Sukses

Pengertian

Intolerasi laktosa merupakan suatu kondisi di mana tubuh tidak lagi mampu mencerna laktosa. Ini adalah jenis gula yang banyak terdapat pada susu dan produk olahannya.

Beberapa faktor risiko dapat membuat seseorang lebih rentan mengalami intoleransi laktosa. Faktor risiko tersebut meliputi:

  • Usia. Intoleransi laktosa paling sering terjadi pada usia 20–40 tahun. Bayi dan anak- anak bisa saja mengalami namun kasusnya lebih jarang dibandingkan dengan dewasa.
  • Etnis. Etnis Asia, Afrika dan Indian-Amerika adalah etnis yang lebih berisiko mengalami intoleransi laktosa.
  • Prematuritas. Enzim laktase diproduksi di usus halus menjelang trimester akhir kehamilan. Bayi yang lahir di trimester lebih awal berpotensi memiliki laktase dalam jumlah sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali.
  • Adanya penyakit dalam usus. Penyakit seperti celiac disease dan Chron’s disease dapat membuat fungsi usus terganggu dan menyebabkan pertumbuhan bakteri yang tidak terkontrol. Kondisi ini dapat membuat penderitanya lebih berisiko mengalami intoleransi laktosa.
  • Sedang dalam pengobatan kanker. Kanker yang menyerang daerah usus atau menyebar ke usus berpotensi menurunkan fungsi usus secara keseluruhan, termasuk kemampuannya dalam mencerna laktosa.

Diagnosis

Diagnosis intoleransi laktosa umumnya diketahui dari adanya keluhan pencernaan saat mengonsumsi susu dan berbagai olahannya. Ketika susu dicoret dari daftar menu sehari-hari, keluhan umumnya membaik dan gejala perlahan hilang.

Untuk memastikan adanya intoleransi laktosa, beberapa pemeriksaan tambahan diperlukan, seperti:

  • Tes toleransi laktosa

Seseorang yang dicurigai mengalami intoleransi laktosa akan diminta untuk meminum minuman yang tinggi kadar laktosanya.

Dua jam setelah mengonsumsi minuman tersebut, kadar gula darahnya diperiksa di labolatorium. Bila kadar gula darahnya tidak meningkat, maka kemungkinan besar ia memang tidak dapat mencerna laktosa yang masuk ke dalam tubuhnya.

  • Hydrogen Breath Test

Sama seperti tes intoleransi laktosa, seseorang yang dicurigai intoleransi laktosa akan diminta untuk meminum minuman yang tinggi kadar laktosanya. Namun kali ini yang diperiksa adalah kadar hidrogen dalam embusan napasnya.

Seorang dengan intoleransi laktosa ususnya tidak mampu mencerna laktosa. Akibatnya laktosa ini akan banyak difermentasikan oleh bakteri usus besar.

Hasil samping dari proses fermentasi ini adalah hidrogen dan berbagai gas lainnya. Kadar hidrogen yang terdeteksi tinggi di napas menandakan tidak sempurnanya proses pencernaan yang berujung pada diagnosa intoleransi laktosa.

  • Tes keasaman feces

Bagi anak yang sulit menjalani pemeriksaan lainnya, tes keasaman feces dapat digunakan untuk memastikan diagnosis intoleransi laktosa. Laktosa yang tidak dicerna dan difermentasi dalam usus besar akan menghasilkan asam laktat yang terbuang melalui feces atau tinjanya.

Penyebab

Normalnya, usus halus manusia memproduksi laktase, enzim yang fungsinya mencerna laktosa ini. Oleh laktase, laktosa dipecah menjadi dua jenis gula, yaitu glukosa dan galaktosa.

Glukosa dan galaktosa kemudian diserap di usus untuk diubah menjadi energi. Pada mereka yang mengalami intoleransi laktosa, produksi laktase ini terganggu. Jumlah laktase dalam tubuhnya menjadi berkurang atau bahkan tidak ada sama sekali. Akibatnya, laktosa yang masuk tetap menjadi bentuk utuhnya dan masuk ke usus besar.

Bakteri pembusukan di usus besar kemudian memfermentasikan laktosa ini. Hasil samping dari proses fermentasi tersebut adalah gas dan asam yang mampu mencetuskan berbagai keluhan bagi penderitanya.

Intoleransi laktosa yang dialami oleh dewasa umumnya bersifat genetik dan akan dibawa sepanjang umurnya. Akan tetapi pada anak-anak dan usia muda, intoleransi laktosa umumnya terjadi akibat adanya penyakit tertentu dan akan hilang dalam beberapa minggu seiring dengan penyembuhan penyakit dasarnya.

Gejala

Berbagai keluhan yang muncul akibat intoleransi laktosa umumnya terjadi 30 menit hingga 2 jam setelah seseorang mengonsumsi susu dan produk olahannya. Keluhan tersebut antara lain:

  • Diare
  • Mual dan muntah
  • Kram perut
  • Kembung
  • Perut bergas
  • Perut melilit

Pengobatan

Tidak ada pengobatan spesifik yang dapat dilakukan untuk mengobati intoleransi laktosa. Namun demikian, penyakit ini bisa diminimalkan gejalanya dengan menghindari konsumsi susu dan produk yang mengandung laktosa.

Karena tidak dapat mengonsumsi susu, seorang dengan intoleransi laktosa berpotensi mengalami kekurangan kalsium dan vitamin D. Padahal kedua jenis mineral ini sangat dibutuhkan untuk menjaga kesehatan tulang. Untuk itu, pada kasus tertentu dibutuhkan juga suplementasi kalsium dan vitamin D untuk menjamin pemenuhan kebutuhan tubuh akan dua jenis mineral ini.

Komplikasi

Susu merupakan salah satu sumber makanan yang mengandung kalsium, protein dan berbagai jenis vitamin seperti vitamin A, B12, D dan mineral zink serta magnesium. Pembatasan konsumsi susu dapat meningkatkan risiko seseorang kekurangan berbagai jenis vitamin dan mineral ini.

Beberapa penyakit yang dapat muncul sebagai komplikasi adalah:

  • Osteopenia atau kerapuhan tulang yang dapat berujung pada osteoporosis
  • Osteoporosis yang membuat seseorang berisiko mengalami patah tulang dengan tiba-tiba
  • Malnutrisi akibat ketidakmampuan mencerna gizi yang dibutuhkan tubuh untuk tumbuh dan berkembang.

Pencegahan

Tidak ada pencegahan spesifik untuk menghindari risiko intoleransi laktosa. Seseorang dengan intoleransi laktosa dapat melindungi diri dari berbagai komplikasi yang dapat diakibatkan oleh penyakitnya dengan kontrol rutin ke dokter dan mencari alternatif makanan lain yang dapat menggantikan kandungan susu dan produk olahan susu.