Sukses

Pengertian

Sindrom nefrotik merupakan penyakit yang ditandai dengan kerusakan fungsi penyaringan ginjal. Hal ini menyebabkan banyak protein dikeluarkan dari dalam tubuh melalui urine. 

Sindrom nefrotik bisa terjadi pada siapa saja, baik anak-anak maupun orang dewasa. Keduanya memiliki gejala dan pengobatan yang agak berbeda. Artikel ini akan membahas sindrom nefrotik yang terjadi pada anak.

Terdapat dua jenis sindrom nefrotik pada anak, yaitu:

  • Sindrom nefrotik primer: merupakan jenis yang paling umum dan hanya menyerang organ ginjal saja.
  • Sindrom nefrotik sekunder: merupakan sindrom nefrotik yang disebabkan oleh penyakit lain.

Sindrom Nefrotik

Penyebab

Sindrom nefrotik terjadi karena gangguan sistem imunitas tubuh. Sistem imunitas tubuh menganggap ginjal sebagai ‘benda asing yang tak dikenal’ sehingga dilawan oleh sistem imunitas. Namun hingga saat ini, penyebab gangguan sistem imunitas tersebut belum diketahui dengan jelas. 

Diagnosis

Setelah menggali keluhan dan melakukan pemeriksaan fisik, dokter umumnya akan menganjurkan pasien untuk melakukan pemeriksaan:

  • Pemeriksaan urine: pemeriksaan ini bisa dilakukan dengan cara menampung urine pada satu waktu, bisa juga dengan menampung seluruh urine dalam 24 jam. Tujuan pemeriksaan dilakukan adalah untuk mengetahui adanya protein di urine dan berapa banyak jumlahnya. Dalam keadaan normal, seharusnya urine tidak mengandung protein. 
  • Pemeriksaan darah: yang diperiksa adalah fungsi ginjal seperti ureum dan kreatinin, serta pemeriksaan kolesterol total. 
  • USG ginjal: pemeriksaan USG ginjal dibutuhkan untuk melihat apakah ada perubahan bentuk ginjal. 
  • Biopsi ginjal: sebagian besar kasus sindrom nefrotik pada anak perlu dilakukan biopsi untuk mengetahui kelainan mikroskopis yang terjadi di ginjal. Hal ini penting untuk menentukan pengobatannya. Prosedur biopsinya tidak sulit dan dapat dilakukan dengan cepat, umumnya dapat dilakukan di poliklinik rumah sakit. 

Gejala

Gejala utama dari sindrom nefrotik adalah bengkak di seluruh tubuh. Bengkak lebih sering terlihat pada tungkai bawah, punggung kaki, pergelangan kaki, dan di sekitar mata. Selain itu, air seni anak tampak berbusa dan keruh. Pada sebagian kasus, air seni atau urine juga bisa berwarna kemerahan. 

Selain itu, anak juga bisa tidak nafsu makan, diare, dan mudah mengalami infeksi (biasanya ditandai dengan demam, tampak sangat lemas atau rewel, nyeri perut).

Sindrom nefrotik sering menyebabkan komplikasi berupa:

  • Lebih rentan mengalami infeksi influenza dan infeksi paru yang ditandai dengan gejala demam, batuk, dan sesak napas
  • Penyumbatan pembuluh darah
  • Kolesterol meningkat

Pengobatan

Tujuan pengobatan sindrom nefrotik adalah untuk mengendalikan sistem imunitas tubuh agar tidak menerus merusak ginjal, untuk mengeluarkan kelebihan cairan tubuh yang menyebabkan bengkak di berbagai tempat, dan untuk menurunkan tekanan darah. 

Untuk mengendalikan sistem imunitas tubuh, dokter akan memberikan obat kortikosteroid. Obat ini akan mengurangi aktivitas sistem imunitas tubuh sehingga kebocoran protein di ginjal akan berkurang secara perlahan. Umumnya pengobatan dilakukan selama setidaknya enam minggu.

Ada sebagian kasus yang tidak membaik setelah diberikan kortikosteroid. Bila hal ini terjadi, obat golongan imunosupresan seperti siklofosfamid biasanya akan diberikan oleh dokter.

Untuk mengatasi bengkak di seluruh tubuh, dokter akan memberikan obat jenis diuretik untuk mengeluarkan kelebihan cairan yang menumpuk di tungkai bawah, punggung kaki, dan lain-lain. Obat ini menyebabkan penderita lebih sering buang air kecil.

Bila terdapat tekanan darah tinggi, obat untuk menurunkan tekanan darah juga diberikan. Biasanya obat hipertensi yang dipilih adalah obat golongan angiotensin-converting enzyme inhibitor (ACE inhibitor) atau golongan ARB (angiotensin reseptor blocker). Kedua jenis obat ini, selain dapat menurunkan tekanan darah, dapat pula memperbaiki fungsi penyaringan ginjal.

Pencegahan

Belum diketahui tindakan yang dapat mencegah terjadinya sindrom nefrotik.