Kesehatan Mental

Stop Share Foto Korban Kecelakaan, Ini Alasannya

Tri Yuniwati Lestari, 19 Jul 2022

Ditinjau Oleh Tim Medis Klikdokter

Menyebarkan foto korban kecelakaan itu tidak etis dan bisa menimbulkan trauma, lho. Ini penjelasan psikolog!

Stop Share Foto Korban Kecelakaan, Ini Alasannya

Ketika terjadi kecelakaan, biasanya banyak sekali foto-foto korban yang beredar di grup WhatsApp maupun platform lain di internet. Tahukah kamu, menyebarkan foto orang kecelakaan itu sebenarnya tidak etis dan bisa memicu trauma bagi yang melihat.

Larangan share foto korban dibentuk bukan tanpa alasan. Baca terus ulasan berikut mengenai alasan mengapa kamu tidak boleh menyebar foto korban kecelakaan.

Mengapa Menyebarkan Foto Orang Kecelakaan Dilarang?

Sebelum unggahan kamu merugikan banyak orang, berikut beberapa alasan untuk stop share foto korban kecelakaan:

1. Hargai Privasi Korban dan Perasaan Keluarga

Membagikan foto korban kecelakaan di media sosial itu artinya kamu tidak menghargai privasi korban. Ingat, orang yang sudah meninggal pun harus kita hargai.

Artikel lainnya: Cara Mengatasi Trauma yang Bisa Anda Coba

Perasaan keluarga korban juga tidak dihargai bila foto korban tersebar begitu saja. Mereka tentu akan tambah merasa sedih ataupun trauma kecelakaan.

2. Dapat Dipidana

Ternyata ada larangan share foto korban kecelakaan. Menyebarkan foto orang kecelakaan dapat termasuk pelanggaran hukum karena melanggar UU ITE. Pasalnya, penyebaran foto-foto korban bisa tergolong kejahatan siber karena diunggah tanpa izin dan tidak pantas disebar.

3. Foto Korban Dapat Disalahgunakan

Alasan berikutnya mengapa kamu sebaiknya tidak membagikan foto orang kecelakaan di media sosial adalah bisa saja foto tersebut disalahgunakan oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab.

Seperti apa disalahgunakannya? Macam-macam, salah satunya ada yang mungkin menyebarkan foto itu dengan informasi yang salah (hoax). Berita bohong tersebut dapat merugikan orang lain.

4. Menyebabkan Trauma pada Orang Lain

Dijelaskan oleh Gracia Ivonika, M.Psi., Psikolog, sharing foto korban kecelakaan juga dapat membuat orang lain yang melihatnya merasakan takut berlebihan hingga trauma.

“Melihat foto kecelakaan bisa saja menyebabkan trauma, terutama pada individu yang memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi. Misalnya, secara psikologis ia kurang stabil karena berbagai kondisi, atau adanya riwayat masalah berkaitan dengan trauma,” ucap Gracia.

Reaksi Trauma Akibat Melihat Foto Kecelakaan

Respons seseorang terhadap trauma bergantung pada jenis dan tingkat keparahan peristiwa traumatis yang pernah dialami. Orang yang pernah mengalami kecelakaan mungkin akan lebih rentan mengalami trauma saat melihat foto kecelakaan.

Artikel lainnya: Trauma Mental: Efek Kecelakaan yang Kerap Tak Disadari

Reaksi umum dari trauma meliputi:

  • Merasa seolah-olah dalam keadaan waspada setiap saat
  • Mati rasa secara emosional, merasa syok atau ketakutan
  • Menjadi emosional dan kesal
  • Merasa sangat lelah, stres, atau cemas
  • Menjadi sangat protektif terhadap orang lain, termasuk keluarga dan teman
  • Tidak ingin meninggalkan tempat tertentu karena khawatir apa yang ditakutkan mungkin terjadi

Reaksi-reaksi tersebut sebenarnya normal. Rata-rata reaksi itu pun akan mereda dan hilang sendirinya.

Namun, Psikolog Gracia menyarankan untuk mencari pertolongan profesional seperti psikolog atau psikiater jika trauma sudah cukup mengganggu atau membuat kamu tidak lagi dapat beraktivitas seperti biasa.

Kini konsultasi seputar kesehatan mental lebih mudah di aplikasi KlikDokter. Kamu bisa tanya langsung dengan psikolog dan psikiater (dokter spesialis kejiwaan) lebih mudah dan cepat!

(FR/JKT)

Referensi:

  • Psychological Review. Diakses 2022. Intrusive Images in Psychological Disorders.
  • Frontiers in Psychiatry. Diakses 2022. Memory Distortion for Traumatic Events: The Role of Mental Imagery.
  • Better Health Australia. Diakses 2022. Trauma - reaction and recovery.
  • Help Guide. Diakses 2022. How to Cope with Traumatic Events.

Ditinjau oleh Gracia Ivonika, M.Psi., Psikolog

trauma
kesehatan mental