Menu
KlikDokter
Icon Search
Icon LocationTambah Lokasi KamuIcon Arrow
HomePsikologiRelationship20 Hal yang Sering Menjadi Pertengkaran Menjelang Pernikahan
Relationship

20 Hal yang Sering Menjadi Pertengkaran Menjelang Pernikahan

Christovel Ramot, 28 Jan 2024

Ditinjau oleh Iswan Saputro, M.Psi., Psikolog

Icon ShareBagikan
Icon Like

Persiapan pernikahan bukan hanya soal pesta, tetapi juga membahas topik sensitif. Lantas, apa saja pertengkaran yang biasa terjadi menjelang pernikahan dan apa tipsnya? Simak disini

20 Hal yang Sering Menjadi Pertengkaran Menjelang Pernikahan

Persiapan menjelang hari pernikahan tidak hanya tentang pesta resepsi, namun juga keterbukaan komunikasi tentang topik-topik yang akan ditemui.

Seiring berjalannya waktu, pasangan akan beradaptasi dengan banyak hal yang jika tidak disikapi dengan bijak dapat memicu konflik.

Dalam artikel ini, Psikolog Iswan Saputro dan tim redaksi KlikDokter kami akan membahas 20 hal sepele yang sering menjadi pemicu konflik menjelang pernikahan, serta memberikan tips untuk menghindari dan mengatasi masalah tersebut.

1. Keuangan

Kebiasaan dan persepsi tentang keuangan perlu dikomunikasikan untuk meminimalisir kesalahpahaman.

Pertanyaan mendasar tentang bagaimana mengelola uang, membagi bagaimana tanggung jawab pekerjaan, hutang atau cicilan, dan skala prioritas dalam mengeluarkan uang perlu dibiasakan untuk dikomunikasikan.

Tips: Bicarakan terbuka tentang rencana keuangan bersama, miliki anggaran bersama, dan perbarui secara berkala seiring bertambahnya tanggungjawab.

2. Kebiasaan Bersih-Bersih

Perbedaan dalam standar kebersihan, keteraturan, atau kerapian bisa menjadi pemicu konflik. Perbedaan ini bisa dipengaruhi oleh pengasuhan keluarga, kebiasaan sehari-hari, atau kepribadian.

Tips: Bicarakan tentang ekspektasi dan kompromikan standar kebersihan yang dapat diterima bersama.

3. Berbicara dengan Suara Keras

Kenyamanan dalam berkomunikasi salah satunya ditentukan dengan volume suara. Volume suara keras seringkali memicu konflik dan menciptakan persepsi negatif terhadap kondisi yang sedang dialami.

Tips: Berlatih dan mempelajari komunikasi yang efektif, seperti berbicara dengan lembut, empati, dan mendengarkan dengan baik dapat meminimalisir konflik semakin luas.

4. Keluarga dan Teman-Teman

Perbedaan pola hubungan dengan keluarga dan pergaulan dapat memicu konflik karena kebiasaan ini sudah terbentuk lebih lama.

Setiap orang memiliki ekspektasi, standar, atau batasan tentang bagaimana interaksi dan hubungan interpersonal yang seharusnya.

Tips: Dikomunikasikan tentang batasan-batasan, toleransi, dan ekspektasi dalam berinteraksi dengan keluarga dan teman-teman.

5. Pemilihan Program TV

Selera dalam memilih program TV terdengar sepele, namun setiap orang memiliki kebiasaan dan harapan dari sebuah sumber hiburan.

Terkadang beberapa orang lebih mengutamakan pengetahuan dibandingkan hanya drama hiburan dari sebuah program TV.

Tips: Jadwalkan waktu bersama untuk menonton program favorit masing-masing atau saling berusaha memahami selera tontonan pasangan.

6. Tugas Rumah Tangga

Pembagian tanggung jawab aktivitas harian rumah tangga bisa menjadi pemicu konflik.

Tidak semua nyaman melakukan aktivitas memasak, mencuci, mengasuh anak sendirian, atau membersihkan rumah sehingga perlu adanya komunikasi terkait tugas rumah tangga.

Tips: Pembagian tugas rumah tangga dengan adil. inisiatif membantu, dan toleransi untuk saling mendukung kekurangan masing-masing.

7. Penggunaan Gadget

Bijak dalam menggunakan gadget dapat meminimalisir konflik. Penggunaan gadget untuk hiburan, bekerja, atau belanja yang berlebihan dapat memicu kecurigaan atau konflik dalam rumah tangga.

Tips: Alokasi waktu menjalani hari tanpa gadget dan lebih banyak mengobrol secara langsung dengan pasangan.

8. Kebiasaan Makan

Kebiasaan dan selera makan perlu menjadi perhatian khusus.

Hal ini akan mempengaruhi bagaimana setiap pasangan dapat memahami makanan yang disukai dan sebaiknya dihindari untuk kesehatan.

Tips: Memahami kebiasaan atau selera makanan yang baik untuk kesehatan dan menghabiskan waktu untuk makan bersama.

9. Waktu Luang

Setiap pasangan punya preferensi berbeda dalam memanfaatkan waktu luang.

Bagi beberapa orang menggunakan waktu luang untuk beristirahat, olahraga, melakukan hobi, aktivitas ke luar rumah, atau mengobrol dengan orang terdekat.

Tips: Kenali dan hargai bagaimana pasangan memanfaatkan waktu luangnya dan temukan kesamaan dalam menghabiskan waktu luang bersama.

10. Manajemen Waktu

Setiap orang memiliki toleransi dalam keterlambatan dan manajemen waktu yang berbeda.

Jika tidak disadari dan diperbaiki, kebiasaan buruk dalam manajemen waktu dapat memicu konflik dan frustasi pada pasangan.

Tips: Bicarakan tentang pentingnya prioritas dan manajemen waktu agar muncul kesadaran yang lebih baik tentang manajemen waktu.

11. Kebiasaan Merokok atau Minum Alkohol

Jika salah satu pasangan merokok atau minum alkohol secara berlebihan, hal ini dapat menjadi sumber konflik, terutama jika yang lain tidak setuju dengan kebiasaan tersebut.

Tips: Terbuka bicarakan tentang masalah ini dan pertimbangkan untuk mencari dukungan jika diperlukan.

12. Kesalahan Kecil

Toleransi pada kesalahan kecil yang kurang dapat memicu konflik dan menjadi semakin besar ketika disikapi dengan emosi yang berlebihan.

Ketenangan dalam merespon masalah menjadi penting dalam rumah tangga.

Tips: Berlatih lebih banyak mendengarkan sebelum merespon dan melebarkan toleransi terhadap kesalahan kecil yang masih bisa dimaklumi.

13. Perbedaan dalam Rencana Masa Depan

Perbedaan prioritas dalam merencanakan masa depan dapat memicu konflik karena setiap pasangan memiliki harapan atau aspirasi yang berbeda dalam menjalani rumah tangga.

Tips: Dengarkan, pahami, kompromi, dan temukan kesamaan prioritas dalam merencanakan rumah tangga di masa depan.

14. Pengasuhan Anak

Setiap pasangan memiliki referensi dan persepsi yang berbeda tentang mengasuh anak.

Bahkan dalam beberapa pasangan memilih menunda memiliki anak agar bisa memiliki waktu berdua bersama pasangan lebih banyak.

Tips: Bicarakan tentang bagaimana pendekatan pengasuhan dan pendidikan yang diinginkan sebelum memiliki anak.

15. Rencana Liburan

Perbedaan dalam preferensi mengenai liburan, seperti tujuan atau jenis liburan, bisa menjadi masalah jika tidak disepakati bersama dan saling memahami.

Tips: Rencanakan liburan sesuai dengan kondisi keuangan, waktu yang dimiliki, dan ekspektasi dari aktivitas liburan yang dilakukan.

16. Perbedaan Kebiasaan Tidur

Perbedaan dalam pola tidur, seperti waktu tidur atau tingkat kenyamanan tempat tidur, bisa menjadi sumber konflik jika tidak dikomunikasikan sejak awal.

Tips: Cobalah untuk mencari kompromi dalam hal pola tidur dan suasana tidur yang ideal.

17. Perbandingan dengan Pasangan Lain

Terlalu banyak membandingkan pasangan dengan pasangan lain baik secara langsung maupun melalui sosial media dapat memicu konflik dan perasaan rendah diri.

Tips: Temukan keunikan dan kelebihan dari masing-masing pasangan serta menghargai kesukaan yang dimiliki.

18. Ketidaksetaraan dalam Pemberian Perhatian

Perasaan tidak diperhatikan atau kurang mendapatkan perhatian dari pasangan dapat memicu konflik. Hal ini dapat dipicu dari seberapa banyak waktu yang dihabiskan bersama pasangan.

Tips: Jangan ragu untuk berbicara terbuka tentang perasaan ini dan cari cara untuk memberikan perhatian yang lebih seimbang.

19. Perbedaan dalam Nilai-Nilai dan Kepercayaan

Perbedaan dalam nilai-nilai atau kepercayaan yang fundamental bisa menjadi masalah besar dalam pernikahan jika tidak mau saling memahami dan toleransi.

Tips: Diskusikan nilai-nilai dan kepercayaan bersama dan cari cara untuk menghormati perbedaan tersebut.

20. Stres dan Tekanan dari Luar

Stres dari pekerjaan, keluarga, atau situasi eksternal lainnya dapat mempengaruhi hubungan pernikahan.

Oleh karena itu, dukungan psikologis menjadi sangat penting untuk mempersiapkan pernikahan.

Tips: Dukung satu sama lain dalam menghadapi stres dan cari cara untuk mengelola tekanan dari luar.

Penting untuk diingat bahwa pertengkaran sebelum dan dalam pernikahan adalah hal yang wajar. Namun, penting juga untuk belajar bagaimana mengatasi perbedaan dan konflik dengan cara yang sehat dan produktif.

Komunikasi terbuka, pengertian, dan kompromi adalah kunci untuk menjaga pernikahan tetap kuat dan bahagia.

Jika diperlukan, pertimbangkan untuk mencari bantuan dari seorang konselor atau terapis perkawinan yang dapat membantu kamu dan pasangan dalam mengatasi masalah yang mungkin muncul.

Bila Kamu mengalami konflik atau masalah dalam hubungan, jangan sungkan untuk konsultasi dengan psikolog lewat aplikasi KlikDokter. KlikDokter, solusi untuk #JagaSehatmu dan hubungan!

Konsultasi Dokter Terkait

Tanya Dokter