Sukses

Pengertian Glossoptosis

Glossoptosis merupakan pembentukan abnormal lidah, yaitu suatu kondisi ketika posisi lidah ada di belakang dan juga mudah jatuh ke belakang. Hal ini pula yang menyebabkan lidah bayi jatuh ke belakang ke arah tenggorokan. Kondisi ini dapat menutup saluran pernapasan dan membuat penderita sulit untuk bernapas.

Penderita umumnya akan mengalami kesulitan dalam mengisap atau menelan dengan baik. Bila dibiarkan berlama-lama tanpa adanya penanganan, kondisi ini dapat mengancam jiwa.

Penyebab Glossoptosis

Glossoptosis sering dikaitkan dengan Pierre Robin Syndrome. Pada sindrom ini rahang bawah bayi terbentuk dengan proses yang lambat di dalam rahim. Akibatnya bentuk rahang bawah berukuran kecil atau yang disebut juga dengan micrognathia dan celah langit-langit terbuka atau disebut cleft palate.

Sampai saat ini penyebab pierre robin syndrom belum diketahui secara pasti. Namun, umumnya kondisi ini diwariskan dari gen yang dibawa oleh kedua orang tua pasien. Sindrom ini dapat terjadi baik pada bayi perempuan maupun laki-laki.

Gejala Glossoptosis

Terdapat beberapa tanda glossoptosis. Salah satunya adalah terjadi perubahan fisik terutama anatomi rongga mulut. Rahang bawah (mandibular) memiliki ciri khas yaitu ukuran yang pendek dan terletak ke arah belakang, posisi lidah yang terletak ke arah belakang serta terdapat celah pada langit-langit mulut sehingga berbentuk seperti huruf “U” atau cleft palate.

Mereka dengan sindrom ini bisa mengalami gangguan pernapasan yang umumnya terjadi pada malam hari, yang biasa disebut dengan obstructive sleep apnea. Ini merupakan gangguan tidur yang ditandai dengan adanya sesak napas atau suara mendengkur karena jalan napas yang tersumbat akibat lidah yang jatuh ke belakang.

Selain itu, bisa terjadi kesulitan makan dan minum karena anatomi rongga mulut yang abnormal. Hal ini dapat menyebabkan aspirasi atau tersedak.

Tidak hanya itu, terdapat juga gejala sistemik yang mungkin dapat ditemukan, seperti:

  • Gejala pada mata: bisa berupa hipermetropi (rabun dekat), myopia (rabun jauh), astigmatisma (silindris), sclerosis kornea, dan penyempitan saluran air mata.
  • Kelainan jantung bawaan: bisa berupa murmur ringan atau stenosis pulmoner.
  • Kelainan muskuloskeletal: yaitu kelainan memiliki jari yang lebih dari lima pada satu tangan (polidaktyly), atau memiliki jari yang kurang dari lima pada satu tangan (oligodactyly), jari kelingking yang bengkok, gangguan pada tulang belakang, seperti tulang belakang berbentuk seperti huruf “S” dan bungkuk.
  • Kelainan saraf.
  • Kelainan traktus urinarius.

Diagnosis Glossoptosis

Dokter bisa menentukan diagnosis glossoptosis melalui pemeriksaan fisik langsung. Selain itu dokter akan melakukan pengecekan seputar gejala yang dialami untuk menentukan kepastian sindrom tersebut. Sindrom ini juga bisa diketahui lewat pemeriksaan USG pada saat pemeriksaan kehamilan rutin.

Pengobatan Glossoptosis

Penanganan yang dilakukan pada glossoptosis bergantung pada tingkat keparahan. Hal ini dapat dilakukan melalui observasi dan pemantauan lebih lanjut. Pada beberapa kasus, seiring pertumbuhan penderita, gangguan pernapasan dapat hilang dengan sendirinya tanpa tindakan bedah.

Namun, untuk mengatasi masalah gangguan pernapasan, anak bisa di tidurkan secara tertelungkup. Umumnya cara ini cukup membantu. Jika tidak efektif, dokter bisa melakukan teknik bantu dengan cara penempatan jalan napas melalui mulut, masker laring, atau stent nasofaring.

Sedangkan gangguan makan atau menelan umumnya diatasi dengan cara pemberian makan atau menyusui dalam posisi tegak, jika masih dalam masa menyusui ASI, modifikasi botol dan dot, penggunaan nasogastrik atau orgastric feeding tube. dan penempatan gastronomi.

Sementara itu, tindakan bedah dapat dilakukan jika penderita anak-anak memiliki rahang bawah (mandibula) berukuran kecil dan pendek, sehingga ia mengalami gangguan pernapasan yang parah dan kegagalan pertumbuhan. Tindakan pembedahan pada langit-langit mulut (cleft palate) umumnya dapat dilakukan pada anak yang sudah berumur 12–18 bulan.

Pencegahan Glossoptosis

Belum ada cara yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya glossoptosis atau pierre robin syndrome. Namun sindrom ini dapat dilihat semenjak bayi masih di dalam kandungan melalui pemeriksaan ultrasonografi.