Sukses

Pengertian

Atrofi vagina adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan keadaan peradangan, kering, dan penipisan dinding vagina. Keadaan ini dapat menimbulkan masalah pada vagina atau saluran kemih. Istilah lain yang digunakan untuk menggambarkan keadaan ini adalah atrofi vulvovaginal, atrofi urogenital, vaginitis atrofi.

Diperkirakan, kurang lebih 10–40 persen wanita post-menopause mengalami gejala atrofi vagina. Namun, hanya sekitar 20–25 persen dari mereka yang mencari pertolongan medis. Berbagai alasan membuat wanita malu mencari pertolongan untuk keadaan ini, antara lain rasa malu, merasa tabu secara kultur, takut tidak ada pengobatan, dan kekhawatiran mendiskusikan masalah intim dengan tenaga medis.

Penyebab

Atrofi vagina timbul karena penurunan hormon estrogen, yang menyebabkan vagina menjadi lebih kering, tipis, kurang elastis dan rapuh. Berbagai faktor yang dapat menyebabkan penurunan hormon estrogen adalah:

  • Mendekati dan setelah masa menopause
  • Saat setelah melahirkan dan menyusui
  • Konsumsi obat-obatan tertentu termasuk kontrasepsi tertentu, misalnya Tamoxifen, Danazol, Medroxyprogesterone, dan sebagainya
  • Setelah pembedahan yang mengambil kedua ovarium
  • Terapi radiasi untuk kanker ovarium atau kanker rahim
  • Efek samping dari pengobatan kanker payudara
  • Kelainan imun, misalnya pada diabetes atau Sjogren syndrome
  • Merokok
  • Wanita yang tidak pernah melahirkan
  • Berhenti melakukan hubungan intim

Diagnosis

Untuk menentukan diagnosis atrovi vangina perlu dilakukan evaluasi lengkap, yang dilakukan dengan:

  • Anamnesis atau wawancara medis mendetail: riwayat penyakit, kemungkinan penyebab, tanda dan gejala yang dirasakan.
  • Pemeriksaan fisik: vagina tampak lebih pendek dan sempit, kering pada permukaan dalam vagina, kemerahan dan bengkak pada permukaan dalam vagina, kurangnya elastisitas pada kulit di sekitar vulva, epitelium vagina tampak pucat mengkilap dan mulus, rambut pubis tampak jarang, pelvic organ prolapseI, dan lain-lain.
  • Pemeriksaan penunjang: pemeriksaan level hormon, Pap smear, pemeriksaan pH vagina, dan sebagainya.

Gejala

Berbagai keluhan yang dapat dirasakan wanita dengan atrofi vagina, antara lain:

  • Rasa kering, gatal, atau terbakar pada kelamin
  • Dispareunia (nyeri saat berhubungan), kurangnya libido, kurangnya lubrikasi saat berhubungan
  • Flek setelah berhubungan intim atau keluar flek atau spotting di luar jadwal haid
  • Gatal pada vulva
  • Keluar cairan abnormal, seperti cairan berwarna kekuningan yang berbau atau keputihan disertai rasa terbakar
  • Disuria (nyeri saat berkemih)
  • Hematuria (berkemih disertai keluarnya darah)
  • Sering berkemih
  • Infeksi saluran kemih (ISK)
  • Inkontinensia urine

Sebaiknya anda melakukan konsultasi lebih lanjut dengan dokter, terutama apabila timbul berbagai gejala berikut:

  • Gejala dirasakan berat dan mengganggu kehidupan sehari-hari
  • Nyeri dirasakan saat berhubungan, dan tidak membaik dengan penggunaan lubrikan
  • Terdapat perdarahan, rasa terbakar, atau keluar cairan abnormal dari vagina
  • Adanya gejala seperti keringat malam atau hot flushes (timbul rasa panas dan berkeringat)

Pengobatan

Pengobatan atrofi vagina bertujuan untuk meredakan gejala yang mengganggu, mengembalikan atau meminimalkan perubahan fisiologik yang sudah terjadi, dan memperbaiki kualitas hidup penderita.

Beberapa metode pengobatan dapat dipertimbangkan, antara lain:

  • Berhenti merokok
  • Tetap aktif secara seksual (berhubungan intim)
  • Menghindari penggunaan produk (sabun, bedak, deodoran, dan sebagainya) dengan pewangi
  • Penggunaan losion, minyak, dan lubrikan untuk melembapkan vagina dan mengurangi gejala akibat keringnya vagina
  • Penggunaan dilator, alat khusus dengan berbagai ukuran yang dimasukkan dalam vagina sebelum berhubungan secara bertahap dari kecil hingga ukuran besar. Berfungsi untuk melebarkan vagina bertahap sesuai ukuran penis, sehingga menghindari nyeri saat berhubungan
  • Terapi hormonal, terdiri dari:
    • Terapi estrogen vaginal (lokal), dapat berupa krim, cincin, pil vagina. Terapi ini hanya mengatasi gejala berhubungan dengan vagina dan tidak terserap ke seluruh tubuh
    • Terapi hormonal sistemik (dikenal juga dengan hormone replacement therapy), umumnya dengan konsumsi hormon estrogen yang akan memberikan efek ke seluruh tubuh
    • Ospemifene, obat oral non-estrogen