Sukses

Pengertian

Regurgitasi aorta adalah kelainan katup aorta yang ditandai dengan katup yang tak bisa menutup dengan rapat. Katup aorta merupakan salah satu dari empat katup di jantung. Katup ini membatasi bilik jantung kiri dan pembuluh darah aorta yang akan memompakan darah ke seluruh tubuh.

Berdasarkan waktu terjadinya, regurgitasi aorta terdiri dari dua jenis, yaitu:

  • Regurgitasi aorta akut: kelainan katup aorta terjadi mendadak, mengakibatkan gejala yang berat seperti sesak napas yang hebat dan nyeri dada. Kondisi ini biasanya membutuhkan penanganan berupa tindakan operasi.
  • Regurgitasi aorta kronis: kelainan katup aorta terjadi perlahan-lahan dan ada kemungkinan tidak menimbulkan gejala apa pun.

Regurgitasi aorta lebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan. Regurgitasi aorta akut umumnya dialami oleh orang dewasa mudah berusia sekitar 20–30 tahun. Sementara itu, regurgitasi aorta kronis lebih banyak ditemui pada mereka yang berusia 50–80 tahun.

Penyebab

Penyebab kedua jenis regurgitasi aorta, akut dan kronis berbeda. Regurgitasi aorta akut paling sering disebabkan oleh endokarditis infektif, yaitu penyakit infeksi yang menyerang lapisan terdalam jantung. Selain itu, regurgitasi aorta akut bisa disebabkan oleh cedera pada rongga dada yang menyebabkan robekan pada pembuluh darah aorta dan katupnya.

Sementara itu, regurgitasi aorta kronis dapat disebabkan oleh banyak hal, di antaranya adalah:

  • Penyakit demam rematik
  • Kelainan sendi berupa ankylosing spondylitis
  • Efek samping obat, seperti fenfluramine dan dexfenfluramine
  • Rematik (rheumatoid arthritis)
  • Lupus (systemic lupus erythematosus)
  • Penyakit autoimun pada pembuluh darah besar yang disebut arteritis Takayasu
  • Sindrom Marfan
  • Sindrom Ehler-Danlos

Diagnosis

Pada pemeriksaan awal untuk menentukan diagnosis regurgitasi aorta, dokter akan melakukan wawancara menyeluruh dan pemeriksaan fisik lengkap pada pasien. Dokter akan mendengarkan bunyi jantung pasien dengan stetoskop untuk meyakinkan adanya regurgitasi aorta. Lalu untuk memastikannya, akan dilakukan pemeriksaan ekokardiografi (semacam ultrasonografi/ USG yang dilakukan di jantung). Dari pemeriksaan tersebut, dapat diketahui kondisi katup-katup jantung, termasuk katup aorta, serta dapat dinilai seberapa berat kelainan yang terjadi.

Jika telah dipastikan terdapat regurgitasi aorta melalui pemeriksaan ekokardiografi, selanjutnya dokter akan melakukan pemeriksaan untuk mencari tahu penyebab regurgitasi aorta. Pemeriksaan tambahan tersebut di antaranya adalah pemeriksaan darah lengkap, fungsi pembekuan darah (prothrombin time dan activated partial thromboplastin time), elektrolit, kultur darah, dan sebagainya.

Gejala

Gejala yang mengiringi regurgitasi aorta akut dan kronis pun berbeda. Regurgitasi aorta akut ditandai dengan sesak napas yang berat dan mendadak, serta dapat disertai nyeri dada yang hebat yang terasa seperti disayat-sayat. Gejala-gejala tersebut muncul tiba-tiba dalam hitungan jam atau hari.

Regurgitasi aorta kronis umumnya tidak menimbulkan gejala selama bertahun-tahun. Bila kelainan katupnya cukup berat, lama kelamaan akan timbul gejala seperti dada berdebar-debar, detak jantung teraba lebih kencang dari biasanya, sesak napas, nyeri dada, bahkan bisa terjadi kejadian meninggal mendadak.

Pengobatan

Regurgitasi aorta akut umumnya ditangani dengan operasi penggantian katup. Namun karena regurgitasi aorta akut menyebabkan gagal jantung, tindakan operasi perlu ditopang oleh obat untuk meningkatkan tekanan darah, seperti dopamin atau dobutamin. Untuk mencegah terjadinya infeksi pasca operasi, pasien juga akan diberikan antibiotik.

Pada regurgitasi aorta kronis, antibiotik juga diberikan bila penyebab regurgitasi aorta karena infeksi. Selain itu, pasien akan diberi obat untuk menurunkan jumlah darah yang harus dipompa keluar dari jantung agar kerja jantung tak terlalu berat. Jika kelainan katup aorta yang terjadi cukup berat, maka operasi penggantian katup juga kadang diperlukan.

Pencegahan

Belum ada tindakan pencegahan yang dapat dilakukan untuk menghindari terjadinya regurgitasi aorta.