Sukses

Pengertian Hiperplasia Endometrium

Endometrium merupakan lapisan terdalam dari rahim (uterus). Dalam keadaan normal, ketebalan endometrium berubah-ubah sesuai dengan siklus haid. Menjelang masa subur, karena pengaruh hormon estrogen, lapisan endometrium mulai tumbuh dan menebal.

Setelah sel telur dikeluarkan pada masa subur, oleh pengaruh hormon progesteron, endometrium dipersiapkan untuk menjadi tempat melekatnya janin. Jika kehamilan tak terjadi, endometrium akan meluruh dan terjadilah haid. Begitu seterusnya siklus ini berulang setiap 21-35 hari sekali.

Pada keadaan hiperplasia endometrium, lapisan terdalam dari rahim tersebut berada dalam keadaan terlalu tebal. Kondisi ini dapat berpotensi menjadi kanker endometrium di kemudian hari.

Terdapat dua jenis hiperplasia endometrium, yaitu:

  • Hiperplasia endometrium benigna

Pada jenis ini, sel-sel endometrium ada dalam bentuk yang normal. Tidak didapatkan ada mutasi sel sama sekali.

  • Neoplasia endometrioid

Jenis ini terjadi akibat adanya genetika yang tidak normal, menyebabkan sel endometrium berbentuk tidak normal dan cenderung berubah menjadi sel ganas.

Penyebab Hiperplasia Endometrium

Hiperplasia endometrium umumnya terjadi karena hormon estrogen yang terlalu tinggi di dalam tubuh. Akibat estrogen yang terus menerus berada dalam keadaan tinggi, sel-sel yang menyusun endometrium semakin tebal dan banyak, dan menjadi berbentuk tidak normal. Saat itulah hiperplasia endometrium terjadi. Dan bila pertumbuhan sel endometrium tersebut berlangsung terus dan tak terkendali, lama kelamaan hiperplasia akan berubah menjadi kanker endometrium.

Penyakit ini pada umumnya terjadi setelah menopause, saat masa subur sudah tidak terjadi dan progesteron berada dalam kadar yang rendah. Namun tak hanya itu. Hiperplasia endometrium juga bisa terjadi pada orang yang belum menopause, namun mengonsumsi obat yang mengandung estrogen dosis tinggi, orang yang mengalami sindrom ovarium polikistik, atau obesitas.

Hiperplasia endometrium rentan dialami oleh perempuan dengan kondisi berikut ini:

  • Berusia 35 tahun ke atas
  • Tidak pernah hamil atau mengalami infertilitas
  • Usia mulai menopause di atas 50 tahun
  • Mulai haid pada usia yang sangat muda
  • Mengalami diabetes melitus
  • Mengalami sindrom ovarium polikistik
  • Obesitas
  • Merokok
  • Riwayat kanker ovarium, kanker usus besar, atau kanker endometrium dalam keluarga

Diagnosis Hiperplasia Endometrium

Pada tahap awal, dokter akan melakukan wawancara menyeluruh, terutama terkait siklus haid selama enam bulan terakhir, dan akan melakukan pemeriksaan fisik. Jika diperlukan, pemeriksaan ke dalam vagina dan rahim kadang dilakukan.
Setelah itu, pemeriksaan radiologis berupa ultrasonografi (USG) perlu dilakukan. Umumnya USG yang dilakukan adalah USG transvaginal. Pada jenis USG ini, probe USG dimasukkan melalui vagina. Melalui pemeriksaan ini, dokter akan mengukur ketebalan endometrium.

Jika endometrium terlalu tebal disertai dengan kecurigaan adanya kanker, maka pemeriksaan akan dilanjutkan dengan biopsi endometrium. Pada prosedur ini akan dilakukan tindakan mengambil sampel jaringan endometrium dan memeriksanya di bawah mikroskop.

Gejala Hiperplasia Endometrium

Gejala utama dari hiperplasia endometrium adalah adanya perdarahan dari rahim yang abnormal, bisa berupa:

  • Darah haid yang jauh lebih banyak dari yang biasanya dialami
  • Haid berkepanjangan (lebih dari 10 hari)
  • Jarak antara haid pertama bulan ini dengan haid pertama di bulan berikutnya kurang dari 21 hari
  • Sudah menopause, namun mengalami perdarahan dari vagina

Pengobatan Hiperplasia Endometrium

Kondisi hiperplasia endometrium harus diobati oleh dokter ahli kandungan. Terdapat beberapa jenis pengobatan hiperplasia endometrium. Namun yang paling sering diberikan adalah preparat progestin. Obat ini bisa diberikan dalam bentuk tablet yang diminum, suntikan, atau berupa krim vagina.

Pengobatan lain yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan tindakan kuretase, dengan cara ‘mengerok’ jaringan endometrium agar ketebalannya berkurang. Tindakan ini dapat dilakukan bersamaan dengan biopsi.

Jika hiperplasia endometrium diduga mengarah ke kanker, maka tindakan agresif berupa operasi pengangkatan rahim (histerektomi) bisa dilakukan. Hal ini terutama dipertimbangkan untuk dilakukan pada penderita hiperplasia endometrium yang sudah tak berencana memiliki anak.

Pencegahan Hiperplasia Endometrium

Untuk mengurangi risiko hiperplasia endometrium, maka berikut ini hal yang dapat dilakukan:

  • Berkonsultasi dan kontrol rutin ke dokter jika perlu mengonsumsi obat yang mengandung estrogen
  • Menjaga berat badan ideal
  • Jika memiliki kelebihan berat badan atau obesitas, lakukan diet dan aktivitas fisik yang teratur untuk menurunkan berat badan