Sukses

Pengertian

Attention Deficit Disorder (ADD) adalah suatu bentuk kelainan yang membuat seseorang sulit mengontrol tindakannya dan/atau mengalami kesulitan untuk fokus pada sesuatu atau sulit memperhatikan suatu kondisi atau wacana.

ADD juga dikenal dengan istilah lain, yaitu Attention Deficit atau Hyperactivity Disorder (ADHD). Istilah ini merupakan istilah resmi untuk menggambarkan gangguan ini. Kondisi ini biasanya dapat mulai disadari sejak masa kanak-kanak.

Penyakit Attention Deficit Disorder (Suzanne Tucker/Shutterstock)

Penyebab

Attention Deficit Disorder (ADD) muncul akibat adanya perbedaan respons kimiawi, struktural, dan jaringan pada otak. Sering kali, hal ini timbul akibat adanya permasalahan genetik.

Penelitian membuktikan adanya abnormalitas pada kerja neurotrasmiter otak pada penderita ADD, terutama dopamin dan norepinefrin. Neurotransmiter merupakan bagian otak yang berfungsi membantu komunikasi antar sel saraf dan mengaktivasi berbagai fungsi otak.

Studi menggunakan pencitraan membuktikan perbedaan antara aktivitas otak penderita ADD dengan mereka yang tidak menderita ADD. Penderita ADD ditemukan memiliki penurunan aktivitas otak, terutama pada area premotor cortex dan prefrontal cortex. Kedua area tersebut dianggap penting untuk aktivitas motorik dan kemampuan memberi perhatian. Ditemukan pula perbedaan pada struktur otak penderita ADD, misalnya pada volume otak, juga pada pemetaan gray dan white matter otak.

Selain itu, pada penderita ADD diperkirakan adanya pola jaringan yang buruk antar bagian otak dan juga terjadinya rute komunikasi yang berbeda dalam otak. Kelainan ini menyebabkan seorang dengan ADD sulit memberikan kinerja seperti orang tanpa ADD dan karena itu bisa jadi membutuhkan usaha lebih besar untuk terlibat dalam berbagai aktivitas normal sehari-hari.

Faktor genetik memiliki peran penting dalam munculnya ADD. Diperkirakan 40–60 % anak dari orang tua dengan ADD akan memiliki ADD pula. Studi menunjukkan beberapa profil gen yang sudah ditemukan memiliki kaitan dengan ADD, antara lain adalah gen DRD4, D2, dan DAT 1.

Diagnosis

Attention Deficit Disorder (ADD) merupakan diagnosis yang rumit dan membutuhkan bantuan seorang ahli untuk dapat menentukan kondisi ini. Misalnya dokter ahli psikiatri, psikolog, dan sebagainya.

Sering kali, diagnosis baru diberikan setelah observasi perilaku dalam beberapa kesempatan maupun situasi yang berbeda. Evaluasi yang diperlukan untuk menentukan ADD bisa berupa:

  • Mengumpulkan informasi seputar riwayat keluarga dan riwayat medis pasien.
  • Pemeriksaan fisik.
  • Wawancara dengan orang tua, anak, bahkan guru.
  • Pengisian kuesioner yang berhubungan dengan perilaku anak, oleh orang tua dan guru.
  • Observasi terhadap anak atau pasien.
  • Berbagai tes psikososial untuk menilai IQ, kemampuan sosial dan emosional, juga mendeteksi adanya serta jenis kesulitan belajar yang dialami.

Beberapa hal yang dapat dijadikan patokan dalam membuat diagnosis adalah:

  • Adanya gejala inatensi (tidak ada perhatian), hiperaktivitas, impulsif selama setidaknya enam bulan gejala tersebut berlangsung yang tidak sesuai dengan tingkat perkembangan seseorang.
  • Beberapa gejala yang menimbulkan gangguan harus muncul sebelum usia 7 tahun.
  • Gejala yang menyebabkan gangguan muncul pada dua atau lebih situasi berbeda (misalnya rumah dan sekolah).
  • Adanya bukti gangguan yang signifikan secara klinis dalam menjalankan fungsi sosial, akademik, atau pekerjaan.
  • Gejala tidak muncul saat ada gangguan Pervasive Development Disorder, Skizofrenia, atau gangguan psikotik lainnya dan bukan disebabkan oleh masalah mental lain.

Gejala

Terdapat beberapa grup besar gejala yang muncul pada seseorang dengan Attention Deficit Disorder (ADD).

1. Gejala inatensi, misalnya:

  • Sulit memperhatikan detail dan ceroboh.
  • Sulit fokus dalam jangka waktu panjang dalam mengerjakan tugas atau bermain.
  • Tampak tidak mendengarkan saat diajak berbicara.
  • Sulit memahami instruksi dan sulit menyelesaikan tugas.
  • Sulit mengorganisasi tugas.
  • Sering kali menghindari atau tidak menyukai tugas yang membutuhkan fokus berkepanjangan. Contohnya: tugas sekolah atau PR.
  • Sering kehilangan barang yang diperlukan untuk mengerjakan tugas.
  • Mudah teralihkan perhatiannya.
  • Mudah lupa.  

2. Gejala hiperaktivitas, misalnya:

  • Sering menggerakkan tangan dan kaki, serta tampak gelisah jika duduk.
  • Sering meninggalkan tempat duduk dalam kelas.
  • Tampak berlari atau memanjat secara berlebihan dan pada situasi yang kurang tepat.
  • Sulit bermain atau melakukan aktivitas secara hening.
  • Sering kali bicara secara berlebihan.

3. Gejala impulsif, misalnya:

  • Sering memberikan jawaban sebelum pertanyaan selesai.
  • Sulit menunggu untuk bergantian.
  • Sering menginterupsi orang lain.

Pengobatan

Penelitian membuktikan penanganan penderita Attention Deficit Disorder (ADD) dengan kombinasi obat-obatan dan terapi merupakan cara paling efektif. Obat yang diberikan sering kali berfungsi membantu aktivitas otak agar menjadi lebih normal.

Meski demikian pemberian obat perlu dimonitor oleh dokter. Obat yang diberikan misalnya adalah golongan psikostimulan. Pengobatan ini sebaiknya dikombinasikan dengan terapi, misalnya cognitive behavioral therapy. Adanya grup terapi atau support group dapat membantu masalah emosional yang dialami penderita ADD, misalnya rasa bersalah, stres, malu, dan sebagainya.

Pencegahan

Sejauh ini belum ada langkah pencegahan yang efektif untuk Attention Deficit Disorder (ADD). Rangkaian terapi dapat membantu pasien dan orang-orang di lingkungannya untuk mengendalikan perilaku dan mencegah pasien merasa tertekan dengan kondisi lingkungan yang dihadapinya.