Sukses

Pengertian

Tekanan darah tinggi atau hipertensi terjadi apabila tekanan di dalam pembuluh darah melebihi nilai normal dan berlangsung terus menerus. Kondisi ini sangat berbahaya karena sulit dikenali dan sering kali tidak ada gejala, padahal dapat menyebabkan serangan jantung ataupun stroke tiba- tiba.

Beberapa hal dapat meningkatkan risiko seseorang terkena tekanan darah tinggi, di antaranya:

  • Usia di atas 64 tahun
  • Terdapat riwayat darah tinggi di keluarga
  • Obesitas
  • Jarang berolahraga
  • Merokok
  • Minum Minuman alkohol
  • Terlalu banyak garam dalam makanan sehari- hari
  • Stres

Diagnosis

Diagnosis tekanan darah tinggi ditegakkan dengan melakukan pengukuran tekanan darah di lengan. Kedua lengan harus diukur untuk memastikan angka yang didapat. Pengukuran ini harus dilakukan dalam keadaan istirahat sehingga tidak terpengaruh oleh aktivitas yang dilakukan sebelumnya.

Sebelum didiagnosis, tekanan darah tinggi seseorang akan diukur 2–3 kali pada kunjungan yang berbeda. Pada setiap pengukuran akan didapatkan dua jenis tekanan darah, yaitu sistole dan diastole.

Sistole berarti tekanan darah yang diukur saat jantung berdetak, sedangkan diastole merupakan tekanan darah yang diukur di antara dua detak. Kedua jenis tekanan darah ini penting untuk menentukan kondisi kesehatan seseorang.

Hasil pengukuran tekanan darah tersebut diklasifikasikan berdasarkan kriteria berikut ini:

Kategori Tekanan Darah

Tekanan darah sistole

Tekanan darah diastole

Normal

< 120 mmHg

< 80 mmHg

Meningkat

120–129 mmHg

< 80 mmHg

Hipertensi Derajat I

130–139 mmHg

80–89 mmHg

Hipertensi Derajat II

> 140 mmHg

> 90 mmHg

Krisis Hipertensi

> 180 mmHg

> 120 mmHg

Penyebab

Tekanan darah tinggi atau hipertensi dibedakan menjadi dua jenis berdasarkan penyebabnya, yaitu:

  • Hipertensi primer

Pada hipertensi primer penyebabnya tidak diketahui.

  • Hipertensi sekunder

Hipertensi sekunder terjadi akibat kondisi medis tertentu seperti:

- Obstructive sleep apnea (OSA)

- Gangguan ginjal

- Tumor kelenjar adrenal

- Gangguan tiroid

- Kelainan pembuluh darah

Gejala

Tekanan darah tinggi umumnya tidak menimbulkan gejala. Beberapa orang dengan tekanan darah tinggi memang mengeluhkan adanya sakit kepala, sesak napas, atau mimisan. Namun sebenarnya gejala ini tidak spesifik mengarah pada tekanan darah tinggi.

Tekanan darah tinggi baru diketahui setelah melakukan pengukuran langsung atau setelah terjadinya komplikasi. Komplikasi yang biasanya terjadi adalah stroke atau serangan jantung.

Pengobatan

Pengobatan tekanan darah tinggi melibatkan aspek medis dan perubahan gaya hidup.

Perubahan gaya hidup yang dianjurkan untuk mengontrol tekanan darah adalah sebagai berikut:

  • Mengonsumsi makanan sehat dan rendah garam
  • Olahraga teratur
  • Menghindari alkohol dan rokok
  • Menjaga berat badan ideal

Obat-obatan diberikan bergantung pada klasifikasi derajat tekanan darah tinggi dan kondisi medis lain. Misalnya, ada tidaknya gangguan ginjal dan kondisi kesehatan jantung. Obat-obat tersebut di antaranya:

  • Diuretik thiazide

Jenis obat ini membantu ginjal mengeluarkan kelebihan air dan sodium atau garam. Dengan demikian jumlah darah yang dipompa jantung akan berkurang dan tekanan darah akan turun.

  • Angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitors

Obat golongan ini membantu menurunkan tekanan darah dengan menghambat produksi zat yang membuat pembuluh darah menyempit. Dengan melebarnya pembuluh darah, tekanan darah di dalamnya juga ikut menurun.

  • Angiotensin II receptor blockers (ARBs)

Obat jenis ini menghambat kerja zat yang membuat pembuluh darah sempit, bukan produksinya. Dengan demikian, pembuluh darah menjadi lebih lebar dan tekanan darah menjadi lebih rendah.

  • Calcium channel blockers

Calcium channel blockers bekerja dengan membuat relaks otot di sekitar pembuluh darah dengan demikian penyempitan lumen pembuluh darah pun dapat dicegah.

Komplikasi

Bila tidak dikontrol, tekanan darah tinggi dapat merusak dinding pembuluh darah, baik pembuluh darah kecil maupun besar. Dengan rusaknya dinding pembuluh darah, aliran darah ke organ yang dituju menjadi terhambat atau bahkan terhenti sama sekali.

Gangguan aliran darah ini dapat menyebabkan kerusakan di berbagai organ termasuk mata, ginjal, jantung dan otak. Akibatnya dapat terjadi gangguan penglihatan, gagal ginjal, serangan jantung maupun stroke yang menyebabkan kematian.

Selain mengakibatkan gangguan kerja organ, rusaknya dinding pembuluh darah ini dapat menyebabkan pembentukan kantung yang tidak normal atau aneurisme. Kantung di dinding pembuluh darah ini dapat pecah sewaktu- waktu dan mengakibatkan perdarahan hebat.

Pencegahan

Tekanan darah tinggi dapat dicegah dengan menghindari berbagai faktor risikonya, yaitu dengan:

  • Menjaga pola makan sehat dan rendah garam
  • Olahraga rutin
  • Bergerak aktif
  • Menghindari stres
  • Menghindari rokok dan minuman beralkohol