Sukses

Pengertian Vasa Previa

Vasa previa adalah penyakit komplikasi dalam kehamilan yang ditandai dengan adanya pembuluh darah dari tali pusat janin yang melintas di mulut rahim (serviks).

Dalam keadaan normal, semua pembuluh darah janin terbungkus dan terlindungi di dalam tali pusat. Namun pada penyakit vasa previa, terdapat pembuluh darah janin yang keluar dari tali pusat dan melintasi mulut rahim bersama dengan selaput ketuban.

Gangguan pada vasa previa dapat terjadi saat masa kehamilan maupun saat persalinan. Seiring janin yang semakin besar dan kepalanya semakin turun ke arah vagina ibu, pembuluh darah abnormal milik janin yang melintasi mulut rahim ibu tersebut akan tertekan dengan kepala janin sendiri. 

Hal tersebut mengakibatkan janin kekurangan aliran darah, kekurangan oksigen, dan dapat berujung pada meninggal dunia.

Penyakit Vasa Previa (Foto: Healthreflect)

Penyebab Vasa Previa

Terdapat dua penyebab utama vasa previa, yaitu:

  • Velamentous cord insertion, yaitu suatu kelainan pada tali pusat yang menyebabkan pembuluh darah yang seharusnya ada di dalam tali pusat keluar dan berlekatan dengan selaput ketuban.
  • Plasenta bilobus (bilobed placenta), yaitu adanya dua plasenta dalam rahim padahal janin yang dikandung hanya ada satu.

Ibu hamil yang lebih rentan mengalami vasa previa adalah ibu hamil dengan kondisi berikut ini:

  • Plasenta previa (letak plasentanya menutupi jalan lahir)
  • Plasenta letak rendah (letak plasentanya berdekatan dengan jalan lahir)
  • Kehamilan terjadi melalui proses bayi tabung
  • Kehamilan kembar
  • Memiliki riwayat operasi di daerah rahim sebelumnya

Diagnosis Vasa Previa

Penentuan diagnosis vasa previa dilakukan oleh dokter spesialis kandungan melalui pemeriksaan ultrasonografi (USG). USG yang dilakukan untuk melihat ada tidaknya vasa previa adalah USG doppler transvaginal, yaitu USG doppler untuk melihat gambaran pembuluh darah yang alatnya (probe) dimasukkan melalui vagina.

Gejala Vasa Previa

Pada sebagian besar kasus, ibu hamil yang mengalami vasa previa tak mengalami gejala apa pun selama kehamilan. Gejalanya baru tampak saat proses persalinan, berupa denyut jantung janin yang tidak normal akibat kekurangan oksigen. 

Bila persalinan tak dilakukan dengan cepat, sering kali bayi dilahirkan dalam kondisi sudah meninggal dunia.

Namun kadang kala, vasa previa juga dapat menimbulkan gejala sejak masa kehamilan. Gejalanya berupa perdarahan yang keluar dari vagina. 

Biasanya darah yang keluar berwarna merah gelap atau kehitaman. Keluhan tersebut diikuti dengan gerakan janin yang makin lama makin berkurang, bahkan tidak ada gerakan sama sekali.

Pengobatan Vasa Previa

Kelainan pembuluh darah yang terjadi pada vasa previa tidak bisa diatasi atau dihilangkan karena merupakan kelainan anatomi. 

Oleh karena itu, tujuan pengobatan vasa previa bukan untuk menormalkan pembuluh darah janin, melainkan untuk memberikan penanganan khusus agar janin yang dikandung bisa lahir hidup dengan kondisi yang optimal.

Pada kehamilan trimester satu dan dua, tidak ada penanganan khusus untuk vasa previa. Bahkan pada beberapa kasus, vasa previa yang diketahui pada trimester awal tersebut bisa menghilang dengan sendirinya. 

Penanganan khusus dilakukan pada trimester ketiga (kehamilan 28 minggu ke atas), dapat berupa:

  • Pemantauan yang lebih ketat mengenai kondisi janin melalui pemeriksaan fisik dan USG doppler.
  • Pemberian obat kortikosteroid untuk ’mematangkan’ paru janin untuk mempersiapkan paru janin berfungsi dengan baik jika harus dilahirkan secara prematur.
  • Ibu hamil tak boleh memasukkan benda apa pun ke dalam vagina, serta dianjurkan untuk tidak berhubungan seks dahulu hingga melahirkan.

Pada kehamilan vasa previa, persalinan dilakukan secara terencana melalui operasi Caesar. Berbeda dengan persalinan pada kehamilan normal yang dilakukan pada usia kehamilan 37-42 minggu, persalinan pada kasus vasa previa biasanya dilakukan lebih awal, yaitu pada usia kehamilan 35-37 minggu. 

Hal tersebut dilakukan untuk mencegah kepala bayi semakin turun ke arah jalan lahir dan menekan pembuluh darahnya sendiri. Selain itu juga untuk mencegah ketuban pecah (yang akan mengakibatkan pembuluh darah janin ikut pecah).

Persalinan pada kasus vasa previa harus dilakukan di rumah sakit yang memiliki fasilitas neonatal intensive care unit (NICU) yang memadai serta dokter spesialis anak yang mampu menangani. Hal ini karena setelah dilahirkan, bayinya sering membutuhkan transfusi darah dan perawatan intensif selama beberapa waktu.

Pencegahan Vasa Previa

Hingga saat ini belum ada hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya vasa previa.