Sukses

Pengertian

Shigellosis merupakan penyakit pada usus yang disebabkan oleh kelompok bakteri yang dikenal dengan nama Shigella. Umumnya, kondisi ini ditandai dengan adanya gejala diare, yang sering kali disertai darah.

Shigella dapat ditularkan melalui kontak secara langsung dengan bakteri yang terdapat pada feses. Sebagai contoh, hal ini dapat terjadi saat seseorang sedang mengganti popok anak atau membantu anak melakukan toilet training, tetapi tidak membersihkan tangan dengan baik.

Bakteri Shigella juga dapat ditularkan melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi. Kondisi lain yang juga dapat membuat seseorang tertular Shigella adalah saat berenang di air yang terkontaminasi.

Anak-anak yang berusia 2–4 tahun merupakan kelompok yang paling sering tertular infeksi shigellosis. Kasus yang ringan umumnya dapat mereda dalam satu minggu.

Penyakit Shigellosis (Kateryna Kon/Shutterstock)

Penyebab

Shigellosis dapat terjadi saat seseorang menelan bakteri Shigella secara tidak sengaja. Hal ini dapat terjadi apabila seseorang:

  • Menyentuh mulut dengan tangan kotor. Bila seseorang tidak mencuci tangan dengan baik dan bersih setelah mengganti popok anak yang terinfeksi bakteri Shigella, orang tersebut dapat tertular. Kontak langsung dari satu individu ke individu lainnya merupakan salah satu cara yang paling sering untuk penularan penyakit.
  • Mengonsumsi makanan yang terkontaminasi. Individu yang terinfeksi dan bekerja mengolah makanan dapat menularkan bakteri ke individu yang mengonsumsi makanan tersebut. Makanan juga dapat terkontaminasi bakteri apabila tumbuh di ladang yang terkontaminasi oleh limbah.
  • Menelan air yang terkontaminasi. Air dapat terkontaminasi bakteri dari limbah atau dari individu yang terinfeksi bakteri Shigella, yang berenang di air tersebut.

Beberapa faktor juga dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami shigellosis, yaitu:

  • Anak-anak. Infeksi shigellosis paling sering terjadi pada anak-anak yang berusia 2–4  tahun.
  • Tinggal secara berkelompok atau sering berpartisipasi pada aktivitas kelompok. Kontak yang dekat dengan individu lainnya dapat meningkatkan kemungkinan penularan bakteri dari satu individu ke individu lainnya. Kasus shigellosis yang terjadi secara bersamaan sering ditemui pada pusat perawatan anak, kolam renang umum, panti jompo, penjara, dan tempat tinggal massal lainnya.
  • Tinggal di area yang kurang sanitasi. Individu yang tinggal atau berkunjung ke daerah pelosok suatu negara berkembang, terutama area yang tidak terlalu bersih, memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk mengalami infeksi shigellosis.

Gejala

Tanda dan gejala shigellosis umumnya timbul satu hingga dua hari setelah kontak dengan bakteri Shigella. Akan tetapi bakteri ini terkadang membutuhkan waktu hingga satu minggu untuk berkembang.

Tanda dan gejala yang dialami biasanya meliputi:

  • Diare (sering kali disertai darah atau lendir)
  • Nyeri atau kram pada perut
  • Demam

Walaupun sebagian orang tidak mengalami gejala setelah terinfeksi dengan bakteri Shigella, tetapi fesesnya tetap dapat memiliki efek tular hingga beberapa minggu.

Diagnosis

Diare, baik yang disertai darah maupun tidak, bisa terjadi akibat sejumlah penyakit. Untuk memastikan adanya diagnosis shigellosis umumnya membutuhkan pengambilan sampel feses untuk dievaluasi lebih lanjut di laboratorium.

Dari hasil pemeriksaan laboratorium, bisa dipastikan adanya bakteri Shigella atau zat beracun dari bakteri tersebut.

Penanganan

Infeksi shigellosis umumnya berlangsung selama 5–7 hari. Menggantikan cairan tubuh yang hilang akibat diare merupakan salah satu elemen penting dari penanganan masalah.

Beberapa langkah penanganan yang umumnya dilakukan adalah:

  • Pemberian antibiotik. Pada infeksi shigellosis yang berat, pengobatan dengan antibiotik dinilai dapat memperpendek durasi keluhan pasien. Namun, sebagian jenis bakteri Shigella juga diketahui bersifat resisten terhadap beberapa jenis antibiotik. Oleh sebab itu, pemberian antibiotik sebaiknya dilakukan sesuai anjuran dokter setelah dilakukan wawancara medis yang terinci dan pemeriksaan fisik secara langsung.
  • Antibiotik sering kali dibutuhkan dalam kasus yang terjadi pada anak-anak, individu lanjut usia, dan individu dengan infeksi HIV. Pengobatan ini diperlukan terutama pada situasi ketika terdapat risiko tinggi untuk penularan penyakit.
  • Asupan cairan pengganti. Pada orang dewasa tanpa keluhan lain, mengonsumsi air dalam jumlah yang cukup dapat membantu menghindari efek dehidrasi akibat diare. Selain itu, cairan rehidrasi oral juga dapat bermanfaat.

Anak-anak dan orang dewasa yang mengalami dehidrasi berat butuh dirawat di ruang darurat. Hal ini diperlukan agar petugas kesehatan dapat secara intensif memberikan cairan pengganti melalui pembuluh darah vena. Cairan pengganti melalui infus dapat memberikan air dan nutrisi esensial bagi tubuh dengan lebih cepat dibandingkan cairan rehidrasi oral.

Pencegahan

Saat ini, World Health Organization sedang melakukan penelitian untuk mengembangkan vaksin untuk mencegah terjadinya shigellosis. Namun, beberapa cara dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk mencegah seseorang terinfeksi dari bakteri Shigella, di antaranya adalah:

  • Rajin mencuci tangan dengan seksama
  • Mengamati anak saat mencuci tangan
  • Membuang popok yang kotor pada tempatnya
  • Mendisinfektasi tempat penggantian popok setelah setiap penggunaan
  • Tidak menyiapkan makanan bagi orang lain saat mengalami diare
  • Memastikan bahwa anak yang mengalami diare tidak bepergian ke sekolah, tempat pengasuhan anak, atau kelompok bermain
  • Mencegah menelan air dari kolam, danau, atau kolam renang yang tidak dibersihkan
  • Menghindari aktivitas seksual dengan orang lain yang mengalami diare atau baru saja sembuh dari diare