Sukses

Pengertian Priapismus

Priapismus merupakan kondisi ereksi penis yang berkepanjangan dan di luar keinginan orang yang mengalaminya. Priapismus umumnya tidak berhubungan dengan aktivitas seksual.

Hal yang membahayakan dari kondisi ini adalah adanya risiko kerusakan jaringan penis, bila priapismus terjadi berkepanjangan. Priapismus tergolong langka atau jarang terjadi, namun kebanyakan dialami oleh orang yang berusia 20–50 tahun.

Terdapat tiga tipe priapismus, yaitu:

  • Priapismus tipe iskemik. Tipe ini terjadi karena terjebaknya darah di penis setelah ereksi. Tidak ada penyebab pasti bagaimana kondisi ini terjadi. Namun umumnya, priapismus tipe ini banyak dialami pria yang menderita penyakit sel sabit (sel darah merah berbentuk seperti sabit) atau leukemia.
  • Priapismus tipe rekuren. Priapismus tipe ini sangat jarang terjadi. Biasanya banyak menyerang pria yang menderita penyakit anemia jenis penyakit sel sabit (sel darah merah berbentuk seperti sabit)
  • Priapismus tipe non iskemik. Kondisi yang satu ini juga tergolong jarang terjadi. Tipe ini disebabkan karena aliran darah di penis yang tak terkendali. Umumnya hal ini dipicu karena adanya cedera pada penis atau daerah skrotum dan anus.

Priapismus

Penyebab Priapismus

Terdapat berbagai penyebab priapismus. Beberapa di antaranya adalah:

  • Efek samping obat. Beberapa jenis obat diketahui dapat memengaruhi saraf di penis. Saraf tersebut akan menstimulasi pembuluh darah di penis untuk memasukkan banyak darah ke penis dan menyebabkan ereksi.
  • Zat psikoaktif. Pengguna ganja, kokain, atau ekstasi dapat mengalami penyakit ini.
  • Anemia jenis sel sabit. Penyakit anemia sel sabit merupakan jenis anemia yang jarang terjadi. Namun studi mencatat bahwa lebih dari 40 persen penderita anemia sel sabit pernah mengalami priapismus.
  • Kelainan darah. Kelainan darah seperti leukemia dan mieloma multipel diketahui dapat menyebabkan penyakit ini juga.

Diagnosis Priapismus

Untuk memastikan adanya priapismus, dokter akan melakukan wawancara medis secara mendetail dan pemeriksaan fisik. Dokter akan menilai kondisi penis untuk melihat beratnya priapismus yang terjadi.

Untuk mengetahui hal yang menyebabkan priapismus kadang kala dibutuhkan pemeriksaan penunjang. Jenis pemeriksaan penunjang yang bisa dilakukan antara lain pemeriksaan darah, ultrasonografi (USG), atau pemeriksaan toksikologi pada urine.

Gejala Priapismus

Gejala utama priapismus adalah ereksi yang berkepanjangan. Umumnya, ereksi ini muncul tiba-tiba, tanpa dicetuskan oleh gairah seks atau aktivitas seksual. Akibat dari ereksi terus menerus, penis akan terasa nyeri.

Bila terjadi berkepanjangan, lama kelamaan jaringan penis akan rusak dan mati. Di kemudian hari penis menjadi kurang sensitif terhadap rangsangan seksual dan dapat pula terjadi disfungsi ereksi.

Pengobatan Priapismus

Waktu emas (golden period) dari pengobatan priapismus adalah 4 jam. Artinya, sebisa mungkin priapismus harus diobati selambat-lambatnya dalam waktu 4 jam, terhitung dari munculnya gejala. Bila lebih dari 4 jam, komplikasi disfungsi ereksi sangat mungkin terjadi.

Untuk mengatasi priapismus dalam 4 jam setelah kejadian, umumnya akan diberikan obat dekongestan. Meski umumnya digunakan untuk mengatasi pilek, obat ini juga memiliki efek menurunkan aliran darah di penis sehingga dapat menurunkan ereksi.

Bila tak berhasil, maka diperlukan tindakan yang lebih invasif. Salah satunya adalah dengan aspirasi menggunakan jarum suntik. Tindakan ini dilakukan dengan cara memasukkan jarum ke dalam penis untuk ‘menyedot’ darah di penis agar ereksi berkurang.

Jika tindakan tersebut masih tak berhasil juga, maka operasi kadang perlu dilakukan. Tujuan dilakukan operasi adalah untuk mengalirkan darah dari penis ke tempat lain agar darah tak terus berkumpul dalam jumlah banyak di penis. Bila diatasi dengan cepat, penis yang mengalami priapismus akan dapat pulih seperti semula.

Pencegahan Priapismus

Tak semua kejadian priapismus dapat dicegah. Salah satu penyebab priapismus yang dapat dicegah adalah penggunaan zat psikoaktif. Oleh karena itu, menghindari penggunaan narkoba akan menurunkan risiko terjadinya priapismus.