Sukses

Pengertian

Rhabdomyolisis adalah suatu kondisi di mana terjadi kerusakan sel-sel otot dalam jumlah besar dan dalam waktu singkat. Penyakit ini tergolong langka.  Data menunjukkan kondisi ini dapat dialami 1 dari 10.000 orang yang mengonsumsi obat statin dalam waktu yang lama.

Bila tidak segera tertangani, sel otot yang rusak ini dapat masuk ke aliran darah dan merusak ginjal. Dalam jangka panjang panjang, kerusakan ini akan menyebabkan gagal ginjal yang sifatnya permanen.

Diagnosis

Untuk memastikan diagnosis rhabdomyolisis, maka perlu dilakukan pemeriksaan darah untuk melihat kadar kreatinin kinase, hasil samping penghancuran otot yang dilepaskan ke darah.

Selain kreatinin kinase, otot yang mengalami kerusakan juga akan melepaskan melepaskan myoglobin ke urine. Oleh karena itu, pemeriksaan urine untuk memastikan keberadaan myoglobin ini juga tidak kalah penting.

Walau tidak setiap orang dengan rhabdomyolisis menunjukkan hasil positif, pemeriksaan myoglobin ini tetap harus dilakukan.

Penyebab

Penyebab rhabdomyolisis dibagi menjadi dua, traumatik dan non traumatik. Penyebab yang sifatnya traumatik seperti:

  • Kecelakaan dan benturan
  • Tekanan pada otot akibat tirah baring dalam jangka waktu lama misalnya perawatan lama di rumah sakit pada orang yang tidak sadar
  • Tersengat listrik
  • Luka akibat gigitan serangga atau ular

Sedangkan penyebab yang sifatnya non traumatik meliputi:

  • Penggunaan obat-obatan terlarang dan alkohol
  • Cedera otot akibat aktivitas atau olahraga
  • Penggunaan statin dalam dosis tinggi dan jangka panjang
  • Suhu tubuh yang tinggi (hipertermia) atau heat stroke
  • Kejang
  • Diabetes ketoasidosis
  • Infeksi bakteri yang menyebar ke darah (sepsis)
  • Infeksi virus misalnya flu, herpes dan HIV

Gejala

Tiga gejala klasik yang dialami pada rhabdomyolisis adalah:

  • Nyeri otot di bahu, paha atau punggung
  • Kelemahan otot tangan dan kaki
  • Urine menjadi sedikit dan berwarna merah gelap atau cokelat.

Selain tiga gejala khas tersebut, seseorang dengan rhabdomyolisis juga kerap mengalami:

  • Nyeri perut
  • Mual muntah
  • Demam
  • Frekuensi detak jantung meningkat
  • Penurunan kesadaran, dehidrasi

Walau demikian, pada beberapa kasus seseorang dengan rhabdomyolisis tidak mengalami keluhan otot sama sekali.

Pengobatan

Untuk menangani rhabdomyolisis, seorang pasien umumnya dirawat inap di rumah sakit untuk mendapatkan infus cairan. Pemberian infus ini bertujuan menjaga produksi urine dan mencegah dehidrasi. Pada beberapa kasus, di mana terjadi penurunan kerja ginjal, terapi dengan cuci darah atau hemodialisa juga diperlukan.

Selain itu, gangguan fungsi ginjal yang disebabkan oleh rhabdomyolisis juga kerap menimbulkan ketidak-seimbangan elektrolit. Pada kasus yang demikian, pemberian terapi tambahan elektrolit seperti kalium, natrium dan fosfor juga dibutuhkan. Menjaga kadar elektrolit darah tetap seimbang menjadi hal penting untuk menghindari gangguan kerja jantung dan organ penting lainnya.

Walaupun jarang, sel otot yang mati dapat menekan jaringan sekitarnya dan mengakibatkan penekanan serta gangguan peredaran darah. Kondisi yang diakibatkannya ini dinamakan kompartemen sindrom. Efeknya, jaringan sekitarnya yang kurang mendapat aliran darah akan rusak dan mati. Salah satu cara mengobatinya adalah dengan tindakan operasi yang membuang sel otot yang sudah mati sehingga aliran darah kembali lancar.

Bila rhabdomyolisis disebabkan oleh kondisi lain, misalnya diabetes atau gangguan hormon tiroid, maka penyakit yang mendasarinya ini juga harus mendapat perhatian dan teratasi dengan baik.

Komplikasi

Ketidak-seimbangan elektrolit sebagai dampak dari rhabdomyolisis dapat menyebabkan gangguan irama jantung, henti jantung dan kerusakan ginjal. Selain jantung dan ginjal, 1 dari 4 pasien rhabdomyolisis juga mengalami gangguan fungsi hati.

Kompartemen sindrom juga berpotensi terjadi sebagai salah satu komplikasi akibat penekanan sel otot yang rusak ke jaringan sekitarnya. Akibatnya, jaringan yang ditekan akan terganggu pasokan darah serta nutrisinya dan bukan tidak mungkin terjadi kematian sel yang menyebar luas.

Pencegahan

Rhabdomyolisis depat dicegah dengan berbagai langkah:

  • Melakukan kontrol ketat bila memiliki penyakit yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kerusakan otot seperti diabetes dan tiroid
  • Cukup pemanasan sebelum berolahraga
  • Mobilisasi pada pasien yang tirah baring dalam jangka waktu lama
  • Pemeriksaan darah dan urine rutin pada penggunaan obat yang berisiko misalnya statin.