Sukses

Pengertian

Pika adalah suatu bentuk gangguan pola makan, di mana orang yang mengalaminya akan mengonsumsi bahan-bahan yang tidak memiliki atau hanya memiliki sedikit nilai gizi. Pola ini berlangsung secara terus-menerus selama setidaknya satu bulan. Selain itu, gangguan makan ini juga umumnya terjadi pada usia ketika tindakan tersebut sudah tidak sesuai dengan tingkat perkembangan umur orang tersebut.

Penderita pika sering kali mengonsumsi bahan yang sebenarnya bukan merupakan makanan. Jumlah yang dikonsumsi biasanya banyak dan penderita umumnya tidak memperhatikan nilai gizi yang diperlukan tubuhnya. Contoh bahan yang sering dikonsumsi penderita pika antara lain kertas, sabun, kain, rambut, benang, tanah, kapur, bedak, cat, kerikil, arang, abu, tanah liat, kanji/pati, es batu, dan sebagainya.

Penyebab

Penyebab pasti perilaku pika belum diketahui hingga saat ini. Namun terdapat beberapa teori yang berusaha menjelaskan alasan seseorang melakukan pika, yaitu:

• Adanya anemia akibat kekurangan zat besi dan malnutrisi.
Pika dikaitkan dengan kekurangan zat besi, kalsium, zink, dan zat lainnya (seperti thiamine, niacin, vitamin C dan D). Diperkirakan, tubuh seseorang yang mengalami malnutrisi berusaha untuk mencari pengganti zat yang kurang tersebut, salah satunya dengan mengonsumsi bahan-bahan tertentu.
• Seseorang dengan masalah kesehatan mental dan mengalami keterbatasan untuk menjalankan fungsi kehidupan sehari-hari. Misalnya: cacat mental, autisme, skizofrenia, dan sebagainya.
• Faktor kultur, norma sosial, dan keluarga. Misalnya: beberapa kebudayaan memiliki tradisi mengonsumsi tanah dan tanah liat.
• Stres.
• Golongan sosial-ekonomi rendah.

Diagnosis

Pengumpulan informasi dari penderita biasanya cukup untuk menentukan diagnosis pika. Sering kali pelaku pika malu untuk mengakui perbuatannya. Pertanyaan yang tidak bersifat menghakimi akan lebih membantu penderita untuk mengakui perilakunya. Misalnya dengan memintanya menjelaskan mengenai pola makan, jenis makanan yang dimakan sebagai camilan, adanya keinginan kuat untuk makanan suatu bahan atau jenis makanan tertentu, sesuatu yang wajib dimakan, dan seterusnya.

Berdasarkan The Diagnostic and Statistic Manual of Mental Disorders, Fifth Edition (DSM-5), berikut beberapa kriteria pika:

• Perilaku mengonsumsi bahan yang tidak memiliki nutrisi dan bukan bahan makanan secara terus-menerus dan dilakukan untuk jangka waktu minimal satu bulan.

• Perilaku makan yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan umur individu. Anak berusia di bawah dua tahun sering kali memasukkan berbagai benda ke dalam mulutnya. Tindakan ini merupakan bagian normal dari perkembangan anak yang berusaha mengeksplorasi berbagai sistem indranya. Oleh sebab itu, anak di bawah dua tahun tidak bisa disebut penderita pika.

Namun lain halnya bila perilaku tersebut dilakukan oleh anak yang lebih besar atau orang dewasa.

• Perilaku konsumsi bahan tertentu yang tidak sesuai dengan kebiasaan, normal sosial, atau kebudayaan setempat.

• Jika perilaku ini terjadi bersamaan dengan adanya kondisi medis tertentu atau masalah mental (misalnya autisme, skizofrenia, atau kehamilan), maka kondisi yang lebih berat memerlukan perhatian dan pemeriksaan klinis tersendiri.

Gejala

Perilaku pika sesuai dengan kriteria DSM-5 merupakan gejala yang berkaitan dengan pola makan penderita. Dapat juga muncul berbagai keluhan akibat konsumsi bahan bukan makanan, seperti:

• keracunan akibat konsumsi bahan beracun (misalnya keracunan timbal)
• adanya gejala infeksi, terutama parasit (misalnya cacingan)
• keluhan saluran pencernaan (konstipasi, obstruksi usus, perforasi, ulserasi, dan sebagainya)
• keluhan pada gigi (misalnya abrasi gigi)

Pengobatan

Pika sering kali ditemukan pada penderita kekurangan zat besi, bahkan ditemukan di hampir 50 persen penderita kekurangan zat besi. Sering kali, pada penderita malnutrisi ini, perilaku pika akan membaik setelah malnutrisi teratasi.
Oleh karena itu, penting untuk mengetahui jika penderita mengalami kekurangan zat nutrisi tertentu. Selanjutnya, memberikan suplementasi yang sesuai bisa menjadi cara penanganan yang efektif.

Pelaku pika juga mungkin membutuhkan intervensi psiko-sosial. Dalam hal ini konsultasi dengan psikolog atau ahli psikiatri mungkin diperlukan. Hal yang juga dapat diterapkan adalah latihan membedakan bahan yang dapat dimakan dan yang tidak dapat dimakan, mengontrol impuls untuk memakan bahan bukan makanan, dan latihan sejenisnya. Karena itu, tidak ada terapi farmakologis (obat-obatan) yang spesifik untuk menyembuhkan pika.

Pencegahan

Untuk beberapa kasus karena gangguan mental, pika memang tak bisa begitu saja dicegah. Masalah ini bisa sewaktu-waktu muncul seiring adanya kondisi gangguan pada sistem saraf penderita. Namun untuk beberapa kasus lain, pemenuhan nutrisi yang baik sejak masa bayi hingga anak-anak dapat mengurangi risiko terjadinya pika.