan. Toxin ini dihasilkan oleh Bakteri Clostridium Botulinum. Sering digunakan pada ketegangan otot. Sebagaimana diwajibkan di Amerika Serikat, proses penyuntikan BOTOX di Indonesia seyogyanya dilakukan oleh Dokter Bedah Plastik atau Dokter Spesialis Kulit. Toksin ini sering dijumpai pada makanan kalengan yang terkontaminasi spora pada lingkungan anaerob, kemudian berkembang dan menghasilkan toksin, sehingga dapat menyebabkan botulism. Toksin ini selain digunakan untuk kecantikan dapat pula digunakan pada orang yang menderita migraine,  hiperhidrosis (keringat banyak),  achalasia (gangguan menelan),  cervical dystonia (ketegangan pada leher dan kepala). Botox, ternyata dapat pula digunakan untuk menurunkan berat badan dengan cara meningkatkan waktu pengosongan lambung. Efek Samping Suntik Botox

  1. Efek samping dapat disebabkan oleh cara penyuntikannya (kelumpuhan otot) dan struktur kimianya (protein). Selain itu dapat juga tampil memar yang terjadi karena salah tempat penyuntikan, bukan disebabkan oleh karena toksinnya. 
  2. Efek samping lainnya seperti tidak dapat menutup mata, tidak dapat tersenyum, kelopak mata turun, atau bila disuntikan disekitar rahang dapat menyebabkan kesulitan mengunyah. Hal ini dapat terjadi dalam 6 minggu.
  3. Efek samping lain yang dapat terjadi pada penyuntikan untuk kosmetik adalah sakit kepala, kesulitan menelan (dysphagia), gejala yang mirip sindroma flu, kelumpuhan setempat daerah wajah, bahkan reaksi alergi.

Mekanisme Kerja Toksin Botulinum  Toksin ini mempunyai target kerja adalah masuk ke dalam terminal axon (merupakan bagian dari sel saraf) yang kemudian memerintahkan untuk terjadi kelumpuhan.

Angka kematian yang pernah dilaporkan olh karena toksin ini antara tahun 1950 – 1996 adalah 15,5% . Kematian biasanya terjadi sekunder yaitu karena gagal bernafas, yang disebabkan oleh karena kelumpuhan otot pernafasan.

Metode suntik apapun yang hendak Anda akan lakukan, pastikan aman dan dilakukan oleh praktisi medis yang berkompetensi penuh, dalam hal ini adalah Dokter Spesialis Kulit atau Dokter yang terlatih.

Bagi Anda yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai topik ini, silakan ajukan pertanyaan Anda di fitur Tanya Dokter Klikdokter.com di laman utama website kami.[](JF)(IND/DA)

 

0 Komentar

Belum ada komentar