Masalah Ginjal dan Saluran Kemih

Inkontinensia Urine

Tim Medis Klikdokter, 24 Feb 2022

Ditinjau Oleh

Inkontinensia urine adalah gangguan buang air kecil (BAK), di mana seseorang tidak dapat mengontrol proses buang air kecilnya.

Pengertian

Inkontinensia urine adalah gangguan buang air kecil (BAK), di mana seseorang tidak dapat mengontrol proses buang air kecilnya. Variasi dari penyakit ini cukup banyak. Mulai dari urine yang merembes keluar saat Anda batuk atau bersin, hingga rasa ingin BAK yang sangat intens dan tiba-tiba sehingga seseorang bisa mengompol karena tidak sempat pergi ke toilet.

Terdapat beberapa tipe inkontinensia urine, yaitu:

  • inkontinensia stres, yaitu kondisi keluarnya urine saat kandung kemih berada dalam tekanan seperti saat batuk, bersin, atau tertawa.
  • inkontinensia dorongan, yaitu kondisi urine keluar saat rasa ingin BAK yang sangat intens dan tiba-tiba.
  • inkontinensia luapan (retensi urine kronis), merupakan ketidakmampuan mengosongkan kandung kemih sehingga sering mengompol.
  • inkontinensia total, yaitu kondisi ketidakmampuan kandung kemih untuk menyimpan urine sama sekali sehingga selalu mengompol.
  • inkontinensia campuran.

Penyebab

Inkontinensia stres disebabkan oleh melemahnya atau rusaknya otot-otot yang berfungsi untuk mencegah proses buang air kecil, seperti otot dasar panggul dan sfingter uretra (lubang keluarnya urine).

Inkontinensia dorongan biasanya disebabkan oleh aktivitas berlebihan otot detrusor yang mengendalikan kandung kemih. Selain itu dapat disebabkan oleh terlalu banyak mengonsumsi alkohol dan kafein.

Inkontinensia luapan biasanya disebabkan oleh penyumbatan pada kandung kemih sehingga mencegah pengosongan sepenuhnya. Bisa juga disebabkan oleh pembesaran prostat.

Inkontinensia total biasanya disebabkan oleh masalah pada kandung kemih sejak lahir, cedera tulang belakang atau adanya fistula (jalur baru) pada kandung kemih.

Di samping itu, ada beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan inkontinensia urine, seperti:

  • Kehamilan dan persalinan melalui vagina
  • Obesitas
  • Riwayat keluarga
  • Penuaan

Diagnosis

Dokter dapat menetapkan diagnosis inkontinensia urine melalui gejala yang terjadi. Pemeriksaan fisik terhadap panggul akan dilakukan pada wanita dan pemeriksaan anus akan dilakukan pada pria.

Pada sekitar setengah jumlah wanita yang mengalami inkontinensia stres, didapati kondisi sebagian kandung kemihnya menonjol ke vagina. Sedang pada pria, pembesaran kelenjar prostat dapat menyebabkan gejala seperti inkontinensia urine yaitu sering buang air kecil.

Pemeriksaan penunjang seperti tes dipstick bisa dilakukan untuk mencari tahu bakteri penyebab infeksi saluran kemih. Tes ultrasound scan dilakukan untuk mencari tahu jumlah sisa urine pada kandung kemih setelah buang air kecil. Sedang cystoscopy dengan alat endoskopi dilakukan untuk memeriksa kelainan yang menyebabkan inkontinensia urine. Tes urodinamik juga bisa dilakukan untuk memeriksa fungsi kandung kemih dan uretra.

Gejala  

Gejala umum inkontinensia urine adalah buang air kecil tanpa diinginkan atau disadari. Bagaimana dan kapan mengompol itu terjadi tergantung dari tipe inkontinensia.

Gejalanya meliputi:

  • BAK saat olahraga, batuk, bersin, atau tertawa
  • BAK di celana karena rasa ingin BAK yang sangat intens dan tiba-tiba sehingga tidak sempat ke toilet
  • BAK ketika berubah posisi
  • BAK ketika mendengar suara air mengalir
  • BAK ketika berhubungan seksual
  • BAK sedikit-sedikit terus menerus
  • BAK tidak tuntas atau anyang-anyangan
  • selalu BAK dalam jumlah yang banyak terutama pada malam hari

Pengobatan

Pengobatan inkontinensia urine meliputi:

  • Perubahan gaya hidup, mengurangi berat badan dan membatasi alkohol serta kafein, akan membantu proses pengobatan
  • Melakukan latihan dasar panggul
  • Melakukan latihan kandung kemih
  • Menggunakan bantalan penyerap
  • Pengobatan dengan resep dokter yang biasanya berupa duloxetine, antimuscarinik, mirabegron, desmopressin
  • Pembedahan seperti prosedur tape atau sling untuk inkontinensia stres

Pencegahan

Beberapa kiat berikut bisa Anda lakukan untuk menurunkan risiko inkontinensia urine:

  • menjaga berat badan
  • menghindari atau membatasi alkohol dan kafein
  • melakukan latihan otot dasar panggul agar kuat
  • hindari merokok