Sukses

Pengertian

Sindrom Angelman adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi kelainan genetik yang memengaruhi sistem saraf dan menyebabkan disabilitas fisik serta intelektual. Diperkirakan, kondisi ini terjadi pada 1 dari setiap 15.000 kelahiran hidup.

Sayangnya sering kali terjadi salah diagnosis dari sindrom Angelman sebagai cerebral palsy atau autisme. Hal ini disebabkan karena kurangnya kesadaran akan penyakit ini.

Penderita sindrom Angelman memiliki angka harapan hidup yang kurang lebih sama dengan populasi normal. Meski demikian, penderita sindrom ini membutuhkan bantuan seumur hidup untuk dirinya.

Penyebab

Sindrom Angelman disebabkan oleh kelainan fungsi gen UBE3A pada kromosom 15. Normalnya, setiap orang memiliki dua kopi gen UBE3A dari masing-masing orang tua. Kedua kopi gen ini aktif di berbagai jaringan tubuh. Namun pada otak manusia, hanya kopi gen UBE3A dari ibu (kopi maternal) yang aktif. Jika kopi maternal ini hilang, misalnya akibat mutasi genetik atau perubahan kromosom, maka tidak akan ada kopi aktif gen UBE3A pada otak. Hal inilah yang menyebabkan timbul gejala sindrom Angelman.

Berbagai penyebab masalah yang menimbulkan hilangnya kopi maternal gen UBE3A yaitu:

  • Inaktivasi atau delesi dari kopi maternal gen UBE3A, terjadi pada kurang lebih 70 persen kasus
  • Mutasi dari kopi maternal gen UBE3A, terjadi pada kurang lebih 11 persen kasus
  • Paternal Uniparental Disomy, di mana seseorang memiliki dua kopi gen paternal (normalnya satu gen paternal dan satu gen maternal), terjadi pada kurang lebih 3 persen kasus
  • Pada 10–15 persen kasus, penyebab dari sindrom Angelman tidak diketahui.

Pada umumnya, kelainan genetik yang menyebabkan sindrom Angelman tidak diturunkan. Kelainan genetik ini umumnya terjadi secara acak saat pembentukan sel reproduksi (sel telur dan sel sperma) atau saat awal perkembangan janin.

Diagnosis

Untuk menentukan diagnosis sindrom Angelman, pada tahun 2006 yang diterbitkan konsensus yang menetapkan kriteria sebagai berikut:

  • Riwayat perkembangan dan penemuan laboratorium pada sindrom Angelman:
    • Riwayat kehamilan dan persalinan normal, dengan lingkar kepala normal dan tanpa kelainan bawaan mayor. Dapat ditemukan kesulitan menyusu atau makan saat neonatus atau balita.
    • Kelainan perkembangan yang umumnya tampak saat usia 6–12 bulan. Dapat tampak ketidakseimbangan pada gerakan tungkai dan kebiasaan senyum
    • Perkembangan yang terlambat, namun selalu ada progres (tidak ada kehilangan keterampilan)
    • Pemeriksaan laboratorium untuk fungsi metabolik, darah, dan kimiawi normal
    • Struktur otak yang normal pada pemeriksaan MRI atau CT-scan
  • Gejala klinis dari sindrom Angelman: akan dibahas lebih detail pada poin selanjutnya

Selain konsensus di atas, dapat dilakukan pemeriksaan penunjang diagnosis dengan melakukan tes genetik. Berbagai tes yang dapat dilakukan antara lain adalah analisis kromosom, FISH (fluorescence in situ hybridization), DNA methylation, dan analisa mutasi gen UBE3A.

Gejala

Berdasarkan konsensus kriteria diagnosis sindrom Angelman, terdapat beberapa gejala yang dapat ditemukan, antara lain:

  • Konsisten

    • Keterlambatan perkembangan yang tergolong parah secara fungsi
    • Kelainan pergerakan atau keseimbangan, umumnya berupa ataksia atau gemetar pada tungkai saat pergerakan
    • Perilaku yang unik, misalnya sering tertawa atau tersenyum, sikap bahagia, sifat yang mudah bersemangat, sering menggerakkan tangan untuk melambai atau mengepak, hipermotorik
    • Kelainan bicara, di mana penggunaan kata tidak ada atau sangat minim
  • Sering (ditemukan pada hampir 80 persen kasus)

    • Pertumbuhan lingkar kepala terlambat dan tidak sesuai, sering menyebabkan mikrosefali pada usia 2 tahun
    • Kejang, umumnya saat usia di bawah 3 tahun
    • Kelainan dalam pemeriksaan EEG
  • Diasosiasikan (ditemukan pada 20–80 persen kasus)

    • Occiput yang datar atau beralur
    • Lidah terjulur, dapat disertai kesulitan mengisap atau menelan
    • Kesulitan makan atau menyusui
    • Prognathia
    • Mulut lebar, berjarak antar gigi
    • Sering mengeluarkan liur
    • Strabismus
    • Hipopigmentasi pada kulit, warna rambut dan mata yang lebih muda dibandingkan anggota keluarga lainnya
    • Peningkatan sensitivitas terhadap panas
    • Siklus tidur abnormal, berkurangnya kebutuhan tidur
    • Obesitas
    • Konstipasi
    • Skoliosis

Pengobatan

Kondisi ini disebabkan kelainan genetik, sehingga tidak dapat disembuhkan. Penanganan yang ditawarkan akan bergantung pada gejala yang timbul, misalnya:

  • mengonsumsi obat anti-kejang jika terdapat kejang
  • fisioterapi untuk membantu postur, gerakan dan keseimbangan
  • terapi komunikasi, untuk mengembangkan komunikasi non-verbal