Sukses

Pengertian

Trombositosis merupakan kondisi terlalu banyaknya trombosit (keping darah) yang beredar di dalam darah. Nilai normal kadar trombosit di setiap laboratorium bervariasi, tergantung alat pemeriksaan yang digunakan. Namun kebanyakan laboratorium di Indonesia menggunakan nilai normal 150.000-450.000/ ul.

Trombosit merupakan salah satu komponen darah yang diproduksi oleh sumsum tulang dan dilepaskan ke peredaran darah, berfungsi untuk membekukan darah jika terjadi perdarahan. Namun jika jumlahnya berlebihan seperti yang terjadi pada trombositosis, maka proses pembekuan darah pun akan terjadi secara berlebihan.

Berdasarkan penyebabnya, trombositosis dibagi menjadi dua, yaitu:

  • Trombositosis esensial (atau disebut juga trombositemia esensial), yaitu kondisi terlalu banyaknya trombosit di dalam darah akibat sumsum tulang yang hiperaktif dalam memproduksi trombosit.
  • Trombositosis sekunder (atau disebut juga dengan istilah trombositosis reaktif), yaitu kondisi terlalu banyaknya trombosit di dalam darah sebagai reaksi tubuh akan adanya penyakit lainnya, misalnya infeksi.

Pada artikel ini, trombositosis yang akan dibahas adalah trombositosis esensial. Penyakit ini lebih sering dialami oleh orang berusia 60 tahun ke atas, dan jarang pada anak-anak. Trombositosis esensial dapat membahayakan karena bekuan darah yang diakibatkannya dapat menyumbat pembuluh darah (trombosis) di berbagai organ.

Penyebab

Trombositosis esensial terjadi karena sumsum tulang yang hiperaktif dalam memproduksi trombosit. Namun hingga saat ini, penyebab hiperaktifnya sumsum tulang tersebut belum diketahui dengan jelas.

Meskipun begitu, beberapa studi menemukan bahwa pada sebagian besar pasien yang mengalami trombositosis esensial, ditemukan mutasi gen Janus Kinase 2 (JAK2), calreticulin (CALR), atau gen myeloproliferative leukemia virus oncogene (MPL).

Diagnosis

Dokter umumnya akan memikirkan adanya trombositosis esensial jika menjumpai hasil pemeriksaan darah yang menunjukkan kadar trombosit yang tinggi. Dokter juga akan melakukan wawancara dan pemeriksaan fisik terkait gejala yang sering ditimbulkan oleh trombositosis.

Selain pemeriksaan darah, pemeriksaan lain yang umumnya dilakukan adalah pemeriksaan aspirasi dan biopsi sumsum tulang, serta pemeriksaan genetika untuk mengetahui ada tidaknya mutasi gen yang sering menjadi penyebab trombositosis.

Diagnosis trombositosis esensial dapat dipastikan bila ditemukan empat hal berikut ini pada pemeriksaan:

  • Jumlah trombosit selalu di atas 450.000/ul dalam beberapa kali pemeriksaan.
  • Ditemukan megakariosit (sel pembentuk trombosit di sumsum tulang) yang membesar pada pemeriksaan aspirasi atau biopsi sumsum tulang.
  • Pembesaran limpa yang diketahui dari pemeriksaan fisik atau ultrasonografi (USG) perut.
  • Adanya gejala klinis trombosis atau perdarahan yang terjadi berulang.

Gejala

Trombositosis esensial menyebabkan darah penderitanya lebih mudah membeku dibandingkan orang sehat. Hal ini menyebabkan terbentuknya bekuan darah di berbagai tempat di dalam tubuh. Oleh karena itu, gejala trombositosis esensial terjadi karena penyumbatan pembuluh darah oleh bekuan darah.

Salah satu lokasi pembuluh darah yang sering tersumbat akibat penyakit ini adalah pada pembuluh darah di ujung-ujung jari. Hal ini mengakibatkan sensasi nyeri atau seperti terbakar pada ujung-ujung jari. Jika tak segera diatasi, ujung jari dapat mengalami luka dan gangrene akibat aliran darahnya tersumbat.

Selain itu, gejala yang juga sering muncul adalah gejala saraf berupa sakit kepala, dan gejala seperti stroke berupa bicara pelo, pusing berputar, penglihatan terganggu, kejang, pingsan, dan sebagainya.

Tak hanya gejala trombosis, trombositosis esensial juga bisa menimbulkan gejala perdarahan. Kondisi ini paling sering terjadi di saluran pencernaan, ditandai dengan nyeri perut hebat, muntah darah, atau buang air besar encer dan kehitaman. Selain itu, perdarahan juga bisa terjadi di gusi, kulit, saluran kencing, atau di otak.

Jika trombositosis esensial dialami oleh ibu hamil, komplikasi kehamilan seperti keguguran, pertumbuhan janin yang terhambat, dan kematian janin (intrauterine fetal death/ IUFD) juga bisa terjadi.

Namun demikian, tak semua penderita trombositosis esensial merasakan adanya gejala. Studi menemukan bahwa pada sekitar 25-30 persen penderita, tak ada gejala apa pun yang dirasakan. Penyakitnya baru diketahui saat ia melakukan pemeriksaan laboratorium.

Pada 1-5 persen penderita trombositosis esensial, ditemukan bahwa penyakitnya berkembang menjadi leukemia jenis acute myeloid leukemia (AML), yang ditandai dengan demam, mudah infeksi, mudah terjadi perdarahan, dan ditemukan leukosit muda yang sangat banyak pada pemeriksaan darah.

Kondisi trombositosis esensial rentan berubah menjadi AML pada penderita yang berusia 50 tahun ke atas, memiliki jumlah trombosit di atas 1.000.000/ul, dan beberapa gennya mengalami mutasi.

Pengobatan

Pengobatan trombositosis esensial berbeda-beda, tergantung kondisi penderitanya. Pengobatan umumnya diberikan pada penderita dengan kondisi berikut ini:

  • Berusia 60 tahun ke atas
  • Memiliki riwayat terjadi trombosis
  • Memiliki kadar trombosit di atas 1,5 juta/ul
  • Obesitas
  • Memiliki penyakit yang berisiko menyebabkan serangan jantung seperti hipertensi, kolesterol tinggi, atau memiliki kebiasaan merokok
  • Memiliki kelainan imun yang menyebabkan pengentalan darah, misalnya penyakit sindrom antifosfolipid
  • Mengalami mutasi gen JAK2

Jika penderita trombositosis esensial memiliki salah satu kondisi di atas, umumnya pengobatan dengan aspirin dosis rendah akan diberikan untuk mencegah darah terlalu mudah membeku. Aspirin dikonsumsi seumur hidup.

Dalam keadaan trombositosis yang berat, tindakan tromboferesis juga akan dilakukan untuk mengurangi jumlah trombosit di dalam darah. Tromboferesis (plateletpheresis) merupakan prosedur yang mirip dengan hemodialisis, dilakukan dengan menghubungkan pembuluh darah dengan mesin. Darah akan dialirkan ke dalam mesin apheresis, trombosit akan diambil oleh mesin, kemudian sisa komponen darah lainnya dimasukkan kembali ke dalam tubuh.

Selain tindakan tromboferesis, untuk mengurangi jumlah trombosit, penderita juga dapat diberikan obat jenis sitoreduksi seperti hidroksiurea, busulfan, anagrelide, atau interferon.

Sementara itu, penderita trombositosis yang tidak mengalami kondisi khusus di atas, umumnya hanya dipantau secara berkala oleh dokter, tanpa diberikan obat-obatan apa pun. Namun gaya hidup sehat seperti menjaga berat badan ideal, mengatur pola makan, dan berolahraga dengan teratur wajib dilakukan untuk mencegah komplikasi trombositosis.

Pencegahan

Hingga saat ini, belum ada tindakan untuk mencegah terjadinya trombositosis esensial. Namun menjalani pola hidup sehat dapat membantu mencegah terjadinya komplikasi pada penderita trombositosis esensial.