Sukses

Pengertian

Alergi telur adalah jenis alergi yang sangat banyak dialami anak-anak dan menduduki peringkat kedua setelah alergi susu sapi. Gejala alergi yang dialami dapat berupa gejala ringan seperti gatal-gatal pada kulit hingga gejala berat seperti sesak napas dan hilang kesadaran yang mengancam nyawa. Walau demikian, sebagian besar kasus alergi telur pada anak akan berkurang dan hilang sebelum sang anak beranjak dewasa.

Beberapa anak berisiko mengalami alergi telur dibandingkan dengan anak lainnya. Faktor risiko tersebut meliputi:

  • Adanya dermatitis atopi atau gatal-gatal pada kulit akibat reaksi alergi
  • Riwayat asma, alergi makanan atau eksim di keluarga, terutama orang tua dan saudara kandung
  • Usia anak-anak.

Diagnosis

Diagnosis alergi telur dapat dipertimbangkan dengan adanya keluhan setelah mengonsumsi telur dan bahan makanan yang mengandung telur. Untuk memastikan diagnosisnya, diperlukan serangkaian pemeriksaan tambahan, seperti:

  • Skin prick test atau uji cukit kuli

Uji cukit kulit dilakukan dengan menyuntikkan sejumlah kecil bahan yang berisi protein telur ke lapisan kulit. Bila hasil suntikan ini berubah kemerahan dan bengkak, uji cukit diinterpretasikan positif alergi telur.

  • Pemeriksaan darah

Pemeriksaan darah dilakukan untuk memeriksa kadar antibodi spesifik terhadap protein dalam telur.

  • Uji eliminasi dan provokasi

Uji eliminasi dilakukan dengan mencoret telur dan berbagai makanan yang mengandung telur dari menu sehari-hari. Bila keluhan mereda dan gejala tidak lagi muncul, kemungkinan orang tersebut memang memiliki alergi terhadap telur.

Jika gejala yang dialami tidak terlalu berat, uji provokasi –memasukkan kembali telur ke dalam menu harian– dapat dicoba. Apabila gejala muncul kembali, maka orang tersebut positif memiliki alergi. Akan tetapi uji provokasi ini tidak dianjurkan dilakukan pada orang yang manifestasi alerginya berat seperti sesak napas.

Penyebab

Pada dasarnya, reaksi alergi muncul sebagai respons tubuh terhadap zat tertentu (alergen). Pada alergi telur, alergen yang dimaksud dapat berupa putih telur, kuning telur atau bahkan keseluruhannya.

Walau kasus terbanyak yang terjadi adalah alergi putih telur, seseorang yang memiliki alergi umumnya tetap dianjurkan untuk menghindari keseluruhan bagian telur beserta produk olahannya yang mengandung telur.

Gejala

Gejala alergi telur dapat muncul segera atau beberapa jam setelah seseorang mengonsumsi telur maupun bahan makanan yang mengandung komponen telur. Tanda yang dapat terjadi di antaranya adalah:

  • Iritasi kulit: merah, bengkak atau gatal
  • Bibir pucat atau bengkak
  • Hidung berair dan bersin-bersin
  • Gangguan pencernaan seperti kram perut, mual muntah
  • Batuk-batuk, sesak napas atau asma

Apabila seseorang mengalami gejala untuk pertama kalinya setelah mengonsumsi telur, ia harus berhati-hati. Tidak menutup kemungkinan gejala yang akan terjadi apabila ia mengonsumsi telur kembali dapat lebih berat hingga mengancam nyawa. Reaksi alergi yang terjadi berat dan berpotensi mengancam nyawa tersebut dinamakan reaksi anafilaksis.

Tanda seseorang mengalami reaksi anafilaksis seperti berikut ini:

  • Sesak napas tiba- tiba
  • Nyeri perut hebat
  • Detak jantung sangat cepat
  • Kehilangan kesadaran akibat tekanan darah yang turun drastis

Reaksi anafilaksis harus ditangani dengan cepat dengan obat epinefrin atau adrenalin untuk menghindari akibat fatalnya.

Pengobatan

Pengobatan utama alergi telur adalah menghindari konsumsi telur dan berbagai bahan makanan yang berpotensi mengandung telur. Bila reaksi alergi sudah terlanjur terjadi, berbagai pengobatan yang dapat diberikan meliputi:

  • Antihistamin untuk menekan respons alergi tubuh
  • Suntikan epinefrin bila terjadi gejala yang berat seperti anafilaksis

Komplikasi

Reaksi anefilaksis yang mengancam nyawa adalah komplikasi terberat dari alergi telur.

Pencegahan

Untuk mencegah terjadinya reaksi alergi pada seseorang yang memiliki alergi telur, menghindari telur dan seluruh produk yang mengandung telur adalah solusinya.

Berikut beberapa upaya lainnya yang dapat dilakukan:

  • Pastikan membaca label makanan sebelum membeli dan yakin makanan tersebut bebas kandungan telur
  • Ketahui dan hindari bahan makanan yang juga mengandung komponen protein telur, yaitu: albumin, globulin, lecithin, livetin, lysozyme, vitellin, seluruh bahan makanan yang bersuku kata "ova" or "ovo," seperti ovalbumin or ovoglobulin
  • Hati- hati ketika berencana vaksinasi. Beberapa vaksin seperti Measles Mumps Rubella (MMR), influenza (flu), yellow fever dan Q fever vaccines umumnya mengandung sejumlah protein telur. Beberapa orang mungkin diperbolehkan dokter untuk tetap mendapat vaksin ini, namun sebagian lain yang memiliki kecenderungan alergi berat sebaiknya menghindari jenis vaksin tersebut.