Sukses

Pengertian Zenclovir

Zenclovir adalah sediaan krim dengan kandungan zat aktif Aciclovir yang digunakan untuk mengatasi infeksi kulit akibat virus herpes simpleks. Zenclovir bekerja dengan cara mengganggu sintesis DNA virus, sehingga menghambat pertumbuhan virus. Zenclovir termasuk dalam kelas antiinfeksi, antivirus yang digunakan dalam pengobatan infeksi mata.

Keterangan Zenclovir

  • Golongan: Obat Keras
  • Kelas Terapi: Antivirus Topikal
  • Kandungan: Aciclovir 50 mg/gram
  • Bentuk: Krim
  • Satuan penjualan: Tube
  • Kemasan: Box, 1 Tube @5 gram
  • Farmasi: Bufa Aneka/ Pabrik Pharmasi

Kegunaan Zenclovir

Zenclovir digunakan untuk mengatasi infeksi kulit yang disebabkan oleh virus herpes simpleks.

Dosis & Cara Penggunaan Zenclovir

Zenclovir termasuk dalam golongan Obat Keras, maka dari itu penggunaan obat ini harus dengan anjuran resep dokter.

Oleskan Zenclovir krim tipis-tipis pada kulit yang terinfeksi, sebanyak 5 -6 kali sehari selama 5-10 hari.

Cara Penyimpanan
Simpan pada suhu di bawah 25 derajat Celcius.

Efek Samping Zenclovir

Efek samping yang mungkin terjadi selama penggunaan Zenclovir, antara lain:

  • Sensasi menyengat dan membakar pada kulit
  • Ruam, dan kulit kemerahan
  • Gatal

Kontraindikasi
Hindari penggunaan Zenclovir pada pasien yang hipersensitif terhadap asiklovir dan valasiklovir.

Interaksi Obat
Berikut adalah beberapa Interaksi obat yang umumnya terjadi saat penggunaan Zenclovir:

  • Probenecid, cimetidine, dan mycophenolate mofetil dapat meningkatkan konsentrasi asiklovir dalam plasma.
  • Peningkatan efek nefrotoksik jika diberikan bersamaan dengan obat yang memengaruhi fisiologi ginjal (misalnya: Ciclosporin, tacrolimus).

Kategori Kehamilan
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengategorikan Zenclovir ke dalam Kategori B:
Studi pada reproduksi hewan tidak menunjukkan risiko janin, tetapi tidak ada studi terkontrol pada wanita hamil atau studi reproduksi hewan telah menunjukkan efek buruk (selain penurunan kesuburan) yang tidak dikonfirmasi dalam studi terkontrol pada wanita hamil trimester pertama (dan tidak ada bukti risiko pada trimester berikutnya).

Artikel
    Penyakit Terkait