Sukses

Pengertian Penyakit Paru Interstisial

Penyakit paru interstisial merupakan kelompok penyakit yang ditandai dengan peradangan pada jaringan yang berada di antara alveolus-alveolus di paru. Peradangan tersebut menyebabkan kerja alveolus terganggu, membuat asupan oksigen pada pembuluh darah pun berkurang jumlahnya.

Pada dasarnya paru-paru manusia terdiri dari alveolus, yaitu kantung udara berbentuk seperti balon. Fungsinya adalah untuk menghubungkan oksigen dan karbondioksida dari udara luar dengan pembuluh darah.

Terdapat ratusan penyakit yang termasuk dalam penyakit paru interstisial. Beberapa penyakit yang sering dijumpai adalah:

  • Asbestosis: peradangan di paru akibat paparan asbes terus menerus di saluran napas. Hal ini bisa dijumpai pada orang yang bekerja misalnya di galangan kapal.
  • Silikosis: peradangan di paru akibat paparan silika terus menerus di saluran napas. Hal ini bisa dijumpai pada orang yang bekerja di penambangan batubara.
  • Fibrosis paru: ditemukan jaringan ikat di antara alveolus. Penyakit ini biasanya dijumpai pada penderita autoimun seperti sindrom Sjorgen.
  • Pneumonitis: peradangan di paru akibat alergi atau iritasi zat kimia.

Penyakit Paru Interstisial

Penyebab Penyakit Paru Interstisial

Penyebab penyakit paru interstisial tak selalu dapat diketahui. Sebagian kasus disebabkan karena adanya penyakit tertentu, paparan zat kimia, atau akibat obat-obatan.

Masalah kesehatan yang dapat menyebabkan penyakit paru interstisial, di antaranya adalah lupus, rheumatoid arthritis, vaskulitis, dan sindrom Sjorgen. Paparan zat kimia yang dapat menyebabkan penyakit paru interstisial adalah serat abses, debu batubara, debu silika, dan asap rokok.

Sedangkan obat yang dapat mencetuskan penyakit paru interstisial di antaranya adalah nitrofurantoin, aspirin, amiodarone, siklofosfamid, metotreksat, dan heroin.

Diagnosis Penyakit Paru Interstisial

Penentuan diagnosis penyakit paru interstisial dilakukan lewat serangkaian wawancara medis mendetail dan pemeriksaan fisik. Sebagai pemeriksaan awal untuk mengonfirmasi adanya penyakit paru interstisial, dokter akan meminta penderita untuk melakukan foto rontgen. Bila gambaran foto rontgen sesuai dengan kondisi penyakit paru interstisial, pemeriksaan lanjutan dibutuhkan untuk memastikan kondisi penyakit dan kondisi paru-paru lebih lengkap.

Beberapa pemeriksaan lanjutan yang dapat dilakukan adalah CT-scan, pemeriksaan fungsi paru, atau biopsi paru. Pemeriksaan CT-scan dapat mengambil gambar paru-paru dan mendeteksi penyakit paru interstisial dengan lebih efektif dibandingkan foto rontgen.

Pemeriksaan fungsi paru bertujuan untuk memeriksa kondisi dan kapasitas paru-paru. Sedangkan biopsi paru dilakukan untuk menentukan jenis penyakit paru interstisial yang diderita orang tersebut. Pemeriksaan dilakukan dengan mengambil sampel jaringan paru-paru untuk diperiksa.

Gejala Penyakit Paru Interstisial

Gejala utama dari penyakit paru interstisial adalah sesak napas. Sesak napas biasanya cukup ringan pada awalnya. Kondisi ini akan semakin berat saat seseorang yang memiliki gangguan ini melakukan aktivitas, misalnya saat berlari atau naik tangga.

Selain sesak napas, gejala lain yang umumnya ditemukan adalah batuk kering yang terjadi berbulan-bulan. Pada beberapa kasus, penderita juga bisa mengalami penurunan berat badan.

Tanda-tanda tersebut serupa dengan gejala penyakit paru lainnya. Hal yang membedakan adalah pada penyakit paru interstisial, umumnya ditemukan pajanan zat kimia berkepanjangan yang menyebabkan paru meradang.

Pengobatan Penyakit Paru Interstisial

Penanganan penyakit paru interstisial tidak dapat menghilangkan kerusakan yang terjadi pada paru. Pengobatan perlu dilakukan untuk memperlambat kondisi menjadi memburuk dan meringankan gejala.

Pengobatan yang dilakukan meliputi:

  • Pemberian oksigen
  • Rehabilitasi dan fisioterapi untuk membantu penderita bisa beraktivitas
  • Obat antiradang, seperti steroid
  • Obat penekan daya tahan tubuh seperti azathiopirine dan sikofosfamid

Pencegahan Penyakit Paru Interstisial

Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah penyakit paru interstisial adalah dengan menghindari paparan zat kimia. Misalnya asbes, silika, dan debu batubara. Pada pekerja industri yang terpaksa terpapar zat tersebut, sangat disarankan untuk selalu menggunakan masker yang memadai yang bisa mencegah partikel debu terhirup saat bekerja.