Sukses

Pengertian Cacing Kremi

Cacing kremi adalah cacing jenis nematode berukuran 2–13 mm yang dapat menginfeksi saluran pencernaan manusia. Cacing ini ditemukan pada sekum (kantong serupa tabung pada rongga perut bawah), apendiks (umbai cacing atau usus buntu), dan kolon asendens (usus besar) dalam sistem pencernaan.

Nama ilmiah cacing ini adalah Enterobius vermicularis.

Penyebab Cacing Kremi

Infeksi cacing kremi disebabkan oleh transmisi atau perpindahan telur cacing melalui rute fekal-oral atau melalui kotoran maupun lewat mulut. Perpindahan bisa tegrjadi baik secara langsung maupun tidak langsung. Misalnya melalui tangan yang terkontaminasi, obyek seperti baju yang kotor, mainan, seprai, dan sebagainya.

Diagnosis Cacing Kremi

Gangguan cacing kremi bisa diketahui lewat pemeriksaan fisik dan beberapa tes, seperti:

  • ditemukannya cacing dewasa pada area anus, 2–3 jam setelah penderita tertidur.
  • ditemukannya telur cacing pada pemeriksaan mikroskopis. Sampel didapat dengan menempelkan selotip transparan pada area anus segera setelah penderita bangun di pagi hari. Pemeriksaan ini dapat dilakukan selama tiga hari berturut-turut dan sebelum penderita mandi.
  • memeriksa sampel yang diambil dari bawah kuku (sebelum mencuci tangan) secara mikroskopis untuk menemukan telur cacing.

Cacing Kremi

Gejala Cacing Kremi

Ada beberapa gejala yang mungkin dialami penderita cacing kremi, seperti:

  • gatal atau nyeri seperti ditusuk-tusuk pada area anus, yang umumnya terjadi pada malam hari atau subuh
  • kesulitan tidur
  • pada wanita cacing dapat bergerak ke vagina dan menyebabkan gatal

Pengobatan Cacing Kremi

Gangguan cacing kremi bisa diatasi dengan terapi obat-obatan oral anti-cacing. Biasanya meliputi jenis obat mebendazole, albendazole, atau pirantel pamoat yang diketahui efektif membasmi cacing kremi.

Pencegahan Cacing Kremi

Anda bisa mencegah penularan cacing kremi dengan melakukan langkah mudah sebagai berikut:

  • rutin mencuci tangan, terutama sebelum makan
  • menghindari kebiasaan menggigit jari atau menghisap jari
  • hindari menggaruk area anus
  • selalu mencuci seprai, pakaian, atau mainan dengan deterjen