Sukses

Pengertian

Usus manusia bergerak mencerna makanan dengan gerakan peristaltik yang menyerupai ombak. Gerakan ini memungkinkan makanan yang masuk terus berjalan ke saluran pencernaan yang lebih dalam hingga ke bagian akhir, yakni usus besar.

Ileus merupakan suatu kondisi ketika gerakan ini terganggu sehingga proses pencernaan makanan pun ikut terhambat. Ileus paralitik umumnya terjadi pada pasien yang baru saja menjalani operasi usus.

Ileus paralitik yang dialami seseorang dapat membuat makanan menumpuk di bagian usus tertentu. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat membuat dinding usus melebar dan berisiko pecah.

Bila sudah pecah, bakteri pembusukan yang ada di usus dapat keluar ke rongga perut. Akibatnya akan terjadi infeksi yang lebih luas yang mengancam nyawa penderitanya.

Penyebab

Ileus paralitik umumnya terjadi setelah seseorang menjalani operasi besar pada usus. Ileus jenis ini terjadi sebagai efek samping dari operasi tersebut.

Selain operasi, beberapa kondisi lain juga dapat melatarbelakangi terjadinya ileus paralitik, yaitu:

  • Infeksi bakteri atau virus yang menyebar ke saluran cerna (gastroenteritis)
  • Ketidakseimbangan elektrolit darah
  • Infeksi pada usus, misalnya usus buntu
  • Gangguan aliran darah pada usus
  • Gangguan ginjal dan paru
  • Penggunaan narkotika

Diagnosis

Diangosis ileus paralitik ditentukan berdasarkan hasil wawancara medis, pemeriksaan fisik, dan juga pemeriksaan penunjang. Pada wawancara medis umumnya akan ditemukan adanya gejala-gejala yang mengarah pada ileus dan juga adanya riwayat operasi besar pada usus sebelumnya.

Dugaan ileus juga diperkuat lewat pemeriksaan fisik dengan adanya pembesaran perut dan perut yang teraba kencang. Pada pemeriksaan dengan stetoskop akan ditemukan adanya penurunan bunyi pergerakan pada bagian usus tertentu.

Untuk memastikan diagnosis ileus paralitik, kemudian akan dilakukan serangkaian pemeriksaan penunjang berupa:

  • Foto rontgen perut, untuk mengetahui adanya penumpukan gas pada area usus tertentu.
  • Computed Tomography Scan (CT-scan), akan memberikan gambaran detail segmen usus yang mengalami ileus. CT-scan yang dilakukan umumnya menggunakan zat pewarna atau kontras yang dimasukkan dengan cara diminum maupun lewat infus.
  • Ultrasonografi (USG), dilakukan dengan menempelkan probe ke perut untuk mengetahui lokasi usus yang mengalami ileus. USG umumnya dilakukan pada anak-anak dan wanita hamil.
  • Barium enema, jenis pemeriksaan yang dilakukan dengan memasukkan zat pewarna barium sulfat melalui anus. Zat warna ini akan mengisi hingga ke usus besar. Menggunakan rontgen perut, akan tampak penumpukan cairan di segmen usus tertentu, tempat terjadinya ileus paralitik.

Gejala

Gejala yang umumnya terjadi pada ileus paralitik antara lain:

  • Pembengkakan perut
  • Kram perut
  • Perut teraba kencang
  • Kembung
  • Konstipasi
  • Mual muntah

Pengobatan

Pengobatan ileus paralitik dapat meliputi tindakan non operatif dan tindakan operatif.

  • Non operatif

Ileus paralitik memerlukan penanganan intensif di rumah sakit. Penderita bisa diberikan obat yang akan merangsang pergerakan usus, seperti metoklopramid.

Sementara itu, untuk menurunkan tekanan dalam usus, akan dilakukan pemasangan selang nasogastrik. Selang ini dipasang melalui hidung dan masuk ke lambung. Tujuan pemasangan adalah untuk mengeluarkan kelebihan cairan, makanan, dan gas di dalam saluran cerna. Untuk memastikan kecukupan cairan dan mencegah dehidrasi, pasien juga diberikan tambahan cairan melalui infus.

Ileus paralitik yang disebabkan oleh riwayat operasi sebelumnya, umumnya membaik dalam 2–4 hari setelah tindakan operasi tersebut. Walau demikian, pada beberapa kasus diperlukan tindakan operatif untuk mengatasi ileus paralitik yang terjadi.

  • Tindakan operatif

Tindakan operatif dilakukan dengan memotong dan membuang bagian usus yang mengalami gangguan. Bagian ujung usus yang tersisa akan dihubungkan ke ke luar perut dan kemudian dipasang kantung khusus yang menampung sisa makanan yang dicerna. Pemasangan kantung ini dinamakan ostomi.

Komplikasi

Ileus paralitik yang kondisinya berat dan tidak tertangani dengan segera dapat berujung pada beberapa komplikasi seperti nekrosis dan peritonitis.

Nekrosis terjadi apabila ada bagian usus yang mati akibat ileus. Kematian sel usus berpotensi membuat dinding usus rapuh dan mudah pecah. Pecahnya usus akan membuat bakteri yang ada di dalam usus keluar ke rongga perut. Infeksi yang menyebar ke rongga perut ini dinamakan peritonitis.

Bakteri peritonitis dapat membuat penderitanya mengalami infeksi berat atau sepsis yang berpotensi mengancam nyawa.

Pencegahan

Ileus paralitik yang disebabkan oleh kondisi gangguan di usus dan karena operasi usus sebenarnya sangat sulit dicegah. Seseorang yang menjalani operasi tersebut diharapkan paham betul akan risiko ileus di masa mendatang dan mengetahui persis tanda-tandanya.

Dengan menangkap gejala ileus paralitik di tahap awal dan melakukan penanganan dengan segera, berbagai komplikasi di kemudian hari dapat dihindari dengan lebih optimal.