Perkembangan media sosial dan mudahnya akses internet mempermudah banyak orang untuk terhubung dalam sebuah kelompok atau komunitas.Tujuannya adalah untuk berbagi pengalaman, berkomunikasi, dan berbagi informasi terkini.
Dalam kondisi emosional yang tidak stabil, media sosial bisa menjadi bumerang bagi penggunanya jika tergabung dalam kelompok yang berisiko. Saat ini ditemui adanya kelompok media sosial yang menyarankan atau memberi tantangan untuk melukai diri sendiri (self-harm) sebagai bentuk ekspresi emosi tidak nyaman dan mendapatkan validasi dari orang lain.
Fenomena tersebut dikenal dengan istilah Deliberate Self-Harm (DSH) atau melukai diri sendiri secara sadar dan disengaja. Psikolog Iswan Saputro dan Tim Redaksi KlikDokter akan membahas fenomena DSH pada orang dewasa serta bagaimana cara mencegah dan mengatasi self-harm.
Artikel Lainnya: Perilaku Self-harm Mengancam Jiwa, Kenali Penyebab dan Solusinya
Mengenal Deliberate Self-Harm (DSH)
Deliberate self-harm (DSH) adalah perilaku disengaja untuk melukai bagian tubuh tertentu tanpa ada niatan untuk bunuh diri sebagai bentuk ekspresi emosi negatif. Kelompok usia rentan yang melakukan self-harm adalah remaja, usia dewasa awal, dan seseorang yang memiliki kondisi mental tertentu.
Perilaku DSH yang sering ditemui seperti menyayat bagian tubuh dengan pisau atau silet, menggigit, memukul, membakar, mencakar, atau membenturkan tubuh pada benda keras.
Selain untuk mengekspresikan emosi negatif, DSH juga bisa didorong dari keinginan untuk menghukum diri sendiri, merasakan adrenalin, atau mendapatkan atensi dari orang tertentu. Jika DSH tidak mendapatkan pendampingan psikologis dapat memicu munculnya gejala-gejala depresi.
Hubungan Media Sosial dengan DSH
Media sosial dapat menjadi faktor risiko DSH pada orang dewasa. Paparan informasi tentang konten DSH yang dibagikan dapat menjadi pemicu (trigger) atau “menginspirasi” orang lain untuk melakukannya. Apalagi jika diikuti dengan adanya latar belakang cerita dan apa yang dirasakan setelah melakukan DSH.
Adanya banyak cerita dan konten DSH di media sosial seolah-olah “mewajarkan” perilaku ini. Bagi seseorang yang sedang tidak stabil emosinya, paparan konten DSH dapat dinilai sebagai cara instan untuk meluapkan emosi negatif yang dirasakan.
Algoritma media sosial dengan kata kunci yang berkaitan dengan DSH juga dapat memunculkan konten-konten lain yang berhubungan di hasil pencarian internet. Hal ini perlu diwaspadai bahwa media sosial dan internet dapat meningkatkan risiko perilaku DSH.
Walaupun konten negatif sudah dikendalikan atau dihapus di media sosial, namun masih sering ditemui konten-konten self-harm di internet dan dikonsumsi banyak orang.
Artikel Lainnya: Punya Keinginan Bunuh Diri Selalu Pertanda Depresi?
Membandingkan Diri Melalui Media Sosial
Konten-konten media sosial yang seringkali memperlihatkan pencapaian, penampilan, atau gaya hidup yang dinilai ideal dapat membuat orang menjadi rendah diri (insecure). Perasaan rendah diri ini dapat memicu penilaian negatif terhadap diri sendiri dan merasa tidak bahagia.
Perasaan tidak berharga, kesulitan dalam mengelola emosi, dan kontrol diri yang lemah setelah mengakses konten media sosial dapat memicu DSH. Penting untuk menyikapi konten media sosial secara bijak untuk menjaga kesehatan mental.
Upaya Mengurangi Risiko DSH Akibat Media Sosial
Saat emosi sedang tidak stabil, kamu dapat beristirahat menggunakan media sosial yang dapat memicu pikiran negatif. Kamu dapat deactive akun atau uninstal media sosial yang sering digunakan. Untuk mengubah algoritma paparan konten negatif, kamu dapat mencari konten-konten positif yang dapat menguatkan kesehatan mental dan mengendalikan emosi.
Istirahat menggunakan media sosial juga dapat kamu lakukan dengan membatasi akses internet saat ingin tidur, waktu luang, atau dalam kondisi fisik sedang tidak sehat. Kampanye internet sehat dapat dilakukan untuk menyaring konten yang dibagikan dan melaporkan konten-konten yang dinilai dapat berdampak pada DSH atau kesehatan mental.
Pendampingan Psikologis untuk DSH
Perilaku self-harm dipengaruhi oleh rendahnya kontrol diri dan emosi ketika dihadapkan dengan masalah. Sebagai kerabat dari seseorang yang melakukan DSH, kamu dapat memberikan waktu dan ruang yang aman mendengarkan dia bercerita tanpa menghakimi. Empati dan waktu yang kamu berikan dapat menenangkan emosi seseorang dengan risiko DSH.
Jika perilaku DSH diikuti dengan gejala-gejala kecemasan, depresi, atau kondisi mental lainnya, maka perlu mendapatkan pendampingan dari psikolog atau psikiater. Kamu dapat mendampingi untuk memilih psikolog atau psikiater sesuai dengan tingkat keparahan dari kondisi seseorang dengan risiko SDH.
Artikel Lainnya: Selalu Menyalahkan Diri Sendiri, Apakah Tanda Gangguan Mental?
Bersama profesional, terapi dan konseling adalah bentuk dukungan terapeutik yang tersedia bagi seseorang yang mengalami dampak negatif media sosial pada kesehatan mental mereka. Psikolog atau psikiater dapat membantu seseorang dalam mengatasi emosi negatif, perbandingan diri yang tidak sehat, dan stres yang disebabkan oleh penggunaan media sosial yang berlebihan dan berisiko.
Jika Kami memiliki pertanyaan lain seputar self-harm, jangan sungkan untuk konsultasi dengan psikolog dan chat dengan dokter psikolog lewat layanan Tanya Dokter di aplikasi Klikdokter.
-
Social media use and deliberate self-harm among youth: A systematized narrative review. Candice Biernesser, C. Sewall, D. Brent, dll. Department of Psychiatry, School of Medicine, University of Pittsburgh, United States, Department of Behavioral and Community Health Sciences, Graduate School of Public Health, University of Pittsburgh, United States, dan School of Social Work, University of Pittsburgh, United States. 2019-2020. Diakses Desember 2023
-
Social media, internet use and suicide attempts in adolescents. Sedgwick, Rosemarya; Epstein, Sophiea; Dutta, Rinab; Ougrin, Dennisa. November 2019. Diakses Desember 2023
:format(webp)/article/s0AbynQNtDhQ_DNei9dnv/original/rddis9wls3idqzy74m5uqa28i8xqy0j5.jpg)