Sukses

Pengertian

Sindrom Horner adalah kumpulan gejala yang disebabkan oleh kerusakan saraf pada jalur saraf dari otak ke wajah dan mata. Karakteristik dari sindrom ini adalah masuknya bola mata, ptosis kelopak mata atas, kelopak mata atas sedikit naik, kontraksi dari pupil, anhidrosis (penurunan keringat), dan warna kemerahan di sisi wajah yang sakit.

Nama sindrom ini ditetapkan berdasarkan oftalmologis Swiss, bernama Johann Friedrich Horner. Friedrich adalah orang yang mendeskripsikan gejala ini pertama kali pada tahun 1869.

Sindrom Horner

Penyebab

Sindrom Horner terutama disebabkan oleh adanya kerusakan atau gangguan pada jalur saraf simpatis. Gejala sindrom Horner terjadi karena adanya proses di tulang belakang pada servikal VIII sampai dengan torakal I. Pada daerah ini, terdapat saraf simpatis yang berpengaruh pada ptosis.

Penyebab dari sindrom Horner dibagi menjadi tiga, yaitu: 

  • Neuron tingkat pertama, yang terdapat pada hipotalamus, batang otak, dan saraf tulang belakang. Kondisi yang menyebabkan gangguan pada neuron tingkat pertama adalah stroke, tumor, dan cedera leher.
  • Neuron tingkat kedua. Terdapat pada tulang belakang dan leher bagian samping leher. Keadaan yang dapat menyebabkan gangguan pada neuron tingkat dua adalah keganasan daerah leher dan paru, tumor myelin, dan cedera.
  • Neuron tingkat ketiga. Lesi postganglion yang berada pada level arteri karotis interna yang melepas norepinefrin.

Diagnosis

Penentuan diagnosis sindrom Horner dilakukan berdasarkan wawancara medis dan pemeriksaan fisik. Penderita akan mengeluhkan adanya gejala berupa gangguan pada kelopak mata, dan kurang berkeringat pada sisi yang sakit.

Pada pemeriksaan fisik akan terlihat adanya kelopak mata yang tidak seimbang dan pupil mata terlihat miosis. Terdapat tiga jenis pemeriksaan yang dapat digunakan untuk menentukan diagnosis sindrom Horner, yaitu:

  • Cocaine drop test. Mekanisme kerja kokain adalah dengan memblok pengambilan kembali norepinefrin yang normalnya dilepaskan dari ujung-ujung saraf. Jika terjadi gangguan pada jalur simpatis, norepinefrin tidak dilepaskan. Sehingga pemberian kokain tidak berpengaruh dalam menyebabkan midriasis (dilatasi).
  • Paredrine test. Pemeriksaan ini membantu melokalisasi penyebab miosis. Pemeriksaan ini dapat menentukan penyebab miosis khususnya jika penyebab miosis berada di jalur neuron ketiga (neuron yang melepaskan norepinephrine ke celah sinaps).

Gejala

Terdapat beberapa gejala pasien dengan sindrom Horner, yaitu:

  • Enoftalmus. Gangguan di mana letak bola mata lebih ke dalam dari seharusnya, di ruang orbita
  • Anhidrosis, keadaan kulit di mana kulit menjadi kering dan tidak berkeringat
  • Miosis (mengecilnya pupil mata)
  • Perbedaan ukuran pupil kedua mata
  • Kemerahan kulit sekitar mata akibat dilatasi pembuluh darah
  • Kelopak bawah mata terangkat.

Pengobatan

Penanganan pada sindrom Horner tergantung pada penyebab yang mendasarinya. Tujuan pengobatan adalah untuk mengeradikasi proses penyakit yang mendasarinya.

Pencegahan

Tidak ada pencegahan khusus untuk sindrom Horner, namun gejalanya bisa dikelola dengan terapi medis dan obat-obatan.