Sukses

Pengertian

Sindrom ACA merupakan salah satu jenis penyakit autoimun yang menimbulkan gejala sumbatan pembuluh darah arteri, sumbatan pembuluh darah vena, atau berulang. Penyakit ini juga dikenal dengan nama sindrom antifosfolipid (antiphospholipid syndome) atau sindrom Hughes.

Sindrom ACA lebih banyak dijumpai pada wanita, khususnya yang berusia produktif atau berkisar antara usia 20–40 tahun. Diperkirakan satu dari 20 orang dewasa memiliki penyakit ini.

Penyebab

Sindrom ACA merupakan penyakit autoimun, ditandai dengan munculnya antibodi yang menyerang bagian dari sel tubuh kita sendiri yang disebut sebagai kardiolipin. Penyebab munculnya antibodi tersebut belum diketahui dengan jelas hingga saat ini.

Namun demikian, sindrom ACA lebih sering ditemui pada penderita penyakit autoimun lainnya seperti lupus, sindrom Sjogren, artritis rematoid, dan psoriasis.

Penyakit Sindrom ACA (Twinsterphoto/Shutterstock)

Diagnosis

Umumnya dokter akan mencurigai adanya sindrom ACA pada seseorang bila orang tersebut mengalami keguguran berulang. Selain itu perlu dicurigai juga bila seseorang mengalami stroke, serangan jantung, atau sumbatan pembuluh darah tanpa penyebab yang jelas di usia muda.

Untuk memastikan adanya sindrom ACA, ada beberapa pemeriksaan laboratorium yang harus dilakukan seperti:

  • Lupus anticoagulant (LA)
  • Anticardiolipin antibody (ACA)
  • Anti-beta-2 glycoprotein I

Ketiga pemeriksaan tersebut harus dilakukan dua kali dengan jarak waktu setidaknya 12 minggu. Jika hasil pemeriksaannya positif pada dua waktu tersebut, maka diagnosis sindrom ACA dapat dipastikan.

Selain pemeriksaan laboratorium tersebut, beberapa pemeriksaan juga perlu dilakukan untuk memastikan adanya sumbatan pembuluh darah, seperti pemeriksaan MRI otak (bila diduga stroke), MRI dada (bila diduga adanya sumbatan pembuluh darah paru), atau MRI perut (bila diduga adanya sumbatan di organ hati). Selain itu pemeriksaan ultrasonografi Doppler perlu dilakukan bila diduga ada sumbatan pembuluh darah tungkai.

Gejala

Sindrom ACA bisa menyebabkan sumbatan pada pembuluh darah dan gangguan pada kehamilan.

Jika sindrom ACA menyebabkan sumbatan pada pembuluh darah, maka gejala yang ditimbulkan dapat berupa:

  • Kelemahan tangan atau kaki secara tiba-tiba akibat stroke
  • Tungkai bengkak karena sumbatan pembuluh darah di tungkai
  • Serangan jantung pada usia muda
  • Sesak napas mendadak yang berat akibat sumbatan di pembuluh darah paru (emboli paru)

Sementara itu, pada ibu hamil, sindrom ACA dapat menyebabkan gangguan berupa:

  • Keguguran berulang
  • Persalinan prematur
  • Preeklampsia (keracunan kehamilan)
  • Eklampsia (keracunan kehamilan yang disertai dengan kejang)

Pengobatan

Penderita sindrom ACA cenderung memiliki darah yang ‘kental’. Oleh karena itu, ia harus menghindari hal-hal yang bisa memperberat pengentalan darah. Misalnya kontrasepsi hormonal, kebiasaan merokok, hipertensi, dan hiperlipidemia (kolesterol tinggi).

Selain itu, penderita sindrom ACA umumnya akan diberi aspirin dosis rendah. Aspirin diberikan untuk mencegah sumbatan pembuluh darah.

Bila sumbatan pembuluh darah sudah terlanjur terjadi, maka untuk mengatasi sumbatan tersebut, dokter akan memberikan obat ‘pengencer darah’ berupa antikoagulan, yaitu heparin atau warfarin. Obat ini harus digunakan dalam jangka panjang, dan perlu dilakukan pengawasan ketat oleh dokter untuk memastikan dosis obatnya tepat.

Umumnya perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium berupa pemeriksaan activated partial thromboplastin time (aPTT) atau international normalized ratio (INR) secara rutin setiap bulan. Tujuannya untuk memastikan dosis obat yang diterima sudah tepat.

Bila sindrom ACA terjadi pada ibu jamil, maka pengobatan akan dilakukan dengan menyuntikkan antikoagulan heparin dan mengonsumsi aspirin setiap hari hingga beberapa hari setelah melahirkan.

Pencegahan

Tidak ada hal yang dapat dilakukan untuk mencegah sindrom ACA. Namun bila seseorang menderita sindrom ACA, sebaiknya orang tersebut tidak menggunakan kontrasepsi hormonal dan menghindari paparan asap rokok untuk mencegah darah lebih kental dan mencegah sumbatan pembuluh darah.