Sukses

Pengertian

Optik glioma, atau lebih sering disebut optic pathway glioma, merupakan tumor pada saraf yang pertumbuhannya lambat dan termasuk jenis tumor yang jinak. Penyakit ini biasanya dialami oleh anak-anak.

Tumor ini berasal dari sel otak yang bernama astrosit. Optik glioma terjadi di sepanjang nervus optikus, yaitu saraf yang menghubungkan antara mata dengan otak.

Penyebab

Hingga saat ini, penyebab optik glioma belum diketahui dengan jelas. Namun kelainan genetik yang bernama neurofibromatosis tipe 1 (NF-1) telah diketahui terbukti berkontribusi terhadap munculnya jenis tumor ini. NF-1 merupakan kelainan genetik yang dapat diturunkan dari orang tua ke anak.

Diagnosis

Bila terdapat dugaan adanya optik glioma, maka pemeriksaan yang akan dilakukan adalah:

  • CT-scan otak merupakan pemeriksaan awal yang pertama kali dilakukan untuk melihat adanya tumor.
  • MRI merupakan pemeriksaan radiologis lainnya yang bisa melihat bentuk dan ukuran tumor lebih jelas, serta untuk menentukan stadium tumor.
  • Pemeriksaan mata, berupa pemeriksaan tajam penglihatan, pemeriksaan tekanan bola mata dengan tonometry, pemeriksaan retina dengan funduskopi.
  • Pemeriksaan hormonal melalui pemeriksaan darah karena optik glioma sering menyebabkan gangguan hormonal.

Gejala

Optik glioma menyebabkan penglihatan terganggu. Beberapa gejalanya adalah:

  • Penglihatan kabur
  • Mata sering berkedip-kedip
  • Mata juling
  • Mata menonjol
  • Adanya blind spot (adanya sebagian penglihatan yang kabur)

Selain itu, bila ukuran tumor cukup besar, gejala tersebut bisa disertai dengan mual, muntah menyemprot, gelisah, dan sakit kepala yang hebat. Dapat pula menyebabkan gangguan hormonal yang menyebabkan pubertas dini dan perubahan berat badan drastis (bisa berupa peningkatan berat badan atau kehilangan berat badan).

Gejala yang muncul saat di sekolah di antaranya adalah anak mengalami keterlambatan belajar dan selalu berusaha duduk di kursi paling depan.

Jika optik glioma terjadi pada orang yang memiliki kelainan genetik NF-1, maka selain dapat mengalami optik glioma, dapat terjadi pula:

  • Kelainan kulit berbentuk seperti bercak-bercak kecoklatan yang disebut neurofibroma
  • Kelainan tulang tulang belakang seperti skoliosis
  • Gangguan belajar dan perilaku, misalnya disleksia, hiperaktif

Pengobatan

Pengobatan optik glioma tergantung dengan berat gejala yang terjadi, tergantung dari ukuran tumor. Bila gejalanya ringan dan ukuran tumornya kecil, maka umumnya tidak dilakukan tindakan apapun, melainkan hanya dilakukan observasi gejala dan ukuran tumor secara berkala saja.

Hal tersebut dapat dilakukan karena tumor optik glioma pada umumnya sangat jinak dan tidak membahayakan. Pada sebagian kasus, tumor ini bahkan mengecil dengan sendirinya tanpa pengobatan.

Namun jika ukuran tumor cukup besar dan mengganggu, maka tindakan yang dapat dilakukan antara lain:

  • Operasi

Jika ukuran tumor cukup besar dan menimbulkan gejala yang cukup berat, maka operasi perlu dipertimbangkan untuk dilakukan. Namun demikian, operasi pada optik glioma juga memiliki risiko memperburuk gangguan penglihatan bila operasinya juga mengangkat saraf.

  • Kemoterapi dan radiasi

Kemoterapi dan radiasi juga dapat dilakukan apabila tumor sangat mengganggu penglihatan. Pengobatan ini bertujuan untuk menghentikan pertumbuhan tumor dan mengurangi ukuran tumor.

Umumnya radiasi dilakukan pada anak yang berusia di atas lima tahun. Radiasi dapat dilakukan hingga enam minggu lamanya. Sementara itu, kemoterapi dilakukan selama berbulan-bulan, dapat mencapai 18 bulan. Pengobatan ini biasanya dapat dilakukan secara rawat jalan.

Namun demikian, kemoterapi pada anak sering menimbulkan efek samping yang cukup berat. Dapat berupa anemia, mudah tertular infeksi berat, muntah, banyak sariawan di mulut.

Jika penderita optik glioma mengalami kelainan genetik NF-1, sebaiknya ia kontrol rutin ke dokter seumur hidup untuk dapat mendeteksi kelainan kulit, kelainan tulang, dan tumor secara dini.

Pencegahan

Karena penyebab pasti dari optic glioma belum dapat diketahui, maka hingga saat ini belum ada tindakan yang dapat dilakukan guna mencegah terjadinya penyakit ini.