Masalah Infeksi

Mediastinitis

Tim Medis Klikdokter, 19 Jan 2021

Ditinjau Oleh

Mediastinitis adalah peradangan pada bagian mediastinum tubuh, yang terutama disebabkan oleh infeksi, merupakan bagian dari rongga dada

Mediastinitis

Pengertian Mediastinitis

Mediastinitis adalah peradangan pada bagian mediastinum tubuh, yang terutama disebabkan oleh infeksi. Mediastinum merupakan bagian dari rongga dada, yang berisikan jantung, kelenjar timus, beberapa kelenjar getah bening, dan bagian dari esofagus, tiroid, aorta, dan kelenjar paratiroid.

Kondisi ini sebenarnya merupakan kondisi yang jarang ditemukan pada mereka yang tidak menjalani prosedur pembedahan kardiotoraks ataupun intervensi lainnya. Pada orang yang menjalani prosedur pembedahan kardiotoraks, angka kejadian medistinitis hanya sekitar 1 persen (berdasarkan studi pada 10.000 pasien). Namun, mereka yang menjalani transplantasi jantung memiliki risiko lebih tinggi.

Penyebab Mediastinitis

Terdapat dua jenis mediastinitis, yaitu akut dan kronis. Mediastinitis akut sering kali terjadi secara mendadak. Sedangkan mediastinitis kronis muncul perlahan dan dapat disebabkan iritasi jangka panjang atau infeksi yang membutuhkan waktu lama untuk sembuh.

Terdapat beberapa faktor risiko yang membuat seseorang bisa terkena mediastinitis. Faktor risiko tersebut antara lain jenis kelamin pria dan berusia paruh baya, memiliki diabetes dan immunocompromised, dan pengguna narkoba.

Mediastinitis sering kali disebabkan oleh infeksi. Beberapa lokasi dari sumber infeksi adalah:

  • Struktur dalam mediastinum: rupture esofagus, trauma tumpul pada dada atau abdomen, penyakit granulomatosa seperti tuberkulosis pada kelenjar getah bening mediastinum, infeksi langsung ke mediastinum (misalnya dari paru-paru).
  • Infeksi dari area orofaring, sering kali dikenal dengan descending necrotizing mediastinitis: dapat bersumber dari faringitis, tonsillitis, abses peritonsilar, abses parafaringeal, otitis media, sinusitis, abses dental, sialadenitis, infeksi setelah prosedur pembedahan kepala dan leher.
  • Reaksi fibrotik yang jarang terjadi terhadap penyakit granulomatosa, seperti histoplasmosis. Kondisi ini menyebabkan fibrosing mediastinitis.

Diagnosis Mediastinitis

Sering kali diagnosis mediastinitis ditetapkan berdasarkan pengamatan klinis, yaitu berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Namun, dapat dilakukan beberapa pemeriksaan penunjang untuk membantu menentukan diagnosis, antara lain:

  • Pemeriksaan laboratorium: menunjukkan peningkatan marker untuk inflamasi (sel darah putih, C-reactive protein, laju endap darah), kultur darah, swab dari lokasi sumber infeksi.
  • Pencitraan: sinar X pada dada dan leher, CT-scan (disarankan).

Beberapa keadaan yang dapat memberikan gejala serupa adalah emboli paru, infark miokardial, pneumomediastinum spontan, tumor mediastinum, selulitis pada leher, tuberkulosis mediastinum, dan sebagainya.

Gejala Mediastinitis

Keluhan dapat dirasakan penderita beberapa hari sebelum akhirnya datang berkonsultasi. Memungkinkan ditemukan adanya riwayat prosedur pembedahan cardiothoraks, endoskopi saluran cerna atas, bronkoskopi, infeksi gigi atau orofaring, ISPA, adanya benda asing (pada anak kecil, menelan benda asing seperti baterai berbentuk koin dapat menimbulkan rupture esofagus).

Penderita dapat mengeluhkan adanya demam, kekakuan, sesak nafas atau ngos-ngosan, nyeri dada retrosternal yang dapat menjalar ke leher atau punggung. Jika disebabkan infeksi descending atau menurun dapat dirasakan nyeri atau sumbatan pada leher, pembengkakan pada leher, kebingungan atau disorientasi, dapat ditemukan infeksi pada luka di sternum (tulang dada).

Pengobatan Mediastinitis

Sering kali penderita dengan mediastinitis datang dengan keadaan kritis. Oleh karena itu salah satu prioritas adalah menstabilkan keadaan pasien. Tak jarang penderita membutuhkan perawatan intensif.

Keadaan ini sering kali disebabkan infeksi. Oleh karena itu perlu ditangani dengan pemberian antibiotik spektrum luas segera mungkin. Jika kemudian hasil pemeriksaan mikroba (kultur, swab) sudah keluar, maka jenis antibiotik yang diberikan dapat menyesuaikan.

Terkadang, mediastinitis membutuhkan terapi pembedahan. Misalnya untuk debridement jaringan nekrotik, drainase dari pus, penutupan terhadap rupture esofagus, dan sebagainya.

Angka kematian pada kasus mediastinitis dapat bervariasi, dari 11–67 persen pada keadaan di mana terdapat komorbiditas. Mengingat fatalitas kondisi ini cukup tinggi, sebaiknya semua gejala yang dicurigai sebagai mediastinitis dievaluasi menyeluruh sesegera mungkin dan mendapatkan penanganan secepatnya.