Sukses

Pengertian

Polimiositis terjadi apabila otot mengalami peradangan. Peradangan ini dapat terjadi di otot mana pun dan bisa menyerang ke jaringan sekitarnya juga, termasuk pembuluh darah di sekeliling otot yang terkena. Akibatnya, otot menjadi lemah dan sulit bergerak.

Diagnosis

Penentuan diagnosis polimiositis dilakukan atas dasar wawancara medis dan pemeriksaan fisik. Pada wawancara medis didapatkan keluhan otot yang lemah dan sulit digerakkan. Pemeriksaan fisik akan mengonfirmasi kelemahan otot tersebut dan menilai seberapa parah tingkat kelemahan yang terjadi.

Selain wawancara medis dan pemeriksaan fisik, dibutuhkan juga pemeriksaan penunjang berupa:

  • Pemeriksaan darah

Pada pemeriksaan darah akan dievaluasi tanda-tanda peradangan dan keberadaan protein yang abnormal, sebagai tanda dari penyakit autoimun.

  • Elektromiogram (EMG)

Untuk mengevaluasi aktivitas hantaran listrik yang abnormal pada otot.

  • Magnetic Resonance Imaging (MRI)

MRI digunakan untuk melihat seberapa luas peradangan yang terjadi.

  • Biopsi otot

Biopsi otot dilakukan dengan memeriksa sedikit jaringan otot di bawah mikroskop.

Penyebab

Sampai sejauh ini, penyebab pasti polimiositis belum diketahui. Walau demikian, ada beberapa hal yang dapat meningkatkan seseorang menderita penyakit ini, yaitu usia 31–60 tahun dan adanya infeksi virus maupun autoimun yang mendahuluinya.

Pada beberapa kasus, riwayat penggunaan obat alergi juga dapat mencetuskan polimiositis ini.

Gejala

Beberapa gejala yang dialami pada polimiositis meliputi:

  • Nyeri dan kaku otot
  • Kelemahan otot terutama pada perut, pundak, lengan atas, dan panggul
  • Kaku sendi
  • Sesak napas
  • Kesulitan menelan
  • Irama jantung yang tidak teratur bila peradangan juga terjadi pada otot jantung

Pengobatan

Polimiositis ditangani dengan berbagai modalitas terapi, meliputi terapi dengan obat, fisioterapi, dan infus imunoglobulin.

Obat yang kerap digunakan untuk mengobati polimiositis yaitu:

  • Kortikosteroid
  • Obat kombinasi kortikosteroid seperti azatropin dan metrotreksat
  • Rituximab. Obat ini digunakan bila polimiositis tidak tertangani baik dengan pengobatan standar

Fisioterapi dan terapi bicara dilakukan berdasarkan kebutuhan masing-masing penderita. Pada penderita dengan gangguan menelan, konsultasi guna pengaturan jenis makanan juga diperlukan. Tujuannya agar kebutuhan gizi penderita tetap terpenuhi dengan baik.

Infus immunoglobulin (IVIg) juga dapat digunakan sebagai salah satu modalitas terapi pasien polimiositis. Immunoglobulin ini merupakan bagian darah yang telah melalui proses penyaringan dari rinuan donor dan berisi sel kekebalan tubuh sehat. Sel ini diharapkan dapat menghalangi kerja antibodi abnormal yang mencetuskan peradangan otot.

Komplikasi

Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi pada kasus polimiositis adalah:

  • Kesulitan menelan akibat kelemahan otot esofagus
  • Pneumonia akibat aspirasi saat minum atau makan
  • Sesak napas hingga gagal napas

Pencegahan

Karena penyebab pastinya belum diketahui, tidak ada langkah pencegahan spesifik untuk menghindari penyakit ini. Pada polimiositis yang dicetuskan obat, penghentian dan penyesuaian jenis obat dapat dilakukan dengan di bawah pengawasan dokter.