Sukses

Pengertian

Sindrom Restless Leg, dikenal juga dengan Willis Ekbom Disease. Ini adalah suatu kondisi yang memengaruhi sistem saraf. Pada kondisi ini, penderitanya mengalami sensasi tidak menyenangkan pada kaki dan dorongan yang tidak dapat ditahan untuk menggerakkan kakinya.

Penyebab

Pada kebanyakan kasus, penyebab pasti dari sindrom restless leg belum diketahui. Namun, diperkirakan ada faktor genetik yang berpengaruh. Terutama bila dalam keluarga ada yang memiliki riwayat munculnya gejala sebelum usia 40 tahun.

Ditemukan juga disfungsi pada bagian otak basal ganglia (yang bertugas mengatur gerakan) dan bahan kimia otak dopamine (bertugas membantu pergerakan otot yang halus) pada sindrom restless leg. Jumlah dopamine secara normal akan menurun pada malam hari, sehingga sering kali gejala baru muncul pada malam hari.

Selain beberapa penyebab tersebut, terdapat hal lainnya yang berkaitan dengan sindrom ini, seperti:

  • adanya masalah kesehatan yang menyertai, seperti anemia defisiensi besi, penyakit kronis (penyakit ginjal, diabetes, fibromyalgia, dan sebagainya), kehamilan (keluhan umumnya muncul sejak usia kehamilan 27 minggu), atau kerusakan saraf (neuropati)
  • adanya pengaruh beberapa jenis obat-obatan (anti-depresan, anti-psikotik, anti-histamin, lithium, calcium-channel blocker, dan sebagainya)
  • masalah merokok, konsumsi kafein, konsumsi alkohol yang berlebihan
  • kegemukan dan kebiasaan jarang berolahraga
  • stres

Penyakit Sindrom Restless Leg (Africa Studio/Shutterstock)

Diagnosis

Tidak ada pemeriksaan khusus untuk menentukan diagnosis sindrom restless leg. Penggalian informasi seputar gejala yang dialami dan pemeriksaan fisik akan dilakukan untuk membantu menentukan diagnosis.

Kriteria untuk memastikan diagnosis penyakit ini adalah:

  • dorongan kuat untuk menggerakkan kaki yang sering kali disertai sensasi yang abnormal dan tidak menyenangkan
  • dorongan untuk menggerakkan kaki dimulai atau memburuk saat tidak beraktivitas (istirahat)
  • dorongan untuk menggerakkan kaki ini akan membaik secara temporer, sebagian, ataupun total dengan gerakan
  • dorongan untuk menggerakkan kaki memburuk saat sore atau malam hari
  • keempat kondisi tersebut tidak disebabkan oleh masalah medis atau perilaku lainnya

Gejala

Penderita sindrom restless leg akan mengalami sensasi yang abnormal dan tidak nyaman pada kaki (walaupun jarang, bisa juga dialami pada tangan). Sensasi ini bisa berupa nyeri, rasa tertarik, gatal, rasa ada yang merangkak, dan sebagainya. Hal ini biasa terjadi pada kedua sisi, walaupun bisa juga hanya mempengaruhi satu sisi. Sensasi tersebut umumnya membaik seiring dengan gerakan, sehingga penderita akan berusaha untuk selalu menggerakkan kakinya (atau anggota tubuh yang terkena).

Keluhan ini umumnya akan memburuk pada saat sore dan malam hari, dan seringkali tanpa keluhan pada pagi hari. Pada saat tidur, dapat ditemui Periodic Limb Movement in Sleep (PLMS), yaitu gerakan menyentak pada kaki saat tidur. Hal ini dapat mengganggu tidur penderita dan pasangannya. Selain itu, penderita sindrom ini sering kali memiliki kesulitan tidur dan kesulitan tetap tertidur.

Pengobatan

Untuk mengatasi sindrom restless leg, diperlukan beberapa langkah penanganan yang meliputi:

  • Perubahan gaya hidup, seperti:
    • menghindari stimulan atau pemicu masalah seperti kafein, rokok, dan alkohol sebelum tidur
    • berhenti merokok
    • berolahraga tepat dan teratur 4–5 kali seminggu
    • melakukan kebiasaan tidur yang baik: waktu tidur dan bangun yang sama setiap hari, hindari tidur siang, usahakan bersantai sebelum tidur, sediakan kamar yang nyaman dan kondusif untuk tidur
    • menerapkan pola makan sehat dan bergizi
    • menghindari pemicu gejala
  • Jika gejala muncul, beberapa hal dapat dilakukan untuk meredakannya, yaitu:
    • memijat kaki
    • mandi air panas, terutama pada sore hari
    • kompres dingin atau panas pada kaki
    • melakukan aktivitas yang mengalihkan pikiran (misalnya membaca, menonton, dan sebagainya)
    • berjalan dan stretching
    • latihan fisik yang meningkatkan relaksasi, seperti dengan yoga atau tai chi
  • Penggunaan obat-obatan seperti dopamin agonist, anti-nyeri, anti-kejang, obat sedatif untuk membantu tidur, levodopa.

Pencegahan

Sejauh ini belum ada cara pasti untuk mencegah sindrom restless leg. Akan tetapi pola hidup sehat yang menjauhi rokok dan alkohol, menjaga berat badan ideal, serta bergaya hidup aktif bisa menjaga agar kondisi tubuh tetap bugar. Nantinya juga akan menjaga agar otak dan tubuh tidak terpapar stres berlebihan.