Sukses

Pengertian

Shaken baby syndrome merupakan cedera pada otak bayi dan anak, yang umumnya disebabkan karena kekerasan yang dilakukan oleh orang tua atau pengasuhnya. Kondisi ini disebut juga dengan abusive head trauma (AHT). Biasanya shaken baby syndrome dicetuskan karena rasa marah atau frustasi dari orang tua atau pengasuh karena anak menangis tak henti.

Shaken baby syndrome umumnya terjadi pada bayi hingga anak usia 5 tahun. Kasus terbanyak dialami oleh bayi berusia 6–8 minggu.

Penyebab

Saat orang dewasa mengguncang badan bayi atau anak (biasanya akibat emosi atau frustasi terhadap si Kecil), kepala bisa mengalami guncangan hebat karena otot leher tak menyangga kepala dengan baik. Hal inilah yang mencetuskan terjadinya shaken baby syndrome.

Kondisi akan lebih berat bila kejadian tersebut diakhiri dengan benturan, misalnya benturan ke lantai atau ke tempat tidur bayi.

Diagnosis

Menentukan diagnosis shaken baby syndrome bukan hal yang mudah karena bayi dan anak belum bisa menyampaikan keluhannya. Selain itu, jika pelakunya orang tua atau pengasuh, umumnya mereka berusaha menyembunyikan tindakan kekerasan yang pernah dilakukan.

Oleh karena itu, pada umumnya serangkaian pemeriksaan perlu dilakukan. Di antaranya adalah:

  • Pemeriksaan funduskopi pada mata untuk melihat ada tidaknya perdarahan di dalam mata
  • CT-scan kepala dan perut untuk melihat adanya cedera dan perdarahan
  • Pemeriksaan darah rutin
  • Analisis cairan otak jika diduga ada perdarahan di daerah subarakhnoid di otak

Gejala

Gejala shaken baby syndrome tak selalu langsung terlihat setelah kejadian cedera. Sering kali setelah kejadian, bayi terlihat baik-baik saja. Gangguan saraf dan perkembangan biasanya baru terlihat di kemudian hari. Tak jarang, dampak dari shaken baby syndrome tersebut baru terlihat saat anak memasuki usia sekolah.

Namun pada cedera kepala yang berat, gejala bisa langsung terlihat segera setelah kejadian. Gejalanya antara lain adalah:

  • Terlihat sangat lemas
  • Gelisah dan sangat rewel
  • Muntah menyemprot
  • Tidak bisa menyusu atau menelan makanan
  • Kejang
  • Sesak napas
  • Penurunan kesadaran
  • Mata tidak bisa fokus mengikuti satu obyek tertentu

Satu dari empat bayi yang mengalami shaken baby syndrome meninggal dunia. Sementara itu, pada bayi yang bertahan hidup, komplikasi jangka panjang bisa terjadi, di antaranya adalah:

  • Kebutaan
  • Gangguan pendengaran
  • Kejang berulang
  • Keterlambatan perkembangan
  • Gangguan bicara
  • Gangguan belajar, misalnya disleksia
  • Retardasi mental
  • Cerebral palsy

Pengobatan

Pengobatan untuk kasus shaken baby syndrome sangat bervariasi, tergantung usia dan keadaan anak. 

Bila anak dalam kondisi sakit berat, letakkan anak dalam kondisi telentang tanpa bantal, lalu segera bawa ke rumah sakit terdekat. Jika dari pemeriksaan ditemukan adanya perdarahan di otak, maka umumnya operasi untuk mengalirkan darah keluar dari otak akan diperlukan. Demikian juga jika ditemukan adanya perdarahan di retina mata, operasi pada daerah mata diperlukan untuk memperbaiki penglihatan anak dan mencegah kebutaan.

Pengobatan untuk kasus shaken baby syndrome sebaiknya dilakukan bersama dengan tim yang terdiri dari dokter, perawat, dan psikolog. Pengacara dan polisi juga bisa terlibat jika didapatkan adanya dugaan masalah pidana.

Selain itu, umumnya anak yang mengalami shaken baby syndrome membutuhkan tindakan rehabilitasi medik dan fisioterapi. Penanganan ini diperlukan untuk mengatasi keterlambatan perkembangan yang dialami.

Pencegahan

Shaken baby syndrome sepenuhnya bisa dicegah asalkan tindakan kekerasan pada anak bisa dihindari. Berikut ini beberapa hal yang sebaiknya dilakukan oleh orang tua untuk mencegah terjadinya penyakit ini:

  • Ingatkan terus diri sendiri dan pasangan bahwa memukul, melempar, atau mengguncang bayi sama sekali tidak boleh dilakukan.
  • Jika anak menangis tak henti dan memancing emosi orang tua, orang tua sebaiknya mengendalikan diri dengan menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Lakukan setidaknya sebanyak 10 kali.
  • Jika anak menangis tak henti dalam waktu yang lama, pertimbangkan untuk membawanya ke dokter untuk mengetahui kemungkinan adanya gangguan kesehatan yang dialami anak.
  • Jangan pernah tinggalkan anak dengan pengasuh atau anggota keluarga yang tak jelas apakah dapat dipercaya atau tidak.
  • Jika memutuskan untuk menitipkan anak pada pengasuh atau di tempat penitipan anak, selalu cari informasi sebanyak-banyaknya mengenai rekam jejak pengasuh atau tempat penitipan anak tersebut.